Ouch


Photo by Nick Fewings on Unsplash
It's so sick you know? it's so hurt.

Saya baru saja melakukan satu sesi konseling untuk mengatasi kesedihan saya yang berlarut-larut selama tiga bulan terakhir. Siang ini, seseorang hendak menelpon saya. Keinginannya itu sudah ia sampaikan semalam, menjelang dini hari, namun ia menundanya hingga siang menjelang sore ini. Pada akhirnya, kami berbicara di LINE call. Ia hendak menceritakan sesuatu yang menurutnya akan membuat saya bersedih. Tanpa tahu apa itu, saya menerimanya saja. Saya sudah memikirkan banyak skenario terburuk dalam pikiran, dan berharap tidak terlalu mengagetkan.

Pada intinya, ia bercerita bahwa ada seseorang yang melamarnya ketika ia pulang. Dan ia mengiyakan. Dia menerimanya. Ah, betapa hebat rasa sakit itu. Bahkan saya masih merasakannya hingga saat ini. Perbincangan kami sudah lama berakhir, dengan ucapan selamat dan doa-doa baik di mulut. Namun saya mendebatnya dalam percakapan. Saya menanyakan apa yang selama ini sudah menjadi kegelisahan saya, dan datangnya lamaran yang itu sama sekali tidak masuk dalam skenario buruk. Saya luput memikirkannya. Saya berpikir hal itu tidak akan terjadi dekat-dekat ini. 

Ah pasti saya buruk sekali. Saya masih mengemis-ngemis seolah-olah tidak punya harga diri. Tapi memang ada harga diri di hadapan cinta? Ketika saya menyukai orang, saya tidak punya sedikitpun harga diri. Sama seperti jutaan dan ratusan juta dan miliaran orang di bumi ini. Saya adalah bagian dari umat manusia yang kehilangan akal sehat ketika kasmaran, ketika diputus, dan ketika mendapat kabar buruk berupa kabar baik. Mulut saya masih mengeluarkan suara-suara aneh. Saya tak percaya hal itu bisa sesakit ini.

Andaikan saja saya punya keberanian untuk datang lebih dulu, mungkin saya tidak akan kehilangan kesempatan. Saya selalu berpikir bahwa ketika seorang lelaki sudah datang melamar tidak butuh waktu lama untuk kemudian ia menikah. Saya selalu berpikir seperti itu. Dan ketika kenyataan berbeda dengan bayangan saya selama ini, saya kaget. Hei, kau juga bisa datang melamarnya! Kenapa tidak? Toh saya juga butuh waktu untuk lulus dan melakukan banyak hal. Kalau dia bisa menunggu kenapa ia tak mengatakannya?

Auh, sumpah. Saya masih melakukan satu kali sesi konseling dan akan datang lagi kamis depan. Mengapa di tengah-tengahnya saya mendapat luka besar? Kenapa ini terjadi? Apa otak saya juga tidak hebat dalam memandang kenyataan? Apa saya memang harus melalui hal ini? Sungguh ini berat sekali. Kenapa saya tidak sekalipun terpikirkan untuk segera melamarnya ketika ia saja bisa menunggu, dan malah memutus kontak? Mengapa saya masih berusaha berhubungan dengan cara yang tidak ia sukai. Sungguh. Ini bodoh sekali. 

Saya berharap bisa menyelesaikan tulisan ini di sini, tapi rasa sakit ini terus terasa. Jari-jemari saya secara otomatis ingin menceritakannya, otak-otak saya menerjemahkan perasaan itu dengan nyata. Auh, bagaimana ini? Apa yang orang lain pikirkan ketika mereka dalam situasi seperti ini? Bunuh diri? Minuman keras? Obat-obatan terlarang? Apa yang mereka lakukan? Apakah tepat jika saya menulisakannya secara lugas di sini? Saya tidak tahu. Tolong beritahu saya. Tolong beritahu apa yang musti saya lakukan. 

Komentar

  1. Iya, seperti itulah yang aku rasa. Wkwkwk. Semangat semangat. Masa depanmu masih panjang. Ada banyak hal yang perlu di tuntaskan.

    BalasHapus

Posting Komentar

Apa pendapatmu?

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir