Dinamika Agama Lama dan Baru


Colin Maynard on Unsplash

Salah satu tantangan besar yang dihadapi agama-agama samawi seperti Kristen, Islam atau Yahudi adalah keberadaan kepercayaan lokal. Mereka memiliki tugas penting untuk menjadikan kepercayaannya mengglobal, diikuti oleh banyak orang tanpa batasan teritorial atau ras sekalipun. Agama-agama langit ini tidak menjadikan bangsa pemeluk pertamanya sebagai yang utama, namun lebih mengutamakan universalitas. Semakin banyak orang yang memeluknya, semakin besarlah kesuksesan agama itu.


Sebaliknya, kepercayaan lokal tidak banyak berambisi: mereka mengutamakan harmoni dengan alam dan sekitarnya, menjadikan tempat hidup mereka sebagai hal penting yang perlu dilindungi. Oleh karena itulah, banyak pemeluk agama samawi yang kemudian salah paham bahwa mereka yang percaya pada leluhur atau alam menjadikan benda-benda mati sebagai sesembahan. Padahal, apa yang mereka mintai doa atau harapan, adalah hal-hal gaib di baliknya: bahwa di sanalah hal penting pernah terjadi, bahwa di sana ada sosok yang perlu dimakmurkan. Oleh karena itulah ada dewa-dewi di persawahan, laut, hutan atau gunung.


Bagaimana jika kedua hal yang tampaknya bertolak belakang ini kemudian bertemu? Hal itulah yang diceritakan oleh Catherine Allerton dalam artikel berjudul Static Crosses and Working Spirits. Bercerita tentang dinamika kepercayaan antara Gereja Katolik dengan apa yang disebut penulisnya sebagai “animisme pertanian” di Manggarai Selatan, Flores Barat. Proses dinamika itu tentu saja akan serupa dengan sebagaimana yang terjadi di Jawa ketika Islam masih mempertanyakan adat-adat lama: kedua kepercayaan diidentifikasi apa sesembahannya, apa ibadah yang dilakukan, dan lain sebagainya. Katolik sebagai agama universal kemudian akan mempertanyakan klaim-klaim lokal yang tidak masuk akal untuknya, lalu mengharamkan apa yang tidak sesuai dengan kepercayaan mereka. Konflik berkembang. Pertentangannya mengorbankan masyarakat, menjadikan mereka semakin lemah atau semakin kuat. 


Di Manggarai, proses itu kemudian berubah arah manakala Gereja Katolik berusaha untuk menanamkan ajarannya melalui budaya yang sudah ada. Bahwa ada baiknya untuk mulai membiasakan masyarakat dengan ajaran yang “lebih benar” dengan mengaplikasikannya pada keseharian mereka. Gereja Katolik pun mengambil peran penting dalam keputusan atau ritual keluarga. Mereka berusaha untuk menunjukkan pengaruhnya tanpa harus terlalu terbuka.


Namun, usaha itu tidak menjadi jaminan bahwa mereka akan sepenuhnya diterima. Upaya agama pendatang untuk masuk kemudian terhalang dengan fakta bahwa masyarakat sendirilah yang mengklasifikasi kepercayaan mereka: bahwa untuk melakukan pernikahan mereka bisa ke Gereja, tapi untuk hal lain seperti ritual mereka tidak bisa mengikutsertakannya. Ada batas-batas yang dibentuk sendiri oleh masyarakat agar Gereja Katolik tidak terlalu jauh ikut campur dalam kepercayaan alam. 


*****


Apakah agama akan selalu berlawanan dengan agama lain? Apakah Gereja Katolik akan selalu berhadapan dengan animisme a la pertanian ini? Tidak pula. Kasus di Manggarai ini kemudian diwarnai dengan datangnya kebijakan pemerintah untuk membangun pemukiman dan persawahan lahan-basah. Kedua proyek ini kemudian menunjukkan secara tidak langsung pada masyarakat lokal bahwa alam dapat dikendalikan, bahwa mereka tidak harus selalu bergantung pada alam dan mempercayakan teknologi untuk membantu pertanian yang mereka andalkan. Kedua hal ini berpengaruh secara tidak nyata, namun tentu saja pada akhirnya membuat masyarakat tidak lagi takut akan datangnya kekeringan, paceklik, atau bahkan serangan hama. Agama dan teknologi dapat dilihat sebagai “double combo” yang kerjanya saling beriringan. Pertentangan keduanya hanya terjadi dalam konsep-konsep dan ideologi, namun di dunia nyata, mereka bekerja sama. Tapi, bukan berarti kepercayaan lama itu kemudian hilang. Sebagaimana Allerton katakan, masyarakat kemudian mengkonsep ulang persepsi dan kepercayaan mereka pada lanskap, dan beralih pada agensi lain yang lebih memberi pengaruh. 


Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir