Dan Kepada Tuhan Tentu Saja
Di awal-awal masa kuliah, seorang teman mengirimkan postingan dari sebuah akun Instagram. Akun ini memiliki konten sederhana, yaitu memberi arti atas nama-nama yang umum digunakan. Dalam postingan yang dikirimkan teman itu, tentu saja ada nama saya. Tertulis di sana, "FARID: Farid itu jago memikat hati perempuan karena romantis. Dia seneng banget ngasih kejutan yang bikin orang senyum-senyum. Tapi ya, kayaknya kalo udah fokus sama satu orang, dia suka lupa sama orang lain di sekitarnya. Hehe."
Ketika menerima kiriman postingan itu di DM, saya membalasnya dengan emotikon tawa. Namun sebenarnya masa bodoh saja. Apa-apaan. Ga masuk akal sama sekali. Begitu pikir saya ketika itu. Saya pun meng-capture-nya, sebagai kenang-kenangan saja kalau memang seperti itu sifat saya.
Dan ternyata tidak. Tidak sama sekali. Saya sama sekali bukan sosok yang digambarkan dalam postingan itu. Saya tidak romantis sama sekali. Saya tidak pintar membuat kejutan. Ketika mantan hendak berulang tahun, saya meminta seorang teman untuk bertanya apa yang dia inginkan. Kalau keinginan itu sulit untuk dikabulkan, saya akan memberinya apa yang saya miliki. Saya bukan orang yang suka membeli hadiah. Saya memberi saja apa yang saya punya.
Tapi di bagian akhir arti nama itu, saya merasa ada benarnya.
*****
Di tulisan akhir tahun lalu, saya menyebut bahwa jumlah postingan blog ini menurun di bulan Juni dan Juli. Alasannya, saya baru mulai berpacaran dan sedang dalam masa bucin-bucinnya. Dalam hubungan romantis seperti itu, saya ingin mencurahkan lebih banyak waktu untuk orang yang saya sukai. Saya akan menemaninya sebelum tidur, baik chat maupun telepon. Saya akan datang ketika ia butuh teman untuk pergi ke suatu tempat. Dan nyatanya, itu tak berjalan cukup baik.
Sikap perhatian saya sepertinya berlebihan. Hal itu tidak membuat orang nyaman dan saya akhirnya berharap sifat saya itu tidak muncul lagi. Saya, karena kesepian dan tidak punya teman, selalu ingin mencurahkan banyak perhatian kepada orang lain, agar hal yang sama terjadi kepada saya. Namun, karena itu adalah kasus yang ideal, yang diinginkan oleh saya pribadi, hal itu tidak mungkin terjadi. Orang lain tak mengharapkannya.
Kami putus untuk kedua kalinya dan kali ini sifatnya permanen.
*****
Orang lebih banyak berpikir saya adalah sosok yang egois, dan saya mengiyakan saja. Saya menerima anggapan itu dengan anggukan kepala dan gumaman tak terdengar; ya saya memang suka mengeluh. Saya tak senang bertemu orang lain yang menyusahkan. Saya tidak suka melakukan hal merepotkan. Sifat itu seolah-olah memperparah penampilan saya yang menyebalkan, karena jelek dan tidak paham fashion. Saya hanya menggunakan apa yang nyaman digunakan, meskipun tidak nyaman di mata orang lain. Sedikitpun saya tidak berusaha untuk memperbaiki keadaan.
Saya pernah punya harapan itu, namun terlalu cepat menghilang. Seseorang pernah berharap agar saya berubah namun apa yang saya lakukan tidak memuaskannya. Ia memutuskan pergi dan berharap agar saya melupakannya. Hahahah. Bagaimana mungkin saya melupakan empat bulan yang menyenangkan itu, di mana saya bersenang-senang dengan selalu melihat senyuman orang yang saya sukai. Bagaimana mungkin saya melupakan suaranya yang lucu, meskipun selera humornya buruk.
Ah, dengan tulisan ini, jelas sudah bahwa saya akan sangat sulit move on, padahal seseorang berharap kepada saya agar benar-benar melupakannya, meskipun tidak bisa menghapus foto-foto lama penuh kenangan. Bagaimana pun caranya, apa yang saya harapkan sangat sulit terjadi, apalagi kalau menyangkut dengan hubungan inter-personal. Saya lagi-lagi hanya bisa bersandar pada diri sendiri. Dan kepada Tuhan tentu saja.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?