Lagi-Lagi tentang Hilang Ingatan
Karena hari ini adalah tanggal ganjil, maka izinkan saya untuk menulis episode lain dari rubrik 'Kosong', yang berisi kehidupan saya-sehari-hari, meskipun tidak ada satupun kejadian khusus atau peristiwa yang spesial. Hari ini saya sekeluarga bangun sekitar jam lima kurang, dan akhirnya tidak bisa sahur. Untungnya, malam sebelumnya saya dan Abi mengantar salah seorang pakde untuk pergi ke pengobatan alternatif di Pasuruan. Pulang dari sana, kami membawa banyak makanan dan memakannya setelah sampai di rumah. Tapi tetap saja. Karena ga diniatkan untuk sahur, saya masih bisa merasakan rasa lapar yang luar biasa. Saya sampai kesulitan konsentrasi di kelas, baik pagi maupun siang.
Blog ini, meskipun tidak saya bagikan di media sosial, masih ada pengunjungnya, lho. Tapi saya khawatir mereka pengunjung liar atau website lain yang mencantumkan tautan blog ini tanpa sepengetahuan. Oleh karena itulah, saya mendapat pengunjung (bukan pembaca) rutin dari Jerman, Yaman, dan Rusia. Kalau Mesir, saya punya kenalan yang sama-sama aktif di blogger, dan kalau senggang saya juga membaca tulisannya berulang-ulang. Teman-teman blogger dari antropologi ga aktif lagi, dan akhirnya saya ga punya bacaan santai yang lain.
Oleh karena itu, meskipun pengunjungnya stabil, pembaca blog ini sedikit. Hanya ada satu pembaca untuk setiap post dan kadangkala tidak ada sama sekali. Apakah saya terdengar sedih? Apakah saya terdengar menyedihkan? Wkwkw. Saya tidak berusaha untuk seperti itu. Saya masih ingin tahu apakah orang-orang masih mengunjungi blog ini meskipun tidak saya bagikan di media sosial. Saya juga merasa tenang meskipun hanya ada sedikit pembaca. Untuk itu, saya jadi pengen menulis hal-hal yang lebih serius, sebagaimana yang saya lakukan pada masa lalu.
*****
Unexpected Business yang dibintangi oleh Jo In Sung dan Cha Tae Hyun memasuki episode kesepuluh. Di sana, seorang perempuan yang merupakan tamu rutin datang bersama seorang anaknya. Sebelumnya, sebelum acara itu dimulai, ia lebih dulu aktif di toko yang kini dikelola oleh kedua artis untuk sementara. Ia membantu pemilik aslinya, menggantikan nenek tua yang tinggal sendiri mengurus tokonya. Oleh karena itu, ketika wanita itu datang, In Sung dan Tae Hyun banyak bertanya tentang toko, dan memanggilnya penasihat.
Namun, ada cerita lain yang baru terungkap dari wanita itu. Ia pernah mengalami kecelakaan tragis hingga akhirnya kehilangan semua ingatan yang ia miliki. Setelah bangun dari kecelakaan itu, ia mengaku belum menikah dan tidak punya anak. Tentu saja itu menyakitkan, apalagi untuk anak ketiganya (yang datang juga ke toko) yang saat itu berusia sepuluh tahun. Ia dan ketiga saudaranya akhirnya bertekad untuk membantu ibunya untuk mengingat kembali kenangan-kenangan indah yang mereka miliki bersama.
Sampai detik ini, rencana itu tak berhasil. Tak ada satupun memori yang kembali pada ingatan ibunya. Namun, ibunya punya kebiasaan bagus selama hidup, yaitu menulis diary tentang parenting. Ia sendiri ibu dari tiga putra dan seorang putri, dan akhirnya ia berusaha untuk menerima semua ingatan itu dari buku yang ia tulis sendiri. Ibu itu memang tidak mendapatkan kembali ingatan yang ia punya, namun secara bijak memilih untuk menerima ingatan yang pernah ia tulis. Alih-alih memaksa keadaan agar sesuai dengan keinginannya, ia lebih banyak mencoba menerima kenyataan dan belajar darinya.
Tentu saja itu bukan suatu hal yang dapat kita dengarkan sehari-hari. Kejadian di mana seseorang mengalami kecelakaan dan akhirnya kehilangan ingatan hanya kita temukan pada film atau karya fiksi lainnya. Ia tidak pernah terdengar di dunia nyata meskipun kita tahu peristiwa itu benar-benar ada. Hingga akhirnya ibu itu bercerita tentang pengalamannya dan baik Tae Hyun atau In Sung terkejut. "Anda sudah sering ke sini. Kalau Anda tidak bercerita, kita sama sekali tidak tahu tentang kejadian itu."
Saya sendiri pernah menulis tentang hal ini, berharap nantinya kalau hal itu terjadi, seseorang menbawakan blog ini pada saya. Film terakhir yang saya tonton tentang hilang ingatan adalah 6 from High & Low, dan di sana, sebagaimana kasus ibu empat anak di atas, memiliki kemiripan yang serupa. Mereka dikelilingi oleh orang-orang baik yang masih menjaga mereka hingga akhirnya menjalani kehidupan yang normal. Coba bayangkan seorang miskin papa dan tak punya keluarga mengalami hal ini, maka ia akan menjadi orang gila. Berkeliaran di jalan sembari menunggu keberuntungan agar ingatannya kembali. Ia tak punya petunjuk apa pun dan tak ada yang menuntunnya kembali.
Sejujurnya, saya masih sulit untuk membayangkan bagaimana putus asanya orang-orang yang mengalami hal itu. Namun, saya tidak berharap mengalaminya. Saya hanya tertarik pada emosi, dan sebagaimana antropolog lainnya, saya ingin bercerita tentang emosi terdalam manusia, agar kemudian kajian akademik tidak hanya berkutat pada angka-angka.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?