Orang Gila
Ayo kita break dulu dari tugas kuliah. Saya ada sedikit cerita buat kalian.
Hmmm. Sejak akhir Januari, beberapa hari dan kejadian setelah saya diberi kabar buruk, mantan saya memutuskan untuk memutus semua bentuk komunikasi. Saya diblokir di semua media sosial dan aplikasi percakapan. Mungkin ada beberapa cara untuk menghubunginya, tapi tentu saja saya tidak mau melakukannya. Dia tidak mau saya muncul, bahkan dalam chat sekalipun. Oleh karena itulah, saya hanya bercerita di sini. Semoga dia tidak membacanya. Katanya dia tidak terlalu suka membaca.
Tapi semua pemblokiran itu sebenarnya bermula dari niat baik yang sederhana: saya ingin memberinya hadiah ulang tahun. Ia menolaknya dan melakukan hal yang saya ceritakan di atas. Okelah, saya memang tidak mengerti apa yang ia pikirkan. Dalam beberapa sisi, memang saya yang memintanya. Dan akhirnya saya melakukan apa yang seharusnya dilakukan orang gila: saya tetap mengisi ruang percakapan. Saya tahu bahwa nomor ponsel sudah terblokir, namun saya senang melakukannya.
Intinya, saya berpura-pura tetap berhubungan baik dengannya.
Saya mengucapkan selamat pagi ketika bangun tidur. Saya mengucapkan selamat malam sebelum tidur. Di siang hari saya menyuruhnya beristirahat karena tau dia sibuk dengan banyak pekerjaan. Saya juga selalu berpesan untuk tidak terlalu berlebihan, juga bertanya bagaimana kabarnya. Dari sini, sangat terlihat kalau saya sangat senang berkomunikasi. Ah. Saya merindukan komunikasi yang baik. Saya merindukan percakapan yang hangat. Saya merindukannya.
Apa kalimat-kalimat di atas berlebihan? Apa kalian akhirnya sadar bahwa saya bukan orang yang baik? Bahwa saya memang gila dan tidak bisa diharapkan? Ya. Kalian benar. Selamat. Anda telah berhubungan dengan orang yang salah, membaca blog berisi tulisan harian orang gila. Segera kembali ke halaman awal kalian dan jangan pernah kembali. Lupakan alamat blog ini yang berganti-ganti dan blokir juga nomor yang membagikannya.
Tapi, apakah salah menyukai orang yang telah menolak kita? Entah, saya tidak tahu itu salah atau tidak. Baru-baru ini, saya juga menerima pernyataan suka orang yang telah lama saya tolak. Namun, bagaimana saya harus menanggapinya? Saya tidak berada dalam posisi untuk menolak siapa pun yang datang. Orang itu juga sadar bahwa saya belum sepenuhnya teralihkan. Saya masih berada dalam bayang-bayang kenangan. Saya masih tidak bisa lepas dari kenangan-kenangan baik nan indah selama empat bulan setengah itu.
Kini, nomor saya tidak diblokir lagi. Ketika saya mencoba untuk mengirimkan pesan -sebagaimana yang saya lakukan selama ini- ia membaca dan membalasnya. Tentu saja saya langsung menghapusnya karena tau ia tidak suka saya muncul. Tetapi masalah sebenarnya adalah saya tidak lagi bisa bercakap-cakap dengan kekasih khayalan yang saya ciptakan. Saya masih ingin menuliskan selamat malam sebelum tidur. Saya masih ingin mengucapkan selamat pagi ketika bangun. Saya juga ingin bertanya kabar dan kesibukannya, meskipun tahu bahwa hal itu tak terjawab. Dan sampai kapanpun saya tidak akan pernah tahu kabarnya. Tapi ga papa. Toh ia tidak peduli. Ia tidak peduli sedikit pun. Percayalah.
Ah. Saya benar-benar berharap ia tidak membaca ini. Saya akan tetap mempublish tanpa membagikannya. Kalau ia tahu, saya akan pura-pura tidak tahu. Mudah, bukan?

Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?