Rantai
![]() |
Photo by Alice Barbosa on Unsplash |
"Kau sudah bangun?"
Aku baru saja membuka mata ketika mendengar suara itu dari arah yang tak kukenal. Di hadapanku adalah pemandangan kota, dengan gedung-gedung tinggi dan langit putih. Aku melihat-lihat sekitar, mencoba mengenali tempat di mana aku duduk dengan empuk. "Di mana ini?" aku tak yakin antara aku bersuara atau aku mengucapkannya di dalam hati. Dalam beberapa detik, mataku sudah terbuka lebih lebar, dan mendapati seseorang datang dengan sebuah cangkir di tangan.
"Nih, minum." ia mengulurkannya padaku. Tampaknya wajahku masih menunjukkan ekspresi bingung, dan ia hanya sedikit tertawa ketika melihatku. "Hei ini rumahku. Kau berada di rumahku setelah bertamu larut malam dan mengambil sedikit makanan di kulkas. Yah, tapi tidak kusangka kau akan benar-benar datang. Kukira kau melupakanku lalu menikmati sisa hidupku tanpa benar-benar mengenalku. Oh, iya. Kalau kau mau ke kamar mandi, kau tinggal berdiri dan menghadap arah kanan. Berjalan lurus saja, hingga kau menemukan sebuah pintu. Itu kamar mandi."
"Tunggu," lelaki ini bahkan tidak tau apakah aku mendengarkannya atau tidak, ia hanya berbicara sendiri. "Siapa kamu? Apakah kita pernah bertemu? Apa kau mengenalku?" Namun ia tidak menjawab. Ia berjalan menjauh menuju meja dapur tempat ia sudah menyiapkan beberapa masakan. Aku memegang cangkirnya yang hangat, dan menemukan teh berwarna merah bening dengan beberapa daun kecil di dalamnya. Ingin sekali kulontarkan satu dua pertanyaan, namun tampaknya lelaki itu tak peduli.
Aku berdiri dari kasur putih itu, lalu menuju kamar mandi tempat ia menunjukkannya. Jika dibandingkan dengan tempat tinggalku, rumah ini cukup bersih. Beberapa lukisan abstrak terpajang di dinding, ada pula vas bunga di pojok ruangan, dan vas-vas bunga kecil di antara bebukuan. "Kalau kau sudah selesai melihat-lihat," lelaki itu berteriak dari arah yang tak bisa kulihat. "Datanglah ke meja makan." Mendengar itu, aku masuk ke kamar mandi. Setidaknya, aku harus berpenampilan rapi di rumah orang lain.
*****
Makanannya disajikan dengan cukup baik. Ia memberiku sepiring nasi goreng dengan banyak sayuran di dalamnya. Tidak terlalu pedas, namun cukup membuatku berkeringat di dahi. "Ah, aku lupa," ia kemudian beranjak dari kursinya menuju ke tengah ruangan, mengambil sekotak tisu dari sebuah wadah berbentuk kerang. Waw, itu cukup bagus. Ia punya barang-barang yang unik, dan aku mengaguminya. "Pakai ini. Jangan sungkan."
"Siapa namamu?" Dengan nada yang sedikit berani, aku bertanya. Lelaki itu masih makan dengan lahapnya dan tampak tidak peduli. "Bagaimana aku bisa berakhir di sini? Apakah kita pernah bertemu?" Lagi-lagi, lelaki itu beranjak, namun kali ini ke arah dapur dan membawa sebuah teko kaca dengan air putih di dalamnya. Ia juga mengambil dua buah gelas, lalu kembali ke meja makan. Tanpa mengatakann apa pun, ia seolah-olah menyuruhku fokus makan dan minum saja. Ah, betapa merepotkannya.
"Tinggalkan saja piring itu di meja kalau kau selesai." Ia membersihkan piringnya, lalu mengambil segelas air putih sebagai penutup. Ketika di dapur, ia menoleh padaku dan bertanya, "Kau mau aku buatkan minuman? Kau suka kopi di pagi hari? Atau teh saja? Kalau mau minuman dingin, di kulkas ada soda dan bir. Dua-duanya kalengan. Ambil saja sebanyak yang kau mau. Aku masih bisa membelinya lagi kalau kau menghabiskan semuanya."
"Apakah kau selalu bicara sebanyak itu?" Aku membalasnya sembari duduk di sofa, tepat di tengah-tengah ruangan. Mendengar balasan seperti itu, ia mengalihkan pandangan lalu dengan sibuk membersihkan meja makan. "Berikan aku teh saja. Lagipula, aku tak butuh minumanmu. Aku lebih butuh penjelasan mengapa aku bisa berada di sini, dan bagaimana kau bisa begitu nyaman berada di dekatku, seolah-olah kita sudah lama mengenal."
"Oke, siap." Ia membalasku dengan pendek, lalu melanjutkan cucian piring. Aku mengambil remot di atas meja, lalu menyalakan tivi. Hari ini adalah akhir Desember, menjelang tahun berganti, namun itu masih terjadi esok hari. Beberapa kanal televisi memberikan laporan cuaca: akan ada mendung besar yang mungkin akan terus bertahan hingga tahun berganti. Ah, apakah akan ada bencana lagi nanti? Aku selalu berpikir bahwa pergantian tahun adalah pergantian bencana. Tak peduli apa pun yang dilakukan manusia, bumi ini juga ikut berpesta.
*****
"Mungkin kita adalah butiran nasi dalam tumpukan tumpeng, yang kemudian dimakan sebagai pengorbanan, tak memandang usia, agama, bahkan jenis kelamin." Laki-laki itu mengutarakan pendapatnya, setelah usai dengan pekerjaan rumahnya. Ia membuka kulkas, mengambil sekaleng bir dan sekaleng soda, lalu duduk di sofa, sedikit berjarak dari tempatku. "Dan orang-orang kaya, yang selalu memeras rakyat kecil dengan kapital, adalah lauk-pauk penuh protein. Mereka harus dimakan terakhiran, agar mereka tahu bagaimana rasa takut akan kematian itu selalu berada dalam benak, tak kunjung pergi."
"Apakah kau bicara tentang bencana?" aku menimpalinya. Lelaki itu mengangguk, menyodorkan kaleng bir kepadaku. "Tapi memang benar sih kalau kita bukan makhluk spesial di alam semesta. Kita hanyalahsalah satu spesies yang kebetulan bisa bertahan di planet ini. Dan untungnya, planet bumi cukup bagus. Ia cocok dengan kita yang membutuhkan oksigen dan berbagai macam unsur kimia lain yang disediakannya. Bersyukur adalah salah satu cara kita berterimakasih pada alam semesta."
"Apakah kau percaya pada cinta?" Aku tersentak. Ketika menoleh, aku bisa melihat wajah datarnya yang memandang televisi dengan mulutnya menggigit tepi kaleng. Mungkin sodanya sudah habis, dan ia tak ingin mengambil lebih banyak dari kulkas. Tapi mengapa ia membicarakan cinta? Apakah ia dirasuki sesuatu? Aku melihat keluar jendela untuk memastikan bahwa matahari masih condong ke Timur. Jam dinding di atas televisi juga masih menunjukkan pukul tujuh. Lalu, ada apa dengan lelaki ini? Hingga ia bertanya lagi, "Apakah kau percaya pada cinta?"
Aku mengangguk. Diam adalah pilihanku di saat ini, mendukung kesunyian yang baru saja memulai sesinya, membiarkan udara bersuara lirih dalam bisikan-bisikan manis tentang surga. Tampaknya lelaki itu baru saja bersedih, dan aku datang tidak pada waktu yang tepat. Ah, aku sendiri lupa bagaimana aku bisa datang ke sini! Seharusnya aku menanyakan hal itu, atau menunggunya saja mulai bercerita. Toh, aku juga tidak ada kesibukan hari Sabtu ini. Masih banyak waktu menunggu.
"Ya, aku pun begitu." Ia melangkah ke jendela, membuka salah satunya. Udara kota yang sedikit tercampur dengan polusi merangsek ke dalam ruang, Lelaki itu dengan tanpa dosa melempar kaleng sodanya keluar, terbawa angin hingga entah jatuh kemana. "Aku pun masih punya banyak sekali waktu. Ribuan tahun menungguku melakukan hal-hal penting. Namun aku terlalu takut. Aku tak berani memulainya. Mungkin ketakutan itu yang membelengguku hingga aku terjebak di sini bersamamu."
Terjebak? "Apa maksudmu?" Aku mendekati lelaki itu untuk berhadapan dengannya. Baru kali ini kemudian ia menatap mataku lebih lama, meskipun tatapannya tak terlalu dalam dan mengintimidasi. "Kau bilang aku ke sini dalam keadaan mabuk dan bertamu di waktu yang sangat tak pantas. Apa maksudmu dengan terjebak? Apakah itu kiasan? Apakah saat ini kau mencoba serius untuk bicara denganku setelah sejak tadi kau hanya mengabaikanku?"
"Lihatlah ke dalam matamu." Lelaku itu duduk di kasur, menghadapkan wajah dengan lemas ke arahku. "Kau terjebak di sini denganku."
*****
Kisahnya bermula ketika kami mulai saling mencintai.
Pada suatu pagi yang aku lupakan angkanya, sebuah rantai muncul di rumah kami. Aku awalnya bingung bagaimana sebuah rantai besar terlihat di rumah. Seolah-olah kami memelihara sebuah binatang besar yang tak boleh lepas dari pengawasan dan akan berbahaya kalau berkeliaran. Ujung rantai besar itu, mengikat kakinya, dan ketika aku bertanya.
"Hah? Rantai apa?" Ia tak tahu. Ia tak menyadarinya. "Lekas berwudhu dan sholat dhuha dua rakaat. Aku hendak pergi bekerja pagi-pagi agar bisa menyelesaikan banyak hal." Aku terus mematung selama sekitar dua jam, untuk kemudian melihat bagaimana sebuah rantai besar dengan sangat mudah berkeliaran di sekeliling rumah, karena ia pergi ke sana kemari. Suaranya sangat keras ketika menggesek lantai, hingga aku khawatir ia akan menggores keramik. Kekasihku itu kemudian mewajarkan sikapku yang tidak melakukan apapun, menganggapku bolos kerja.
Namun, di mana ujung satunya? Ketika pergi, kekasihku melambaikan tangan, dan aku membalasnya dengan enggan. Sepertinya rantai itu terus memanjang. Ia mengikat kekasihku tapi tak menariknya dalam batas tertentu. Ketika aku mengulurkan tangan untuk menyentuhnya, AKU BISA! AKU BISA MEMEGANGNYA! Kuikuti terus rantai itu untuk kemudian sadar bahwa rantai itu berujung di diriku.
Rantai itu, muncul dari hatiku.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?