Wanita itu... Baik-Baik Saja
![]() |
Photo by Jez Timms on Unsplash |
"Tidak bisakah kau bertahan sedikit lebih lama?"
Wanita itu duduk di hadapanku. Bising jalanan dan perbincangan orang-orang mulai tidak terdengar. Ia baru saja mengatakan bahwa ia harus pergi, tak bisa lagi melanjutkan hubungan yang kami susun satu per satu bagai istana kayu di pojok gelap semesta. Ada seseorang yang menunggunya, dan takdir berkata bahwa lelaki itulah impiannya. "Lalu kenapa kau berjanji padaku?" Ia juga tak bisa menjawabnya, bahkan aku yang mendengar semua kebaikan dan ketulusan ucapan dalam sembilan bulan.
"Kau tak akan bisa mendekatiku lagi." Ia berkata dengan lirih, tak mau suaranya terdengar oleh pelanggan kafe lain yang menikmati waktu bersama teman dan ponselnya masing-masing. Aku sempat memalingkan pandangan untuk berhenti menatap matanya, namun kuputuskan untuk kembali bersikap serius dan dewasa. Ah mungkin ini sudah terlambat: aku bukan sosok yang dewasa di matanya. "Lagipula kau tak akan memuaskanku. Kau membuktikannya sendiri."
Aku menahan tangis di titik itu. Segera saja aku beranjak dan memulai langkah takut-takut. "Terima kasih sudah menemaniku." Aku menoleh padanya dan kulihat ia masih duduk di sana, menundukkan kepala dalam balutan kerudung cokelat yang biasa kulihat. Ia memakai warna hijau ketika pertemuan pertama kami...dan kenapa aku memikirkan itu? Apa pentingnya? Tak peduli ia memakai kerudung warna apa, ia tetap akan pergi. "Temanku sudah datang. Aku akan menumpang padanya."
Ia tak berkutik, lalu kemudian mendongakkan kepala dan tersenyum. "Hati-hati di jalan. Terima kasih juga sudah datang." Seharusnya aku memohon lagi di saat itu, entah harus bersimpuh atau bersujud di kakinya. Seharusnya aku menangis dengan suara keras di hadapannya. Namun aku tetap pergi, menuju arah Utara yang menarikku lebih kencang karena semesta sadar aku tak bisa melakukan apapun. Semesta tai. Siapa lagi orang-orang yang memuji semesta ketika bersyukur dan mengutuknya ketika sial? Angin berhembus sore itu, menyisir rambut bersama sumpah-serapah di kepalaku.
*****
"Telapak tanganku terasa sakit, bisakah kau memijatnya?"
Wanita itu duduk di sampingku. Ia dengan tatapan menyesal akhirnya meraih tangan kiriku, memijatnya dengan halus dan pelan. Kami bertemu setelah aku menelponnya, mengatakan bahwa aku ingin bercerita tentang kandasnya percintaan yang baru saja kualami. Ia dengan senang hati datang, bertanya minuman apa yang seharusnya ia bawa. Sebenarnya tadi sudah kujawab bahwa ia tak perlu repot-repot membelinya, namun di tanganku kini sudah ada sekaleng minuman dingin membasahi telapak tangan kananku.
"Ah, kau pintar sekali memijat. Apakah kau tak tertarik menjual bakatmu?" Ia menggeleng. Aku pernah tau jawabannya bahwa ia tak ingin menjual apa yang seharusnya merupakan bantuan. Hah? Omong kosong macam apa itu? Begitu responku pertama kali ketika mendengarnya. Ia kemudian bercerita bahwa ia tak bisa menjual jasa, namun masih bisa mendapat penghasilan dari menjual produk. Tapi apa bedanya? Ia masih bersikeras ketika itu, dan akan tetap keras kepala untuk selamanya.
"Yah, pada akhirnya aku harus menggantungkan diri pada diriku sendiri. Bukankah begitu?" Ia mengangguk. Kami sama-sama tidak beruntung dalam percintaan. Ia tak bisa menghadiri pernikahan suami yang sudah ia terima, sedangkan aku masih belum bisa menemukan orang tepat denganku. Wanita itu terus memijatku ketika aku asik bercerita, sebelum akhirnya sebuah bola datang ke kakiku. Seorang anak kecil mengahmpiri dari jauh, menatapku dengan curiga, lalu pergi bersama bolanya. "Bukankah ia anak yang manis?" Wanita itu setuju.
"Kau dulu bilang kan, ingin sekali punya anak manis seperti kucing?" Ia tersenyum. Aku bisa memastikan bahwa ia sedang membayangkan masa lalunya, lalu bersedih lagi kenapa takdir buruk harus datang padanya secepat waktu. Dan ia benar-benar bersedih! Di saat inilah aku selalu memohon untuk tak pernah membayangkan masa lalunya, dan mendengarkan saja cerita-ceritaku. Ia kemudian minta maaf, lalu meletakkan tanganku ke paha. Tampaknya ia tahu aku terlalu nyaman, hingga terus minta dipijat meskipun tak lagi sakit. Ia mengambil botol kosong dan mebuangnya ke tempat sampah.
Kami terus duduk tanpa bicara, hingga matahari terbenam di belakang kepala kami.
*****
Bab 37: Masa Lalu di Kotaku
(dari buku "Rerum" karya Rianda)
Catatan ini segera kutulis, setelah aku tiba-tiba saja mengingat sebuah kejadian aneh yang kualami di masa kecilku. Aku baru saja hendak pergi tidur, sebelum akhirnya melompat dari kasur dan lekas pergi ke ruang kerja. Pembaca mungkin tahu bahwa sebelum aku pindah ke Ibukota ini, aku sempat tinggal di kota satelit di timur pulau. Kota ini menjadi tempatku menghabiskan sebagian besar waktu, dari SD hingga lulus SMA.
Kejadian aneh itu sendiri terjadi ketika aku duduk di kelas dua SD. Aku dan ibuku datang ke taman kota, tempat banyak sekali pedagang dan penjual makanan berjualan di sekitarnya. Ibuku mengajakku karena ia meras bosan di rumah, lalu memutuskan pergi sebentar mencari udara segar. Di usia itu, aku belum diberi ponsel, sehingga aku membawa serta bola sepakku ke taman. Ibuku duduk diam, sedangkan aku berlari-lari agak menjauh. Ia pun memperingatkanku untuk tidak bermain terlalu jauh, dengan ancaman ia akan meninggalkanku pulang. Aku mengiyakannya saja, toh aku tahu ancaman itu tak pernah ia lakukan.
Hingga akhirnya aku bertemu dengan lelaki itu.
Aku ingat sekali dengan sosoknya: berambut kuncir satu, kaus berwarna keabu-abuan, dan celana kain hitam. Ia duduk sendiri di sebuah kursi panjang, meletakkan jaket di sandaran kursi berserta berbagai minuman kaleng dingin. Di usia dewasa ini, aku akhirnya tahu bahwa minuman kaleng itu adalah alkohol. Ada banyak sekali kaleng di sampingnya, dengan bau tak sedap keluar dari tubuhnya.
Aku mendekat karena bolaku bergulir ke kaki lelaki itu. Ia menatapku lama, dan ketika aku berbalik, ia berbicara, "Bukankah ia anak yang manis?" Aku berjalan sedikit agak jauh karena merasa takut, dan akhirnya menengok lelaki itu kembali dari balik pohon. "Kau dulu bilang kan, ingin sekali punya anak manis seperti kucing." Lalu lelaki itu tertawa sendiri! Aku merinding mengingatnya, membayangkan rasa takut yang menghampiriku di usia sekecil itu.
Lelaku itu lalu menangis keras!
Tak lama kemudian ibuku datang, menarik tanganku dari belakang sembari membawa bolaku di tangan yang lain. Ia bertanya siapa yang sedang aku lihat, tapi aku menggeleng. "Kamu tak tahu kan siapa dia?" Ibuku bertanya untuk memastikan, dan aku menggeleng saja karena memang benar-benar tidak tahu. "Nanti ketika dewasa kau akan tahu siapa dia." Dan hingga saat ini, aku tidak tahu siapa lelaki itu.
Aku bertemu dengannya di masa lalu, ketika aku kecil dan tak berdosa. Melihat seseorang depresi dengan banyak sekali minuman keras membuatku mengingat kembali bagaimana seluk-beluk kota tempat masa kecilku kuhabiskan. Lelaki itu, yang tak kuketahui siapa namanya, menjadi akselerator ingatanku sehingga aku menuliskan kisah-kisah lain di bab ini. Mungkin memoar ini tidak akan banyak memiliki pembaca, namun ingatan itu adalah harta yang berharga.
Tanpa sadar aku berdoa semoga lelaki itu baik-baik saja.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?