Membayangkan Rasa Frustasi
![]() |
Photo by Alexandre Brondino on Unsplash |
Nama Tania Li sebagai antropolog sudah lama saya dengar, kira-kira sejak semester ketiga perkuliahan yang kemudia ia sering disebut dalam mata kuliah Antropologi Pembangunan. Ia dikenal karena risetnya di Sulawesi, dan kami -mahasiswa sarjana antropologi- membaca tulisan-tulisannya yang kritis terhadap proyek pembangunan nasional bahkan sejak masa Orde Baru. Namun, jatuhnya Soeharto tidak membuatnya berhenti. Sebagaiamana kita saksikan bersama, derap pembangunan negeri ini, terutama untuk wilayah luar Pulau Jawa atau Indonesia Timur, masih tertatih-tatih dan belum menemukan ritme yang tepat.
Oleh karena itulah saya bergegas membeli salah satu karyanya yang dikabarkan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Land's End: Capitalist Relations on Indigenious Frontier yang terbit pada 2014 di Amerika diterbitkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Kisah dari Kebun Terakhir: Hubungan Kapitalis di Wilayah Adat pada Agustus tahun kemarin. Buku yang dipersembahkan oleh Tania Li untuk ibundanya ini menggambarkan dengan jelas apa yang terjadi dalam dinamika pembangunan lokal.
Masyarakat Adat
Hal pertama yang ingin sekali saya tulis adalah bagaimana masyarakat adat didefinisikan. Tania Li mempelajari masyarakat perbukitan Sulawesi Tengah yang disebut Lauje: mereka dianggap terbelakang, sedikit memiliki kontak sosial, dan tersisih dari wilayah padat pesisir yang menjadi pusat kota. Dalam mendefinisikan masyarakat adat, setidaknya ada dua alat yang perlu digunakan, yaitu sistem warisan dan pembagian lahan.
Masyarakat Lauje tinggal di perbukitan penuh hutan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka menanam berbagai tanaman pangan dan komoditas. Hal yang paling mencolok adalah bagaimana mereka tidak menetapkan suatu sistem kepemilikan yang pasti: lahan dimiliki oleh yang pertama membukanya, dan boleh dipinjamkan kepada sesama keluarga atau tetangga. Dengan begitu, kepimilikan lahan berada di tangan leluhur, yang sudah lama meninggal dunia dan tabu untuk menyebut namanya. Anak-cucu dan generasi setelahnya adalah peminjam, yang memakainya secara bergantian.
Tania Li menjelaskan bahwa pandangan ini akan sangat berbeda dengan pemikiran mainstream masyarakat modern. Namun, praktik ini sudah banyak ditemukan dalam masyarakat perbukitan di Asia Tenggara sehingga tidak khas sama sekali. Ia hanya jarang ditemukan sehingga sulit untuk dipahami. Oleh karena itu, ketika kakao muncul sebagai komoditas yang membutuhkan lahan permanen, kebingungan melanda semua orang dan praktik alih kepemilikan dipertanyakan.
Praktik Riset
Dalam penelitiannya, Tania Li mengaku butuh sekitar 20 tahun (1990-2009) sehingga ia bisa melihat perubahan-perubahan praktik penggunaan lahan dan pembagian kelas yang sangat kentara. Namun, hal yang baru saja saya pahami dari praktik risetnya, adalah ia datang ke Lauje secara temporal, tidak menginap dalam kurun waktu lama sebagaimana selama ini saya pahami tentang riset antropologi. Total, ia tinggal di sana selama setahun, dengan mencicil selama sebulan dari tahun 1990 sampai 2009. Dengan begitu, ia bisa melihat perubahan sosial, dan mencatatnya dengan teliti.
Sebelum ke bagian akhir, saya merasakan bagaimana Tania Li merasa frustasi. Penulis ilmiah memang tidak boleh menyertakan emosi dalam risetnya untuk menghindari reliabilitas. Namun, membaca tentang bagaimana kesulitan-kesulitan lahan dan konflik sosial yang terjadi dalam kurun waktu yang cukup lama akan membuat pembaca sendiri turut merasakan frustasi itu. Membaca Kisah dari Kebun Terakhir seolah-olah menonton serial Reply dari 1988, lalu 1994, dan terkahir 1997. Semua kisah berkelindan dalam satu ruang waktu, namun mengambil perspektif yang berbeda.
Secara keseluruhan, buku ini sangat bagus untuk dibaca. Ini adalah buku etnografi pertama yang berhasil saya khatamkan, dan kisahnya membawa saya pada kehanyutan pikiran yang mendalam. Sampai saat ini, saya masih berpikir bagaimana bisa kemiskinan kultural diciptakan dengan begitu mudah. Namun, kita tidak bisa menyalahkan masyarakat. Manusia, sebagai komponen terkecilnya, memiliki insting untuk bertahan hidup dan bersaing dengan yang lainnya. Setidaknya, inilah yang bisa diceritakan Tania Li, tentang bagaimana kapitalisme itu tidak datang dari luar, tapi muncul sendiri di tengah-tengah masyarakat.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?