Manusia dan Pengetahuan
![]() |
Nejc Soklič on Unsplash |
Materi hari ini mengingatkan saya pada pepatah lama dalam khazanah Islam yang sering dipelajari di pesantren, bahwa ketika kita memberi ilmu (menjadi guru) kita tidak kekurangan suatu apa pun. Malah, kita akan semakin kaya, baik dari segi harta materiil maupun non-materiil. Ketika bekerja, kita memberikan barang yang kita produksi untuk ditukar dengan barang lain. Barang yang kita miliki sebelumnya digantikan dengan barang yang baru. Kita tidak lagi memiliki hak kepemilikan atas barang yang sudah ditukar.
Hal itu sangat berbeda dengan ilmu atau pengetahuan. Ketika mengajar, kita memberikan pengetahuan yang kita miliki, namun tidak kehilangannya. Ia malah akan digantikan pengalaman-pengalaman baru: respon yang beragam, berupa kritik, saran dan masukan lain. Oleh karena itu, menjadi guru atau bekerja dalam pengetahuan sangat penting posisinya dalam Islam. Manusia disebut-sebut sebagai wakil Tuhan karena ia mewarisi hal ini.
Refleksi saya terhadap pengetahuan hanya berdasarkan pada sisi ini saja. Saya tidak menyentuh sisi lain karena memang topik ini penting: ia menunjukkan manusia sebagai makhluk yang lebih kompleks, jauh dari leluhurnya yang amat sangat sederhana. Kapasitas otak manusia yang begitu besar bukan karena suatu kejadian acak atau keberuntungan gen semata. Akumulasi pengetahuan dan percobaan demi percobaan yang dilakukan jutaan tahun adalah prosesnya. Keberanian manusia untuk berpegang teguh pada pengetahuan (kadangkala harus menyingkirkan emosi dan sisi manusiawi lainnya) adalah sebuah tindakan yang tidak bisa dilakukan makhluk lain. Evolusi manusia bergantung pada pengetahuan dan hubungan itu (meskipun pada hal abstrak) terjadi dalam timbal-balik yang setara.
Masalahnya, meskipun manusia memiliki kapasitas otak yang lebih baik dari sebelumnya, ia belum bisa banyak mengingat. Oleh karena itu, mereka mulai menggunakan simbol: huruf, angka atau yang sederhananya disebut sebagai tulisan. Manusia mulai menggunakan metode ini untuk menyimpan pengetahuannya, mewariskannya kepada keturunan, agar gen mereka dapat terus bertahan.
Hal yang ingin saya sampaikan di sini adalah pengetahuan menempati posisi penting dalam kebutuhan manusia. Ia setara dengan oksigen atau air, namun tidak diproduksi sendiri oleh alam. Bahan-bahannya disediakan secara melimpah, namun harus diterima oleh panca indera lalu diproses dalam otak. Proses yang cepat itu bisa menampilkan apa saja, seperti praduga, hipotesis dan semacamnya. Namun, apa pun yang keluar dari kepalanya adalah pengetahuan. Manusia, pada akhirnya, harus mengetahui apa yang keluar dari kepalanya sendiri.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?