Porsi Digital
![]() |
Photo by Tyler Lastovich on Unsplash |
Oleh: Jefni Rawandi*
Panggung bingung dimulai pada rapat kemarin sore. Aku. Ini serius tentang aku dan puisi yang berjinjit mengitariku sejak aku duduk manis di luar. Aku mendengar para pembicara dari jendela. Aku cemas namaku disebut, tapi tiba-tiba aku jadi sangat berani karena semua pembicara meninggalkan jejak kakinya sebelah saja. "Double Confuse", sudah selesai sih, sebelum maghrib. Sampai saat ini aku tidak tau dan benar-benar mengerti, apakah puisi sudah semacam kostum sehari-hari atau semacam kualitas berpikir yang bagus dari sebuah depresi. Aku membagikan porsi bahasa-bahasaku pada setiap apa yang aku terima; tubuh, kepala, tangan, kaki, seperti rangkaian mainan anak-anak. Aku seperti orang aneh ketika aku sendiri di sebuah ruang 4x4 meter, berdiri seperti patung membayangkan gravity dan bau pylox di seluruh ruangan. Hohoho, bahkan hidungku bisa tahan dengan aneka bau kesenian. Ini unik. Walaupun sebenarnya ini juga bagian dari gimik, aku suka, aku suka sekali. Sekarang sudah serba digital, dan bahasa yang sudah kusebar pada sebuah tubuh harus muncul sebagai pernyataan perang lembut antar orang. Planet kata-kata sudah menjadi sirkulasi baik di tanganku, aku sudah terbiasa juga dengan rasa sakit, dan tidak hura-hura apabila telah bahagia.
Seharusnya keamanan tercipta di dalam dunia bahasa, membiarkan puisi kita berkeliaran tanpa harus dipukul dari belakang atau ditusuk tengkuknya ketika berjalan. Puisi adalah separuh perjalanan manusia yang menyelinap memilih menjadi berkas catatan untuk mengenai sebuah sasaran // Pembaca yang budiman. Aku juga tak tahu ini masih sekitar puisi atau sudah prosa, atau menu campuran dalam keduanya. Yang jelas aku sedikit membenci presisi. Aku tidak mengerti apabila orang-orang yang tak mau mengerti itu mencoba mendobrak keinginanku supaya terjatuh dan ditimpuk batu, dikeroyok habis-habisan hingga sekarat. Pengertian dalam digital? Oh, tidak dibutuhkan. Silahkan dengarkan lagu Billy Joel - All For Leyna. Aku kaget menemui dunia-dunia aneh di masa lalu sebelum media mencoba menguasai pola pikirku. Ternyata di sana banyak ruang-ruang putih atau abu-abu. Tidak ada ras. Kalaupun ada karena mereka gila, meski juga sesekali dibutuhkan. Aku galau. Apa yang kubutuhkan hanyalah banyak berdzikir, memusatkan ketenangan. Sebab, jangankan bahasa. Aku saja bukan milikku. Sebagian telah terbawa arus dan mati di sebuah tempat. Sebagian terbang mengisi alam baru, sebagian menetap dan menunggu terhubung kembali. Wah, ada yang aneh dengan caraku menulis.
Lupakan porsi, tetapkan kebutuhan. Buang berita kurang penting, dan mulai berinvestasi hal baik. Jangan banyak memikirkan resiko, dan konsekuensi. Kamu berhak menemui jalan keunikanmu sendiri. Dan era ini adalah era yang belum kondusif untuk mengukir sejarah, kecuali kamu ceroboh lalu beruntung, maka imbalan negara padamu adalah viral. Hah, sial. Aku mau kembali tidur ya, meski jum'atan tinggal beberapa jam lagi. Ini kegalauanku, kegalauanmu mana? Oiya. Bisakah orang bahagia menulis sebuah peristiwa.? Kalau aku galau karena pagi ini uang 50 ribu yang baru kudapat dari bisnis semalam hilang. Ini bukan bagian dari luka, tapi juga bagian dari bisnis. Jujur, ini percandaan yang adil. Terimakasih Tuhanku...


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?