Sepotong Batu di Dahi
![]() |
Aileen David on Unsplash |
Dua orang itu terbangun bersamaan. Mereka melihat satu sama lain sebelum akhirnya menatap langit-langit penuh dengan lukisan. Dewa-dewa, pikir mereka. "Pernahkah kau sakit kepala?" sang wanita bertanya. Ia mencari-cari tangan pasangannya, lalu menggegamnya di bawah selimut.
"Tentu saja." Lelaki itu ikut menggenggam erat, lalu memperbaiki posisi bantalnya.
"Bukankah kau akan berhalusinasi ketika sakit kepala lalu menghadap langit-langit?"
Lelaki itu mengangguk. "Antara mimpi atau nyata, aku melihat peperangan dan pesawat beterbangan. Mungkin mereka Kamikaze, atau apa pun yang ingin mencelakai diri dan berharap semua kesedihan berakhir."
"Halusinasiku tidak selalu perang," wanita itu melanjutkan cerita. "Pernah suatu kali aku berada dalam hutan penuh jamur, dan aku memilih satu-satu jamur berwarna merah. Kenapa merah? Tentu saja karena aku menyukainya. Lalu aku memakannya dengan hati-hati sembari menyingkirkan batu-batu di dalam mulut."
"Kenapa ada batu? Bukankah jamur tidak punya batang yang keras?"
"Entahlah. Itu mimpi. Aku juga tidak mengerti apa yang mimpi katakan kepadaku."
Keduanya lalu diam selama satu jam berikutnya. Detak jam dari dinding di sebelah kanan ranjang berputar tak henti-henti. Tangan mereka masih tergenggam erat di bawah selimut. Kepala hingga kaki mereka tak bergerak sedikitpun. Pendingin suhu bekerja setengah hari. Kipasnya diatur untuk dua kali lebih kencang, sehingga apa pun yang mereka lakukan semalam tak menghasilkan keringat sedikitpun. Setelah satu jam, sang lelaki menoleh untuk bertanya, apakah pasangannya merasa cukup puas. Ketika wanita itu mengangguk, mereka berdua akhirnya beranjak.
*****
Pasangan itu kemudian terlihat duduk di sebuah taman. Kini, selain berpegangan tangan, mereka juga saling memeluk: tangan lelaki kiri itu disandarkan di pundak pasangannya, sedangkan tangan kanan si wanita melingkar di pinggang. Mereka memandang anak-anak kecil yang berlarian, orang-orang tua yang menelusuri jalan setapak sendiri, dan langit sore tapi masih berwarna biru. Sebelum datang, mereka hendak membeli minum, namun masih belum merasa haus. Kini mereka sama-sama haus namun merasa sangat malas untuk beranjak.
"Maukah kau melahirkan anak-anak yang lucu?"
"Tentu saja. Kau mau ikut merawatnya?"
"Kalau kau percaya padaku, aku bisa melakukannya."
"Kalau begitu kau harus sangat sabar. Selama bersamaku kau tidak pernah sabar."
"Sedikitpun?"
"Meskipun sedikit! Bahkan semalam kau sangat cepat hingga aku tak merasakan apa pun."
"Maaf."
"Baru sekarang kau minta maaf?"
"Kau mau aku minta maaf nanti?"
"Tadi pagi! Setidaknya minta maaflah ketika kau melihatku bangun."
"Tapi aku memang sulit bangun."
"Ya tapi kau akhirnya bisa melihatku membuka mata."
"Maaf."
"Katakan maaf sekali lagi lalu kita putus."
"Bukankah kita memang hendak putus?" Wanita itu tak menjawab. Mereka terdiam untuk satu jam berikutnya, namun tetap saling memeluk dengan satu tangan di tubuh pasangan. Setelah lewat waktunya, si lelaki beranjak dan meninggalkan pasangannya sendirian, lalu kembali dengan dua gelas soda dingin. Keduanya melepas dahaga, menghembuskannya ke udara. Angin membawa biji-bijian jatuh ke tanah, mengundang merpati yang diternakkan dengan liar datang berebutan.
"Jadi," wanita itu akhirnya berbicara kepada si lelaki. "Kapan takdirku akan datang?"
*****
Beberapa hari sebelumnya, si lelaki datang dengan wajah serius. Ia bertamu untuk kesekian kali di rumah pasangannya, lalu duduk di sofa kecil dengan punggung yang tegap. Kepala lelaki itu maju, dengan tangan kanan di dagu. Si wanita menyambutnya dengan rasa senang, namun berubah manakala melihat raut wajah dan mendengar suara serius yang muncul dari pasangannya. Ia hendak bertanya mengapa, namun urung melakukannya. Ia akan menunggu lelaki itu menjelaskannya sendiri.
"Kau bukan jodohku."
"Apa?"
"Iya. Kau bukan jodohku."
"Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba mengatakan hal seperti itu?"
"Iya. Aku ingin kau putus dariku."
"WAN! Ada apa? Katakan padaku apa masalahmu lalu kita pecahkan bersama!"
"Tidak. Ini bukan masalah kita. Ini masalahku sendiri."
"Masalahmu adalah..."
"...Masalahku juga? Tidak. Jangan katakan hal seperti itu. Kau tidak punya masalah sama sekali."
"Lalu apa?"
"Aku melihat takdirmu."
"Ha? Takdir? Bukankah kau percaya bahwa tidak ada takdir di dunia ini?"
"Ya..."
"Tapi usaha kitalah yang disebut takdir?"
"Tidak. Kini aku benar-benar melihat takdirmu."
"Apa yang kau lihat dari takdirku itu?"
"Kau tidak bahagia bersamaku." Wanita itu terdiam. Punggungnya merosot, lalu kaki panjangnya terkulai di lantai. Si lelaki beranjak dari sofa, lalu pergi ke dapur dan membuka lemari pendingin. Ia kembali dengan membawa dua kaleng soda di tangannya. Ia membuka salah satunya, menawarkannya pada si wanita. Ia kemudian membuka juga kaleng satunya dan meminumnya hingga habis. Setelah minum itu, mereka akhirnya berbicara dengan lebih santai, dan saling memeluk satu sama lain.
*****
Kau tidak pernah menyukaiku. Kau hanya kasihan padaku karena sudah memendam rasa padamu hingga lebih dari setahun. Wanita itu mengangguk ketika mendengarkan rekaman yang ia dapatkan dari pembicaraan dengan (mantan) kekasihnya. Kau tidak pernah tersenyum padaku, tidak tertawa bersamaku. Kau melarikan diri dari kebersamaan kita dengan sibuk memainkan laptop atau ponselmu. Ketika aku marah dan pergi, kau sama sekali tak berusaha meraihku. Kau hanya terdiam melihat belakang punggungku. Bodoh sekali aku baru menyadarinya.
Sebaliknya, lelaki itu akan sangat membahagiakanmu: kau akan tersenyum padanya, tertawa bersamanya. Kau akan selalu menatap wajahnya yang tampan nan rupawan, selagi menyingkirkan segala kepenatan yang menyerang duniamu. Kau tak ingin terusik ketika bersamanya. Kau akan selalu bahagia. Wanita itu mulai mengangkat kepalanya dan berterimakasih dari dalam hati. Dalam takdir yang kulihat, ia adalah lelaki yang sangat tepat untukmu.
Bagaimana kau tahu bahwa ia yang tepat untukku? Wanita itu kini mulai menegakkan punggung dan memasang waj serius, ketika mendengar suaranya sendiri.
Karena kau percaya takdir.
Bagaimana caranya?
Batu ini memberiku petunjuk: ketika aku menaruhnya di antara kedua mata, maka aku bisa melihat lompatan-lompatan takdir dan masa depan. Ketika aku melihatmu, kau sedang bersama dengan seorang lelaki tapi bukan diriku. Aku tak ada dalam kisah hidupmu walau sedikit. Bahkan dalam percakapan di WA atau Instagram.
Lalu, di mana dirimu? Apakah aku tak bisa bertemu denganmu lagi?
Kau bahkan tak berharap untuk itu. Aku selalu ada di belakangmu, memperhatikan langkah dan tindak-tandukmu. Tapi sayang, kau tau pernah menengok ke belakang. Kau terobsesi dengan takdir dan semesta, lalu melupakan orang yang berjuang untuk takdirnya sendiri. Kau menghilangkan eksistensi diriku demi semestamu. Kau... tak tahu lagi aku.
*****
"Jadi," wanita itu menemuiku lagi dengan nada yang jelas-jelas marah, "akulah yang salah dalam cerita ini. Benar, kan?" Aku menggeleng. Untuk apa aku membuatnya bersalah. Dia adalah sosok yang baik, penuh senyum dan kesopanan, sangat mudah bergaul dengan semua orang. Bagaimana bisa orang seperti itu menjadi antagonis dalam kisahku?
"Karena kaulah yang menulis cerita ini." genggaman tangannya di kerahku mulai melemah. "Kau memaksaku tinggal di dalamnya, menjalankan peran sebagai seorang kekasih yang terkurung tak bisa melakukan apa pun."
"Tapi akhirnya kau keluar, kan?"
"Ya, dan aku menjadi sosok penjahat ketika berusaha keluar dari penjaranya."
"Hei, jaga kata-katamu!"
"Kau setuju. Kau mengiyakan."
"Sosok ini tak pernah membuat penjara. Akulah yang membuatnya! Kau kemudian merasa seolah-olah terperangkap dengan kebohonganmu, menimpakan kesalahan padanya. Tokohku berharga. Jangan salahkan dia!"
"Tentu saja aku akan menyalahkannya."
"Lalu," aku mengeluarkan jurus terakhir untuk perdebatan ini, "maukah kubuka semua janji manismu? Maukah kau kuperlihatkan semua kebohonganmu untuknya kepada dunia? Maukah?"
Wanita itu terdiam. Ia akhirnya mundur untuk kemudian masuk kembali dalam kertas, menyatu dalam cerita yang kutulis sore ini. Namun, pada akhirnya, tubuhnya meninggalkan jejak berupa tulisan mengancam. Aku tak akan memaafkanmu.
"Tenang saja." kataku dalam hati, menyusun kembali kertas-kertas cerita ini dalam tumpukan cerita lainnya. "Toh dia juga tak akan memaafkanmu."


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?