The Skin I Live In (2011) dan Kesadaran Hak atas Tubuh Sendiri


Dr. Robert Ledgard (Antonio Banderas) adalah seorang ahli bedah plastik yang bekerja secara mandiri. Ia mengembangkan suatu inovasi berupa kulit yang akan tahan dari segala kerusakan, termasuk gigitan nyamuk atau luka bakar. Secara rahasia dan tanpa sepengetahuan kolega-koleganya sesama dokter bedah, ia mempraktikkan penelitiannya kepada organisme hidup berupa manusia, bukannya tikus atau kelinci yang selama ini menjadi objek percobaan. Hal ini mengundang pertanyaan dari sesama koleganya, dan tentu saja melanggar kode etik kedokteran. Untuk itu, ia selalu berbohong tentang objek percobaannya.


Beralih kepada objeknya, sosok yang dijadikan bahan percobaan ilmiahnya adalah seorang wanita bernama Gal Ledgard (Elena Anaya). Ia terisolasi di dalam rumah itu dan tidak diperbolehkan keluar, dalam penjagaan seorang pembantu bernama Marilia (Marisa Paredes) yang memberikan segala kebutuhannya kecuali beberapa hal yang akan membantunya kabur. Suatu hari, anak Marilia bernama Zeca (Roberto Alamo) datang ke rumah itu menemui ibunya. Ia datang karena menjadi buron polisi setelah merampok toko perhiasan, lalu menyadari bahwa ibunya menyembunyikan seorang perempuan yang tampaknya ia kenal. Ia pun menyerang ibunya, mengikatnya ke kursi dan memperkosa Gal. Ketika Dr. Robert datang, ia sadar bahwa hal aneh terjadi, lalu menembak Zeca dari belakang. Malam itu, Gal dan Dr. Robert tidur bersama, yang kemudian membawa Dr. Robert pada masa lalu yang membuat keadaan seperti ini. 


Diceritakan bahwa Zeca adalah orang yang membawa Gal pergi. Mereka diterpa kecelakaan dan hanya Zeca yang selamat, sedangkan Gal terbakar hebat. Dr. Robert menjaganya, namun ketika sadar, ia bunuh diri di hadapan putrinya sendiri, Norma. Norma pun tumbuh menjadi anak yang  mudah ketakutan. Sifatnya itu membuatnya kesulitan ketika ia datang pada suatu pesta pernikahan dan keluar bersama seorang tamu lain bernama Vicente (Jan Cornet). Di taman, mereka bersetubuh selayaknya tamu pesta lain, namun Norma menjadi ketakutan dan akhirnya pingsan setelah dipukul dengan keras. Vicente pun pergi dengan motornya, dilihat langsung oleh Dr. Robert di belakangnya.


Kejadian itu membuat Norma tambah ketakutan hingga masuk ke klinik dan mengenali ayahnya sebagai penyerangnya malam itu. Dr. Robert yang sakit hati kemudian menculik Vicente. Ia menyekap lelaki muda itu di bawah tanah rumahnya dan memperlakukannya dengan hati-hati. Karena ia telah kehilangan seorang anak perempuan, Dr. Robert pun merubah Vicente melalui operasi vagina. Pelan-pelan Dr. Robert mengajari Vicente yang berubah bagaimana beradaptasi dengan lubang baru di tubuhnya. Ia juga memberikan operasi plastik untuk wajahnya, menambahkan ruang payudara di dadanya, menjadikannya tampak seperti perempuan tulen. Namanya pun bukan lagi Vicente, namun Vera Cruz. 


Keesokan paginya, Dr. Robert kedatangan kolega yang membantunya melakukan operasi vagina kepada Vicente, dan memberikan koran yang memberitakan hilangnya Vicente. Dr. Robert membantah tuduhan itu, yang kemudian diperkuat sendiri oleh Vera. Ketika malamnya, mereka hendak berhubungan badan, melanjutkan rencana malam itu yang tertunda, Vera turun ke lantai bawah, mengambil pistol di kolong meja. Sesampainya di kamar, ia menembak Dr. Robert dan ketika Marilia datang, ia menembaknya dari bawah tempat tidur. Ia pun kabur, kembali ke toko baju tempat ia dulu bekerja, dan menceritakan hal yang terjadi kepada ibu dan sahabatnya.


*****


Menonton film yang diadaptasi dari novel merupakan pengalaman yang berbeda jika penonton belum pernah membaca bentuk karyanya secara tertulis. Namun, jika melihat filmnya secara terpisah (dan itu yang saya lakukan saat ini), maka The Skin I Live In (2011) ini adalah karya yang bagus, meskipun tidak sempurna. Ceritanya sudah cukup aneh namun masuk akal, ditambah dengan alur yang bergerak mundur secara tak sadar ketika penonton masuk dalam mimpi masa lalu Dr. Ledgard. Beberapa hal bisa saja dielaborasi secara lebih jauh, seperti bagaimana proyek kulit “abadi” itu membantu Vera/Vicente bertahan dari kerusakan, polisi yang mencari-cari Vicente hingga ke rumahnya, atau relasi yang rumit antara Dr. Ledgard dengan Zeca yang merupakan saudara satu ibu. Namun, karena novelnya diadaptasi ke dalam film berdurasi dua jam, maka tidak mungkin untuk memasukkan segala hal ke dalam skenario. 


Latar waktu dan tempat yang tidak terlalu luas (2006-masa ditayangkan filmnya dan rumah Dr. Ledgard) memberikan kesempatan kepada tokoh-tokohnya untuk mengekspresikan diri: Marilia bersedih dengan hubungan antara Dr. Ledgard dan Zeca yang tidak tahu bahwa mereka bersaudara, secara bersamaan ia sendiri tidak memberitahu Ledgard bahwa ialah ibu kandungnya selama ini dan tidak bersedih ketika Zeca mati; Vicente yang menyembunyikan keinginannya untuk kabur hingga ia membunuh dua orang penghuni rumah itu; hingga Dr. Ledgard yang kemudian jatuh hati kepada Vera setelah kasus pemerkosaan itu meskipun selama ini menganggapnya sebagai objek percobaan saja. Emosi-emosi itu muncul secara perlahan, sampai-sampai penonton tidak menyadari hingga kejadian itu terjadi. Setiap aksinya dilakukan secara tiba-tiba seolah tidak memberikan kesempatan kepada penonton untuk bernapas. 


*****


Ketika melihat Vera/Vicente membunuh Dr. Ledgard, di sanalah saya kemudian sadar bahwa ia masih memiliki niat untuk kabur. Jati dirinya selama ini bersembunyi dalam balutan kulit artficial, yang meskipun mampu menahan kerusakan dari luar, tidak mampu menahan keinginannya untuk memberontak. Ia jatuh dalam perangkap yang ia sadari akan sangat sulit ditembus, oleh karena itulah ia tidak berusaha sangat keras untuk pergi. Kalau ia benar-benar ingin kabur, ia harus membunuh dua orang yang menjadikannya seperti itu.


Hal ini sama serupa dengan isu-isu feminisme selama ini: bahwa tubuh perempuan adalah miliknya sendiri. Beberapa feminis muslimah menerima konsep itu dengan mengatakan “Setelah milik Tuhan, tubuh perempuan adalah miliknya sendiri.” Mereka menolak ide lama bahwa perempuan adalah orang kedua setelah laki-laki, bahkan setelah berumah tangga sekalipun. Untuk itu, tidak ada satu pun persetubuhan yang dilakukan tanpa consent setiap pelakunya, baik dari laki-laki maupun perempuan. Ketika salah satunya meminta persetubuhan tanpa consent yang lain, maka yang terjadi adalah pemerkosaan.


Ide-ide ini kemudian berkembang ke arah (dalam beberapa kasus lain bermula dari) kasus aborsi, di mana masyarakat luas masih menganggap bahwa mau disengaja atau tidak, kehamilan tidak boleh digugurkan. Bayi dalam rahim perempuan bukanlah miliknya sendiri, tapi milik umat manusia sehingga harus diterima dan dijaga hingga lahir. Kelompok feminis menolak keras ide itu dan berargumen bahwa tubuh perempuan adalah miliknya sehingga bisa menentukan nasib si bayi dalam kandungannya sendiri. Toh, setelah lahir, bayi itu diasuh olehnya sendiri, bukan semua orang. Secara pribadi, saya masih termasuk dalam golongan konservatif yang menolak ide ini. Namun, ketika ada orang-orang yang kemudian memberikan argumen secara lebih masuk akal, saya tidak bisa menolaknya. Dalam kasus Vera/Vicente, tubuh itu miliknya sendiri, meskipun Dr. Ledgard sudah banyak merubahnya hingga tak dikenali bahkan oleh ibunya sendiri. 

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir