Bus


Photo by CHUTTERSNAP on Unsplash

Dahulu, saya pernah berencana untuk mengenalkan seseorang kepada kedua orang tua: naik bis berdua dari Malang ke Surabaya, lalu ke Sidoarjo hingga sampai ke rumah. Sayang, sebelum rencana ini terwujud, orang yang spesial itu sudah meminta hubungan kami berakhir. Ia menjelaskan banyak hal sebagai alasannya, namun karena terlalu bebal, saya tidak mengerti satupun apa yang ia katakan. Pada puncaknya, ia berkata bahwa alasannya memang akan sulit dipahami. Saya tidak berada di posisinya untuk memahami. Pertemuan kami selanjutnya menjadi pertemuan terakhir dan sudah seharusnya saya berhenti berharap. Sore itu saya pulang dengan penuh tangis, dan baru berhenti di malam hari.

Rencana itu, adalah bagian dari upaya diri ini untuk memupuk keberanian satu persatu: setelah mengenalkannya kepada orang tua, saya mungkin akan lebih berani untuk mengunjungi kedua orangtuanya. Tapi sepertinya takdir memang tidak berkehendak. Semesta yang menyebalkan membuat saya berputus asa. Kepergian orang yang berarti -kalian tahu- memang akan terasa sangat menyakitkan.

Hingga beberapa bulan berikutnya kenangan dan ingatan tentang dirinyalah yang berada dalam pikiran. Seharusnya tidak seperti itu: saya harus memikirkan masa depan karena diri saya sendiri yang meraihnya, dengan atau tanpa bantuan orang lain. Saya harus berpikir keras untuk memilih bus mana yang akan membawa saya ke tujuan. Dan ketika kondektur bus sampai di kursi yang saya duduki, saya harus memberitahunya tujuan di mana saya akan turun. Seharusnya, saya memikirkan hal-hal itu. Realitanya, pikiran saya diselubungi oleh impian-impian tak masuk akal.

Sampai di situ, saya banyak berpikir hal-hal yang lebih realistis: mungkin memang tidak ada orang yang akan seperti itu, membantu saya memenuhi mimpi-mimpi romantis. Bahwa duduk berdua di bus akan sangat menyenangkan. Bahwa menolehkan kepala dan mengarahkan mata pada pemandangan ramai sepanjang perjalanan akan sangat menghibur. Bahwa mungkin kami bisa banyak berbincang dan mendengarkan musik ketika sudah bosan. Bahwa mungkin, saya selama ini memang terlalu banyak bermimpi dan semuanya tak masuk akal.

Surabaya-Sumenep, 24 April 2021

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir