Kemalasan saya adalah bagian dari "repuesta"
![]() |
Photo by Sam Moqadam on Unsplash |
Dengan diterbitkannya tugas kuliah terbaru saya kemarin, dengan judul Manusia dan Kebebasan Semu, maka habislah sudah draf tulisan yang saya simpan untuk dipublikasikan secara teratur (meskipun ada pula yang terlewat). Oleh karena itu, saya harus mulai rutin menulis lagi, entah opini bebas atau tulisan Kosong seperti kali ini. Kalau film atau drama, saya menghabiskan banyak waktu untuk menontonnya, tapi tidak tertarik untuk mengulasnya kembali. Konten seperti itu tidak banyak pembacanya.
Saya juga sudah lama tidak menulis hal-hal serius selain tugas kuliah: saya tidak punya proyek mengirim opini ke media massa baik online maupun cetak. Pabrik puisi di kepala saya paksakan untuk berhenti beroperasi, karena kalau masih berjalan, maka yang muncul hanya pertanyaan-pertanyaan tak terjawab tentang kabar seseorang. Untuk cerita pendek, saya punya banyak skenario di kepala, hanya sulit sekali untuk kemudian menemukan alur atau konlik yang tepat. Untuk itu, saya masih kesulitan menulis karya fiksi. Doakan saja agar kedua hal itu bisa kembali.
Ngomongin kuliah.
Seharusnya saya punya draf dari mata kuliah Religi, Ritual dan Magi atau Antropologi Filsafat karena kedua mata kuliah itu punya rutinitas mengumpulkan tulisan singkat. Parahnya, punya saya sangat singkat hingga tidak bisa dibandingkan dengan teman-teman yang lain. Karena memang tidak ada ketentuan, maka saya melakukannya dengan semena-mena. Toh, pada akhirnya, saya masih bisa memahami apa yang didiskusikan di kelas. Saya tidak perlu menulis banyak hal kalau kemudian hanya berputar-putar pada topik yang sama.
Namun, minggu kemarin, saya dengan sengaja tidak mengerjakan kedua tugas itu. Ini alasannya.
Pak Hipo meminta kami membagi kelompok untuk presentasi. Saya mengajukan diri di awal agar kemudian bisa bersantai dan tidak kerepotan kalau-kalau kebagian presentasi menjelang UAS nanti. Untuk itu, saya dan tiga orang teman menyiapkan tiga artikel dan mempresentasikannya dalam tema "religious change." Karena hanya dikasih topik itu, maka kami dengan bebas memilih artikel yang kami sukai. Saya sendiri membaca sebuah bab dari buku tentang imigran Peru di Korea Selatan yang banyak melakukan konversi agama: dari Katolik ke Protestan. Kajian lengkapnya ada dalam buku itu, namun yang ingin saya katakan di sini adalah bagaimana Pak Hipo merespon presentasi kami.
Sangat mengecewakan, sangat mengecewakan.
Pak Hipo memang tidak secara langsung mengkritik materi presentasi kami, namun terlihat sekali kalau beliau kecewa. "Apa yang dipresentasikan oleh Farid, Thasya, dan teman-teman ini menunjukkan religious change di permukaannya saja," begitu kata beliau. "Bagi saya, bukan suatu masalah penting jika seorang Katolik mengkonversi agamanya ke Protestan. Semua orang juga begitu. Begitu pula dengan perubahan metode dakwah dalam agama Islam atau tarekat tertentu."
Bagian yang perlu digarisbawahi adalah "penting atau tidaknya" dan Pak Hipo jelas-jelas menunjukkan materi kami tidak cukup penting. Bayangkan bagaimana perasaan saya yang mempelajarinya semalaman padahal tidak punya banyak pengetahuan tentang Katolik atau Kristen Protestan. Bayangkan perasaan Taul yang... begadang bikin presentasi dari tiga materi dan harus membuatnya singkat biar ga kepanjangan. Pokoknya mangkelin. Saya sendiri merasa ga tertarik lagi sama mata kuliah ini. Padahal materi yang kami presentasikan (terutama bagian saya wkwkw) cukup menarik.
Peruvian (istilah yang digunakan orang Peru untuk menyebut diri mereka sendiri) merasa menemukan kebenaran yang sejati begitu mereka migrasi ke Korsel, meskipun datang secara ilegal dan tak terjamin kondisi ekonominya. Gereja Kristen di sana membantu mereka beradaptasi dan lebih memanusiakan mereka daripada gereja Katolik di kampung halaman. Untuk itulah, mereka merasa lebih nasionalis dan lebih beriman ketika berada di Korsel. Perasaan itu membuat mereka secara sadar menggunakan istilah repuesta untuk menunjukkan bagaimana imigran Peruvian selalu terselamatkan dari deportasi dan sejahtera secara spiritual.
Respuesta sendiri berarti jawaban. Dalam ajaran Islam, saya memadankannya dengan "ilham," istilah yang kita gunakan untuk menyebut "petunjuk Tuhan" kepada setiap hamba-Nya. Ilham sendiri berbeda dengan wahyu atau mukjizat, sama dengan respuesta tidak masuk dalam kategori milagros (keajaiban). Dampaknya, kelompok imigran ilegal ini memiliki legitimasi untuk terus-menerus berada di sana: bahwa dengan tidak dideportasinya mereka dari Korea, Tuhan menunjukkan persetujuannya.
Dan dalam kasus ini, saya menggunakannya pula untuk meligitimasi kemalasan saya sendiri: bahwa saya tidak perlu mengerjakan tugas. Bukan hanya karena saya merasa sangat malas, namun juga rasanya tidak ada banyak pengaruh meskipun saya mengerjakannya. Sampai sini, saya akan terdengar sangat meremehkan perkuliahan. Namun tidak begitu. Saya mencoba untuk malas dalam dua mata kuliah itu saja dan berusaha bangkit kembali pasca-presentasi yang tidak cukup memuaskan itu terjadi.
Hah...
saya bisa saja mengerjakan tugas itu hari ini, dan sepertinya itulah yang akan saya lakukan meski terlambat. Toh, hari ini dan besok akan ada tugas lagi, begitu terus hingga semua perkuliahan terselesaikan dan saya akhirnya berhadapan one by one dengan skripsi. Urusan magang sudah selesai, dan -seperti yang banyak teman seangkatan saya lakukan- kita harus segera mencari tujuan setelah lulus.
Semangat!


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?