Manusia dan Kebebasan Semu
![]() |
Photo by Luca Upper on Unsplash |
Salah satu keistimewaan manusia sebagai makhluk dengan sistem kesadaran yang paling canggih, adalah kemampuannya untuk merubah alam semesta dan ikut campur di dalamnya. Ia mengubah lingkungan untuk kehidupannya, beternak dan bertani untuk kelangsungan konsumsinya, dan berseni untuk terhubung dengan alam semesta. Berbagai kompleksitas muncul di sekitarnya, dan manusia bebas melakukan apa saja.
Namun, yang perlu diperhatikan dalam kebebasan itu, adalah kemampuan paling penting manusia, yaitu memilih, menentukan pilihan dan bertanggung jawab atas resiko dari pilihan yang ia ambil. Manusia butuh waktu seumur hidup untuk mempelajari hal itu dan kadang kala lebih banyak mengandalkan keberuntungan agar pilihan yang ia ambil terasa benar. Untuk itu, kemampuannya memilih menjadi penting. Keberadaan pilihan membuat manusia terkungkung dalam batas-batas kebebasan yang negatif.
Namun, meskipun kebebasan itu semu, kemampuan menentukan pilihan adalah suatu bentuk eksistensi diri. Dari sana, manusia membentuk dirinya, menunjukkan apa yang ia pikirkan dan berdoa atas apa yang ia harapkan. Setiap manusia memiliki pilihannya masing-masing, dan dengan aneka ragam pilihan ini mereka membedakan satu sama lain. Setiap lulusan SMA mengharapkan profesi tertentu dan dengan begitu ia masuk dalam Prodi Antropologi. Setiap mahasiswa antropologi tertarik pada isu-isu tertentu yang sudah diperkenalkan pada semester-semester awal, untuk itu mereka memilih mata kuliah pilihan yang berbeda. Setiap lulusan antropologi itu kemudian mengambil profesi yang berbeda, untuk menunjukkan jati diri dan kemampuannya yang paling bagus.
Pilihan, dalam kasus ini, menjadikan manusia sebagai dirinya yang paling optimal sekaligus membentuk identitasnya hingga yang paling dalam. Tanpa pilihan, kebebasan semu yang mengelilinginya menjadi tak bermakna. Kebebasan itu tak memiliki arti dan akan semakin menjerumuskannya.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?