Bepergian
![]() |
Photo by Gabriel Crismariu on Unsplash |
"Kok udah kayak bapak-bapak kamu, Tor?"
Saya tertawa kecil mendengarnya. Kalimat itu diucapkan sendiri oleh seorang teman yang datang di awal-awal bulan Ramadhan. Ia baru pulang dari Mesir -tidak baru sih, karena sempat dikarantina lima hari di Jakarta- dan kabarnya baru sampai di rumahnya. Kami satu kota, namun saya tidak paham di mana rumahnya karena saya buta arah. Kekurangan itu menghalangi saya untuk mengunjungi teman-teman yang dekat maupun jauh. Saya akhirnya tidak terbiasa bertamu ke rumah orang.
"Dari dulu juga gitu," saya membalasnya, sambil mengulurkan tangan dan memaksanya berpelukan. Pertemuan terakhir kami sekitar tiga tahun lalu, ketika kami sama-sama baru saja menyelesaikan masa pengabdian dan belum mulai berkuliah. Ia bertamu ke rumah saya untuk ikut khotmil qur'an mendoakan ruamh saya yang baru direnovasi. Beberapa hari kemudian saya berangkat ke Malang untuk mulai kuliah. Dia sendiri berangkat ke Mesir bersama teman-teman seangkatan beberapa bulan kemudian.
Malam itu, kami membicarakan banyak hal. Komunikasi dengan teman seangkatan memang sulit; saya tidak terlalu akrab dengan anak-anak yang ke luar negeri dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar -iya, saya rajin tapi tetep aja ga pinter-pinter. Teman-teman seangkatan di Malang lumayan banyak, dan kami cukup sering berkumpul di awal-awal perkuliahan. Semester dua dan selanjutnya, lebih sulit bagi saya untuk bergaul. Saya tidak mudah keluar kecuali sendirian. Saya tidak banyak suka nongkrong dan semacamnya.
*****
Salah satu hal yang saya ingat dari kunjungan teman saya itu adalah kata-katanya bahwa saya memang jarang bergaul dengan teman seangkatan. Awalnya, saya mengeluh bagaimana anak-anak -istilah ini saya gunakan untuk menyebut teman saya sendiri- datang ke Malang tanpa pemberitahuan, dan akhirnya mereka pergi tanpa saya. Salah saya juga karena tidak rutin membuka grup chat angkatan dan akhirnya ketinggalan informasi. Namun saya tidak terlalu menyesal. Toh tidak ada urgensinya kalau saya tidak ikut.
Namun, yang teman saya katakan cukup berbeda. Ia bilang bahwa akan sangat repot kalau misal saya ikut: saya tidak tahu arah dan akhirnya merepotkan yang lain. Benar juga, batin saya. Alasan ini menjadi pembenaran bahwa saya tidak perlu pergi ke manapun dan diam saja di rumah. Apa gunanya kalau akhirnya saya merepotkan yang lain. Mungkin seharusnya saya pergi sendiri. Sebagaimana yang saya lakukan selama ini ketika menjelajahi jalan raya menjelang tengah malam di Kota Malang.
Tulisan ini awalnya saya mulai beberapa hari lalu, namun akhirnya saya lanjutkan hari ini (23/4) karena sepertinya tidak ada tulisan lain yang bisa saya publikasikan. Sidang magang akhirnya selesai hari kemarin bersamaan dengan dua teman lain namun mereka -saya tidak perlu- tidak diberi banyak ucapan selamat. Rencananya saya akan pergi ke Madura memenuhi undangan teman-teman berbuka bersama di Pamekasan, tapi saya ada rencana lain untuk mengunjungi kerabat yang setahun lebih tidak bertemu. Semoga kebijakan pemerintah tidak terlalu ketat sehingga saya masih bisa naik bis ke sana. Toh, kalau misal tidak boleh pergi karena alasan mudik, maka saya akan menggunakan alasan pariwisata. Wkwkwk.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?