Menabrakkan Tangan pada Pintu Kamar Mandi



seharusnya aku bersyair dengan kata-kata kotor
menulis dengan kalimat buruk rupa
di mejaku tergenggam sebuah kaleng soda
dan umpatan-umpatan diketik selanjutnya

seharusnya kau tahu diriku, lelaki yang hidup di jalan 
dan tak tahu arah mana yang dituju
seorang pengemis dan bayinya melewatiku
di depan lagi seorang pemulung dengan gerobak menyeret putranya tertidur

aku menggaruk leher karena gerah dan gatal
obat-obat tak manjur, salep dibersihkan dari ujung kuku
"kalau kau berkonsultasi padaku, kau akan cepat sembuh." 
kata seorang dokter sedangkan aku ingin nikmat, bukan akhir

tisu mengerang dalam wadah plastik. diseret tubuhnya menuju kekhawatiran dan ambigu
"kalau kau memakaiku, setidaknya dilipat sebelum terbuang."
aku terlalu banyak mendengar saran, namun tidak melihat diriku tercerahkan
toh kita memang hidup untuk hidup, bukan untuk melakukan sesuatu yang membanggakan

akhirnya, aku hanya menulis puisi berisi kekhawatiran akan masa depan
kenapa kau kesana lebih dulu wahai otakku? 
hatiku belum bersih
dan kata-kata kotor terjaring dalam syair

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir