Darah dan Teman: Randomly Stories


Photo by Max Muselmann on Unsplash
Sebuah pintu lain terbuka. Dari balik daunnya, melangkah masuk seseorang dengan latar penuh cahaya. Pintu itu sendiri disusun atas nama cahaya, dan aku tidak dapat memandangnya. "Kaukah yang memanggil akhirat lebih cepat?" Sosok itu bertanya memastikan, dengan nada yang cukup mengintimidasi. "Kaukah yang mengulurkan darah di tangan sendiri, dan tidak berani menunduk untuk melihatnya dengan mata telanjang?" Aku mengangguk. Dalam beberapa menit, aku terdiam untuk melihat sosok itu sibuk dengan buku catatannya.

"Tapi kau cukup baik." Sosok itu menatap mataku. "Kenapa harus lebih cepat? Apakah seseorang menghancurkan hatimu? Apakah ia merobeknya? Apakah tak ada yang peduli padamu? Apakah kau tak bisa membatalkan pengakuan darah ini?" Aku menggeleng. Sosok itu lalu terlihat menghembuskan napas, menyandarkan tangannya pada pintu lalu membuka lagi buku catatannya. Aku dengan sigap berdiri, dengan tangan penuh darah, dan siap mengikutinya kemanapun ia pergi.

"Ya. Kau boleh ikut denganku!" Ia memberikan jawaban tanpa kutanya, dan aku pun melangkah di belakangnya. Melewati pintu cahaya itu saja sudah cukup sulit, apalagi hidup di baliknya. Tampaknya sosok itu sangat ramah, hingga ia bertanya tanpa repot-repot menoleh, karena apa pun pertanyaannya aku akan tetap mengangguk. "Kau memang berniat hidup di akhirat, kan?" Selanjutnya kami tertawa, meninggalkan tubuh dan kamarku di belakang wajah.

Aku tidak niat berpaling.

*****

"Hei, Rid!" Aku menoleh kepada teman yang memanggilku. Ia berteriak dari arah kamar mandi, tempat kami menjemur sebagian handuk pada seutas kawat panjang bergerigi. Rumah kontrakan kami mendapat sebuah surat undangan dari ketua RT, untuk ikut serta dalam upacara kematian seorang warga. Kami bersiap pagi-pagi sekali setelah mendengar kabar kemarin sore dan undangan disebar malam harinya. Warga itu akan dimakamkan pagi ini, dan saya baru saja selesai mandi.

"Ay, kenapa?"

"Wajah kamu ga papa?" Ha?? Aku keheranan dalam hati. Apa yang ia bicarakan?

"Handuk kamu berdarah."

"Oh, ya? Sumpah?" 

"Ini." Temanku itu menjulurkan handuk putihku, dan dengan jelas di sananya sebuah noda besar berwarna merah. "Kamu ga papa?"

"Dari mana darah ini? Bukan dari kamu, kah?"

"Bukan, Rid." temanku itu dengan gemetar mengatakannya padaku. "Kau tidak mau melihat cermin?"

"Ada apa memang dengan wajahku?" Aku menghampiri cermin yang terletak agak jauh di tengah-tengah rumah, sejajar dengan dinding dapur dan kamar mandi lainnya. Dan ketika aku melihat wajahku, kakiku mundur. Aku tanpa sadar melangkahkan kaki ke belakang lalu menabrak meja makan. Temanku itu datang menghampiri dan berdiri di sampingku.

"Hei, apa yang terjadi padaku! Kenapa wajahku jadi begini?" Di cermin itu, aku melihat sebuah wajah yang kukenal selama belasan tahun, namun penuh dengan garis hitam yang mengeluarkan darah segar. Garis-garis itu terlihat tajam, dengan satu dua melintasi hidung atau merobek mulut. Mataku juga menjadi lebih merah, namun tanpa lingkaran hitam di dalamnya. Aku menoleh pada temanku, sembari bersandar pada meja, dan berusaha meraih kursi agar aku dapat duduk. "Ada apa ini? Apakah kau tahu penyebabnya?"

"Ah, jadi kau baru sadar?" Aku mendengarkannya dengan seksama. Ia kini berbicara di hadapanku tanpa nada gemetar, tidak seperti sebelumnya. "Kau bunuh diri, Rid. Kau merobek wajah dan menghancurkan rupamu."

"Tidak mungkin! Untuk apa aku melakukannya?"

"Kau patah hati, dan tidak ada yang bisa menyelamatkanmu karena kau hidup sendiri." Aku masih mencerna kata-katanya, mencoba mengingat kembali alasan diriku patah hati atau bagaimana caraku mati.

"Tapi hanya dengan itu aku tidak bisa mati."

"Bisa," ia kini mendekat. "Kau hanya menangis dan tidak berteriak. Lalu kau kehabisan darah, pingsan, dan dalam beberapa jam kau muncul dari tubuh itu, sebagai ruh. Kau berpikir kita diundang untuk upacara kematian seseorang yang wafat kemarin sore, padahal itu dirimu." Aku masih terhenyak, dengan kenyataan tak mungkin yang diceritakan temanku...

"Ah, iya. Aku hidup sendiri!" Aku melangkahkan kaki lebih jauh, mundur dari sosok yang kusebut sebagai "temanku" itu. "Lalu kau siapa? Kau bukan temanku! Kenapa kau ada di sini? Bagaimana kau tahu diriku?"

"Aku memang temanmu, Farid. Aku temanmu." Ia tidak mencoba melangkah lebih dekat, namun memutar melewati meja makan dan sofa, untuk kemudian menghampiriku yang tidak bisa berkata-kata. "Kau menyebutku dengan berbagai macam nama: kesepian, kesendirian, dan kematian. Kau menyebutku pada puisi-puisi yang kau tulis dalam perjalanan penelitian, atau kau ketik dalam jurnal harian pribadimu. Kau juga menyebutku di dalam hati, ketika kau menangis dan Pada intinya, aku tahu dirimu. Dan aku muncul sebagai teman yang mengingatkan dirimu apa yang terjadi saat ini." Di detik itulah, aku berteriak sangat keras. Kubayangkan rupa wajahku yang rusak, dan berakhir menangis di pelukan sosok teman itu. 

"Kini kau tak lagi kesepian. Akan selalu ada aku yang menemanimu." 

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir