PAI BABURU: Antara Tradisi, Hobi, dan Olahraga


Mário Rui André on Unsplash

WATCHDOC DOCUMENTARY / 25:43


Anjing disebut sebagai sahabat dekat manusia karena sejarahnya sebagai hewan pertama yang berhasil didomestikasi. Hal itu terjadi sejak masa berburu dan meramu jauh sebelum revolusi pertanian, namun anjing tidak dapat menjadi konsumsi. Ia lebih banyak membantu manusia menemukan hewan buruan, mencium aroma dan mengejarnya hingga didapat. Anjing juga membantu membunuh hewan buruan jika senjata manusia tidak berhasil melumpuhkan. 


Hal serupa masih terjadi hingga kini. Proyek dokumenter yang ditayangkan dalam kanal YouTube Watchdoc Documentary ini menceritakan proses berburu babi hutan dalam masyarakat muslim Minangkabau, Sumatera Barat dan Bogor, Jawa Barat. Keduanya memiliki motif yang serupa, yaitu menyingkirkan hama pertanian agar tidak mengganggu masa produksi. Anjing-anjing dilepaskan agar bisa mengejar mereka dan menjadikannya pangan sendiri.


Anjing-anjing itu terdiri dari berbagai ras: bull terrier, Herkam (herder kampung), dan anjing kampung biasa. Setiap orang setidaknya memelihara satu hingga tiga ekor, lalu tergabung dalam kelompok-kelompok kecil atau persatuan yang lebih besar bernama Persatuan Olahraga Buru Babi (PORBI). Mereka bersatu untuk datang ke kebun sendiri, atau dapat dipesan oleh masyarakat lain yang membutuhkan jasa. Masalahnya, daerah lain juga mengalami hal serupa namun tidak memiliki solusi seperti itu.


Apalagi, hutan-hutan yang ditelusuri cukup luas. Mereka yang datang pun beramai-ramai, untuk menangkap babi hutan sebanyak mungkin. Besar maupun kecil babi hutan itu tetap diburu, hingga sore hari ketika datang waktu makan bagi para anjing. Para anjing itu bisa memakannya bersama, atau ketika ada pesanan dari makelar Cina, mereka menyimpannya dan memotongnya untuk dijual.


Pai baburu, di sini, dapat dilihat sebagai salah satu bentuk interaksi multispesies paling intens. Anjing tidak hanya keluar ketika masa berburu, tetapi juga setiap sore hari untuk diajak berjalan-jalan. Hal itu menjadi proses yang menyehatkan, tidak hanya bagi si anjing namun juga pemiliknya. Keuntungan ada pada kedua belah pihak sehingga hubungan ini terus berjalan dari generasi ke generasi.


Jadi, bisa dipastikan bahwa kegiatan ini adalah salah satu bentuk tradisi. Namun, masyarakat tidak menjadikannya sebagai suatu proses yang sakral, karena anjing adalah hewan yang najis (kondisi yang lebih buruk dari sekedar kotor) sehingga hubungannya dalam naskah agama hanya sebagai alat. Dalam praktiknya, anjing-anjing ini menjadi sahabat. Mereka adalah agensi aktif yang menjadi faktor penting dalam peradaban manusia. 


link video: https://www.youtube.com/watch?v=R-Ud8a5jwu0

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir