Apa yang Membuat Agama Begitu Kuat Pengaruhnya?


Photo by ‏🌸🙌 في عین الله on Unsplash

Pertanyaan itu menjadi pembuka kelas Religi, Ritual, dan Magi pagi ini dan setiap mahasiswa diminta untuk memikirkan jawabannya. Namun, sejauh apapun kita berpikir tentang bagaimana agama menjadi sangat kuat pengaruh dan perannya dalam kehidupan bermasyarakat, semua itu didasarkan pada satu faktor penting: manusialah yang memeluknya. Manusia menjadi pengikut agama, menciptakan simbol-simbolnya, membuat keteraturan berdasarkan asas-asasnya, membuat tafsir atas teks-teks suci secara terus-menerus dan tak berhenti, dan lain sebagainya. Rangkaian komunikasi dan interaksi dalam lingkup abstraksi membuat agama yang merupakan idealisme menjadi semakin kuat dan tidak mudah untuk dihapuskan.


Antropologi yang mempelajari masyarakat dalam lingkup individu dan komunal pun mau tak mau melihat agama sebagaimana yang dilakukan oleh pemeluk-pemeluknya. Agama-agama bumi melihat kekuatan dan kedigdayaan alam, lalu berinteraksi dengan sosok-sosok di balik kekuatan itu dengan berbagai ritual yang bertujuan untuk menyeimbangkan kosmos: antara lingkungan dan diri manusia, antara nafsu hewani dan emosi sakral nan suci. Agama langit bersandar pada kekuatan firman Yang Maha Kuasa dan bertindak sesuai dengan ayat-ayatnya. Ketika Tuhan itu Satu dan Tak Terelakkan, maka menyebarkan ajaran Tuhan menjadi penting dan adalah sebuah perbuatan yang baik bagi mereka untuk mengajak sebanyak-banyaknya manusia, baik dari berbagai daerah maupun latar belakang. 


Namun, sebagaimana yang dipelajari hari ini, ada perbedaan yang cukup besar antara Islam dengan Yahudi dan Kristen, terutama dengan sejarah dua agama terakhir sebagai agama khusus untuk Bani Israel. Sebagai kelompok yang eksklusif, mereka mengaku sebagai pilihan Tuhan dan dari kelompok mereka lah nabi-nabi lahir, sehingga siapa pun boleh ikut serta menganut agama mereka, namun tetap saja merekalah kelompok yang terbaik. Komaruddin Hidayat menyumbangkan analisisnya dengan mengatakan bahwa fenomena ini membuat akar agama mereka berkelindan dalam relasi sejarah. Sebaliknya, Islam juga melihat sejarah namun lebih banyak berkutat pada narasi-narasi kitab suci dan hadist nabi, menjadikan perdebatan mereka berfokus pada pemaknaan terus-menerus dan tak berhenti. Fenomena-fenomena yang berbeda ini, baik dalam agama langit atau bumi, menjadikan antropolog untuk tetap berfokus pada manusia sebagai agensi utama. Kitab suci, sosok Tuhan, dan narasi-narasi lain tetap memberikan makna yang kuat namun tanpa manusia yang memberinya makna mereka akan hilang ditelan masa. 


Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir