Langit Mendung Pantai Selatan


Photo by Eric Muhr on Unsplash

kudengar di luar hujan, benarkah?
karena itulah kau melarangku berkunjung
menyempatkan doa dalam tanah leluhur
toh angin dan air tak mengejarku
ditangkap dalam setiap kesempatan beku

kulihat kau baik-baik saja, iya kah?
ribuan hari berlalu dan kau tak memberi kabar
kalau kita bertemu jangan lupa menggenggam tanganku
halus kulitmu yang paling kurindu

*****

bagaimana kabarmu, aku tidak tahu
tapi bukankah kau selalu "baik-baik saja"?
entah angin doa mana yang datang
aku selalu mengirimkan satu dua 

bagaimana aku harus datang jika langit menatap mata kita?
ditusuknya dedaunan dengan hujan
mendatangkan bahaya beserta kiamat yang cukup besar
bukankah itu cukup menjengkelkan?

ah, imaji makanan. kenangan kita dipenuhi imaji:
kucing-kucing kecil, pemandangan alam
dirimu, diriku
dan helaan napas yang tak berhenti

*****

kau tak pernah sekalipun menyukaiku, kan?
aku tahu
aku hanya lelaki kecil dengan rupa menyebalkan
yang muncul setiap waktu

kalau aku di langit, aku ditakdirkan jadi awan mendung
yang tak lekas memberi hujan
hanya berdiam diri
dan membuat tubuh gerah

kalau di laut aku jadi ombak pantai selatan
yang tinggi namun tidak cukup ditunggangi
kalau di antara manusia aku bernama
dan sering dihindari

*****

kudengar di luar hujan, benarkah?
oleh karena itulah aku tidak tahu kabarmu
percakapan kita terhenti di langit mendung pantai selatan
makhluk kecil ini tidak pantas memulainya

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir