Memahami yang Tak Terperi: National Geographic September 2019
Konon, dunia ini penuh dengan misteri. Ada hal-hal yang bersembunyi terlalu dalam, ada sosok-sosok tak kasat mata mengawasi, dan Tuhan yang samar-samar. Dunia ini penuh misteri tapi kita tak bersembunyi. Leluhur manusia keluar dari gua, melihat ayat-ayat alam, dan mempertanyakannya: mengapa seperti ini? mengapa seperti itu? Maka, satu demi satu misteri itu terkuak. Sedikit demi sedikit manusia memanfaatkan pengetahuannya. Apakah masih ada lagi?
Masih. Ribuan misteri itu masih menunggu untuk dipecahkan, lalu dikoleksi dalam perpustakaan ketakutan.
Salah satunya terjadi di Peru. Kristin Romey mengungkap bagaimana sebuah tengkorak anak kecil ditemukan bersama 268 mayat anak kecil lainnya ditemukan dalam dua kompleks kuburan massal. Tak hanya itu, bersama mereka juga ditemukan tulang-belulang llama dengan jumlah yang kurang lebih sama. Ada apa ini? Arkeolog lokal mencoba mengungkap sebuah ritual pengurbanan anak-anak Suku Chimu, yang mungkin saja dilakukan demi mengatasi El Nino. Hingga saat ini, motif utama itu belum ditemukan.
"Kau mengurbankan masa depan dan semua potensinya. Semua energi serta usaha demi kelanjutan keluarga, kelanjutan masyarakat di masa depan -kau merenggut semua itu saat seorang anak kau renggut." -Jane Eva Baxer, antropolog DePaul UniversityMisteri lain yang perlu diungkap adalah kebudayaan. Jacqueline Charles melaporkan dari penulusurannya terhadap festival-festival di benua Amerika, dari utara hingga selatan, dari pulau hingga kepulauan. Masyarakat menampilkan kostum-kostum yang beragam; dengan perpaduan budaya kolonial dan budaya asli yang mulai memudar. Penderitaan yang khas ala masyarakat dunia ketiga muncul di sini: mereka meniru wajah-wajah Barat dengan wajah Iblis paling Buruk.
Masih dari benua Amerika, ada laporan tentang Puma Patagonia. Elizabeth Royte menulis sebuah permasalahan mendasar masyarakat pariwisata: meningkatnya jumlah puma memang menaikkan jumlah wisatawan, tapi membuat rugi para peternak domba lokal. Ada apa ini? Bagaimana menyeimbangkan parawisata yang menguntungkan negara dan peternakan masyarakat setempat? Hal itulah yang coba dilakukan pemerintah bekerjasama dengan peternak lokal.
Beralih ke Utara, Patricia Edmonds melaporkan peningkatan pernikahan antar-ras di United States. Tak hanya dari kulit putih mayoritas, tetapi juga antar-ras minoritas: Indian Amerika, Asia, Huspanik, Kulit Hitam, dan multiras lainnya. Pernikahan antar-ras itu meningkat sejak setengah abad terakhir, sejak sebuah kasus pernikahan antar-ras yang sempat dilarang. Kasus itu kemudian dikenal sebagai Loving vs. Virginia. Semakin diterimanya pernikahan antar-ras membuat keadaan di mana tidak ada lagi kelompok yang terpinggirkan. An Another American Dream.
Misteri terakhir yang perlu dipecahkan adalah keamanan persalinan. Rachel Jones menulis tentang Amerika, negara adidaya, tidak mampu menurunkan angka kematian akibat persalinan. Dan mayoritas, angka yang muncul adalah pasien kulit hitam. Ini menjadi sebuah anomali: kasus rasialisme menjadi motif yang sering ditemukan, mengingat negeri ini tak lagi terdistraksi dalam hitam-putih. Lalu ada apa? Mengapa angka kematian akibat persalinan di Amerika sama dengan Serbia -sebagai sesama anggota 46 negara maju?
Di mana peran kita? Manusia adalah tokoh utama dalam panggung ini. Ia -bukan, KITA!- memegang peran penting dalam menyeimbangkan ekosistem. Ini adalah dunia kita. Tanpa keseimbangan, kita hanya akan terjatuh dalam lubang yang sama-sama kita lihat di depan mata: Kepunahan. Kita menyimpan tulang-belulang mereka dalam museum, mencatat nama-nama mereka dalam buku, memperkenalkan mereka kepada anak-cucu. Tapi mereka sudah punah, dan tulang-belulang mereka dipamerkan agar kejadian yang sama tidak terjaid pada mereka.
Misteri-misteri di seluruh dunia menyadarkan kita dan kita harus sadar akan peringatan-peringatan di baliknya.

Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?