Hidup Berdampingan dengan Ternak dan Hal-Hal Penting Lainnya
![]() |
Hưng Nguyễn Việt on Unsplash |
Dalam memandang keberadaan materi dalam studi antropologi, ada dua pandangan utama yang bisa digunakan, yaitu materialisme historis dan kultural. Gunawan dalam tesisnya tentang masyarakat Manurara setidaknya menggunakan yang kedua, melihatnya sebagai kekuatan penting sehingga patut diperhitungkan keberadaannya. Urgensi materi dilihat dari seberapa sering ia digunakan dalam relasi sosial, baik melalui transaksi maupun dalam pertukaran gagasan ideal. Ternak juga memiliki tingkatan urgensinya sendiri, sehingga masyarakat membentuk dirinya sendiri dalam tingkatan-tingkatan itu, selagi membagi peran atas jenis ternak yang dikuasai.
Setidaknya ada tiga aspek dalam kajian ternak yang hendak dipelajari, yaitu dalam struktur sosial, fungsinya sebagai belis atau mahar perkawinan, dan ritual. Ketika berbicara tentang macam-macam binatang ternak yang dipelihara, peneliti juga menulis bagaimana peran-peran itu dibagi: babi untuk perempuan; kambing, sapi dan ayam untuk daya dukung ekonomi (tanpa peran penting dalam masyarakat secara khusus); kuda untuk laki-laki dari anak-anak hingga dewasa; dan kerbau dalam tanggung jawab laki-laki karena berperan dalam menentukan kedudukan keluarga maupun kabihu (klan). Anjing seharusnya juga turut ditulis dalam kajian ini, namun ia tidak diternak secara khusus, melainkan dibeli dari tempat lain. Dalam keseharian, anjing berperan untuk menjaga ladang atau hewan ternak. Sedangkan dalam ritual, ia berperan sebagai hadiah duka atau sumbangan transaksional.
Hal penting yang seharusnya diperhatikan lebih dalam dan tampaknya berguna untuk bahan ajar pendidikan adalah toponimi binatang ternak. Babi dikategorisasi sesuai dengan beratnya serta seberapa banyak orang digunakan untuk membawanya. Selain itu, babi jantan juga dikelompokkan sesuai panjang taringnya. Sapi dan kambing tidak diberi nama secara khusus karena awal mulanya hadir sebagai bantuan sosial dari pemerintah, dan bukan hewan asli yang diternakkan masyarakat. Kategorisasi kuda menggunakan umur, dan setelah tiga bulan dilihat bagaimana ia sudah bisa diikat atau ditunggangi. Berbeda dengan yang lain, kategorisasi kerbau diukur sesuai dengan panjang tanduknya, diikuti dengan arah bentuk tanduk. Ketika masyarakat modern tidak mengenal istilah-istilah lokal karena hanya mementingkan sisi keuntungan, penamaan lokal ini menunjukkan bagaimana masyarakat Manurara menjadikan hewan ternak sebagai kebanggaan. Semakin baik hewan ternak yang ia terima atau berikan, semakin baik pula status sosialnya.
Status sosial juga mempengaruhi bagaimana belis ditawar dan dibayar dalam pernikahan. Keluarga laki-laki akan menawar belis perempuan yang tinggi dan pihak keluarga perempuan yang akan menetapkan berapa belis yang mereka minta. Semakin tinggi status sosial perempuan, maka belis yang dibayar harus setara. Ketika pihak laki-laki tidak dapat membayar secara penuh belis yang ditetapkan, ia diwajibkan tinggal di keluarga perempuan dan semua kerja kerasnya menjadi sia-sia, karena lari ke keluarga yang ditinggali. Hal ini membuat suami yang tidak melunasi belis akan tampak tidak terhormat.
Dalam ritual, keberadaan ternak menjadi lebih urgent. Keluarga yang melangsungkan prosesi pemakaman musti menyuguhkan makanan untuk tamu yang datang, dan kadang kala harus menyembelih kerbau atau babi secara sepihak, tanpa dirundingkan dahulu dengan kelompok tani atau anggota keluarga lain. Kerbau adalah aset yang berharga dalam pertanian, karena fungsinya untuk membajak sawah. Dengan hilangnya kerbau, maka anggota kelompok tani atau pakeri akan merasa dirugikan, karena ia turut serta memelihara namun tidak bisa mendapatkan untung, meskipun itu adalah hak pemilik untuk menyembelihnya. Selain itu, istri yang bertanggung jawab atas pemeliharaan babi bisa juga ikut dirugikan, karena mereka akan kehilangan modal untuk belis anak-anak mereka. Oleh karena itulah, keberadaan ternak untuk suguhan tamu, ketika mereka datang atau ikut dalam kerja pemakaman akan sangat diperhatikan.
Ketika ternak sebagai belis sudah dibahas sebelumnya, maka ternak juga diperlukan sebagai hadiah ritual. Tamu yang datang dalam pernikahan atau pemakaman seseorang setidaknya harus membawa anjing atau hewan ternak lain yang dimiliki, sebagai tanda turut berdukacita. Hewan ternak juga mewakili rombongan yang berjalan di belakangnya. Semakin besar hadiah ternak yang dibawa, maka semakin banyak pula anggota rombongannya. Konsep ini sedikit serupa dengan sistem kurban dalam Islam, di mana seekor kambing mewakili seorang nama, sedangkan seekor sapi untuk sepuluh orang dan seekor unta untuk sepuluh orang. Jika hadiah yang dibawa terlalu sedikit, maka akan tampak bahwa status miskinnya, sedangkan jika rombongannya yang sedikit, maka terlihat bahwa keluarga itu tidak memiliki banyak pengaruh.
*****
Apa yang menarik dari tesis ini adalah bagaimana hewan ternak menjadi perwakilan dari pemilik atau pemeliharanya. Ketika ia hadir dalam ruang-ruang sosial, pemilik ternak akan dihormati sesuai dengan yang ternak yang ia bawa. Ia akan dibicarakan terus-menerus, menjadi bahan perbincangan yang menarik rasa hormat. Sebaliknya, ketika ia datang dengan ternak yang kurang baik, respon serupa akan terjadi, hanya saja dalam arti yang negatif. Untuk itulah, ternak akan dijaga dan dirawat dengan sebaik-baiknya.
Namun, pertanyaan terbesar tentang ritual dengan membawa banyak hewan ternak sebagai lambang atau simbol kehormatan akan selalu dipertanyakan. Apalagi, di masa modern dengan segala kompleksitas ekonomi yang datang bersamanya. Bagaimana dengan biaya sekolah? Bagaimana dengan kebutuhan di luar pernikahan dan biaya pemakaman? Apakah mereka masih dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan masa modern itu?
Bagi saya, adalah sebuah langkah tepat untuk memperkenalkan hewan ternak lain yang murni diternak sebagai sumber pendapatan tambahan. Sapi dan kambing memang hewan yang cukup sulit, sedangkan ayam rentan terhadap flu burung yang datang secara musiman. Oleh karena itu, hewan ternak sebaiknya juga mendapat tempat lebih dalam keseharian, meskipun ia tidak mendapat tempat dalam ritual. Hewan-hewan itu mungkin disembelih sebagai lauk tambahan, namun kematian dan pernikahan bukanlah kejadian yang sering terjadi. Apalagi, ada peraturan resmi dari gereja dan pemerintah bahwa jasad sebaiknya dimakamkan maksimal tiga hari. Hal itu akan sangat membantu mengurangi jumlah jamuan, sehingga hewan ternak dapat dipelihara lebih lama.
Apa yang terjadi dalam masyarakat Manurara bukan berarti tidak terjadi dalam masyarakat lain. Muslim di Jawa dan Madura selama ini juga berusaha untuk mengurangi perayaan Maulid Nabi, dengan hanya melangsungkannya di titik-titik tertentu seperti desa, tidak perlu dilakukan oleh setiap keluarga. Dengan begitu, biaya perayaan dapat berkurang. Golongan salafi di sisi lain menyatakan bahwa melangsungkan slametan bagi keluarga yang berduka bukanlah tindakan yang tepat, karena tidak berdasar pada Madzhab Syafiiyah yang dianut. Pertentangan tentang ekonomi dan ritual ini seperti tidak ada habisnya, karena akan menyangkut gengsi dan kehormatan keluarga maupun pribadi.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?