Layla Majnun (2021) dalam Pandangan Feminis Amatir

Saya terpaksa menonton film Endonesa karena seseorang hendak mendiskusikannya.

"Reza Rahadian?" saya bertanya balik, menggunakan nama aktor hebat itu sebagai cara untuk memvalidasi bahwa setidaknya kita memikirkan film yang sama. Dia mengiyakan dan akhirnya saya pun mencari cara untuk menonton film itu. Saya bukan pengguna Netflix. Lima puluh ribu dalam sebulan demi berlangganan terlalu mahal untuk ukuran saya. Telegram menjadi alternatif terakhir manakala website-website bajakan belum ada yang menyediakannya. 

Kisah

Semua orang tahu kisah Layla Majnun, termasuk saya yang belum membacanya. Di film ini, cerita itu dimulai dari sosok Layla Mashabi (Acha Septriasa), seorang guru di pedalaman Kota Semarang yang (melalui dialog pemikirannya) terlihat sekali berjuang menggunakan ide-ide feminisme untuk menyuarakan persamaan derajat bagi perempuan. Ia tidak menolak kultur Jawa, melainkan menggunakan interpretasi-interpretasi baru untuk mengungkap makna sifat dan lelaku perempuan Jawa yang luhur.

Ketika Layla pulang, ia sudah disambut dengan kabar tidak sedap bahwa teman masa kecilnya, Ibnu Salam (Baim Wong) datang melamarnya. Lelaki itu datang bersama ayahnya yang pejabat, dan sudah dari awal mengatakan hendak maju sebagai bupati. Dalam pandangan umum, Layla akan sangat diuntungkan: ia akan menjadi istri calon bupati sehingga kehidupannya terjamin sejahtera. Namun, pertanyaan terbesar abad ke-21 ini bukan lagi tentang kesejahteraan, tapi, "Apakah ia akan benar-benar bahagia?"

Dalam upaya untuk mencari jawaban atas pertanyaan itu, Layla pergi ke Azarbeijan untuk memberi kuliah sebagai dosen tamu. Bukunya menjadi sangat laris di sana dan ia diundang untuk memberikan kuliah selama dua minggu tentang budaya Jawa dan segala hal yang ia ceritakan dalam novelnya. Dalam kesempatan itu, ia pun bertemu dengan Samir (Reza Rahadian) yang sejak awal tergila-gila padanya. Kisah cinta mereka berlanjut selama satu jam berikutnya, dan untuk itu saya memutuskan untuk tidak banyak bercerita.

Lubang Buaya di Mana-Mana

Teman diskusi yang saya ceritakan di awal tadi mengkritik pedas bagaimana mungkin ada kebucinan semacam itu. "IMO gak guna sih ya galau-galau sampe lupa diri cuma gegara 1 cewek. Ya kan di bumi ini ada banyak sekali manusianya 😭." begitu katanya dalam pesan WA yang ia kirim. Saya sampai mendesaknya hanya karena ia menganggap opininya terlalu subjektif. Toh, opini memang akan selalu subjektif. Bahkan Prof. Ebrahem Afsah yang mengajari saya dalam kuliah sejarah konstitusi negara Islam mengatakan bahwa kritik teori adalah kumpulin subjektifitas. Namun, karena berdasarkan data, ia patut diterima. 

Terkait komentar di atas, saya sudah mendengarnya di mana-mana: konseling, teman dekat, chat WA, bahkan keluarga sendiri. Namun tetap saja, "Tapi ada orang yang emang motivator nya adalah cinta, satu orang tertentu, jadi ga semua orang bisa jadi motivasi. Dan kalo orang kaya dia hilang, putus atau semacamnya, jadi galau setengah mati." saya berkilah, seolah-olah saya mengalaminya. Tentu saja itu opini liar. Saya tidak mungkin mengatakan hal itu.  

Namun, bukan kisah cinta a la Qais dan Layla (kemudian ditiru lagi oleh Samir) yang saya kritik dalam film ini.  Meskipun berusaha sekali untuk menunjukkan bahwa perempuan berhak menentukan nasibnya sendiri, sebagaimana yang diutarakan dalam ide-ide feminisme selama ini, tapi Layla sama sekali tidak terlihat berkuasa. Ia masuk dalam lubang buaya bernama lamaran dari teman masa kecil secara sukarela, namun sebelum ia bisa keluar, ia sudah bertemu lubang buaya lain bernama Samir. Saya sama sekali tidak melihat Samir sebagai jodoh yang datang dari tangan Tuhan. Tidak. Samir emang ga tau kalo Layla udah dilamar orang, tapi Layla juga bisa dong nolak dia dari awal.

Apalagi kelakuan Ilham dan teman sekelas Samir yang keliatan sekali berusaha menjdohkan keduanya. Film apa-apaan ini? Kalo emang pengen nunjukin perempuan sebagai sosok yang kuat, kenapa ia tidak bisa menolak situasi? Kenapa ia harus (lagi-lagi, sebagaimana film romantis dengan suasana Islami lainnya) berhadapan dengan Samir yang ditampakkan sebagai jodoh dari langit? Kenapa Layla ga bisa nolak dua-duanya?

Yah, setidaknya itu pertanyaan awal saya. Tapi ada lagi yang kedua.

Ya Kaya Gitulah Film Endonesa

Standar saya dalam memilih tontonan tidak terlalu tinggi. Saya juga menikmati tayangan-tayangan tidak umum lainnya seperti video youtuber amatir dan semacamnya. Namun berbeda halnya dengan film Endonesa. Mereka selalu punya pola yang serupa, apalagi jika kita berurusan dengan genre romantis atau film Islami. Saya sempat menyuarakan hal ini di tulisan lama, namun lupa bagaimana kesimpulannya. Dan kalau kalian menonton juga Layla Majnun versi Netflix yang kata teman diskusi saya "Sudah ada trailernya sejak lockdown tahun laluuu." mungkin kalian tidak banyak setuju. Jadi, abaikan saja pendapat saya.

Dialognya lumayan. Memilih Reza Rahadian dan Acha Septriasa merupakan komposisi kombo lawas yang sudah banyak dicoba sebelumnya. Lihat saja Test Pack (2012), Love Story (2011), dan masih banyak yang lainnya. Tidak banyak kritik untuk pengambilan gambar, kecuali film romantis Indonesia berhenti menggunakan budaya dan kota-kota indah di luar negeri sebagai latar belakang. Konfliknya memang sempat memuncak di titik hampir akhir, namun penokohan yang semakin tajam karena antagonis yang terlalu kejam membuat saya tidak respect. Alur seperti ini biasa saja. 

Yah, setidaknya ada yang bisa dipelajari dari film ini: Layla sebagai sosok perempuan memiliki kehendak sendiri. Ia berhak memutuskan masa depannya, tanpa intervensi dari orang-orang dekatnya., bahkan jika hal itu mengharuskannya bertaruh nyawa. Mungkin penggunaan kata lubang buaya dalam subjudul kedua terkesan jahat, namun itulah yang terlihat. Toh setiap orang bisa memilih lubang buayanya sendiri. Selama ia bisa menikmatinya.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir