tentang kegelisahan dan doa-doa lainnya


Photo by Gemma Evans on Unsplash
Selamat malam.

Saat ini dini hari. Saya baru saja sadar kembali setelah tidur panjang akibat kegelisahan sepanjang hari. Ya. Anda tidak salah baca. Saya ternyata juga punya masalah mental karena selama ini tidak percaya diri. Untungnya, beberapa tugas berhasil saya cicil, dan apa yang akan nanti saya kerjakan di UAS mulai terlihat di depan mata. Sayangnya, saya masih rabun jauh. Saya tidak punya biaya untuk operasi sehingga masa depan yang amat jauh belum dapat saya lihat dengan jelas. Untuk saat ini, saya akan mengerjakan apapun yang bisa saya lakukan. 

Omong-omong masalah kegelisahan, itu memang bukan pertama kali. Saya sudah pernah mengalami hal-hal serupa namun tidak saya sadari hingga saat ini. Bahkan saya masih bertanya-tanya, benarkah saya punya masalah mental? Saya berharap tumbuh sebagai orang biasa saja. Tidak punya masalah berat, tidak punya penyakit berat, atau pun kisah-kisah bagus untuk diceritakan. Meski punya ambisi untuk dikenal di kemudian hari, saya berharap itu di lingkup kecil saja, tidak di lingkup luas hingga semua orang di seluruh dunia tahu.

Tapi benarkah kegelisahan itu nyata? Atau saya hanya mengambil kesimpulan acak dari bacaan-bacaan saya terhadap sumber-sumber yang mengatakannya? Meskipun peduli terhadap penyakit non-fisik, saya tidak tahu pasti apa itu penyakit mental. Saya merasa perlu bersikap hati-hati, agar tidak sembarangan menyebut apa yang saya alami sebagai gejala umum. Mungkin hanya saya sendiri yang merasakannya (meskipun tak mungkin). Atau saya hanya kurang banyak berdoa sebagaimana yang disebutkan orang-orang tua. Intinya, saya merasa gelisah. Dan lucu juga kalau misalnya saya punya penyakit mental.

Untuk itu, saya menghubungi beberapa teman. Ada yang membalas, ada pula yang berhenti di tengah-tengah. Pada akhirnya, hanya diri saya sendiri yang berhadapan dengan kegelisahan itu, berharap ia segera berhenti dan saya bisa beristirahat. Saya merasa sedikit tersiksa, sebelum akhirnya merasa capek sendiri dan tertidur. Ada air mata di bantal teman yang saya pinjam. Sepertinya saya terlalu capek hingga menangis. 

Ah, karena sudah malam, saya akan melanjutkan tugas yang belum ditutup. Mohon doanya untuk UAS besok dan semoga permohonan magang saya di fakultas diterima. Saya akan mencoba hidup baik-baik saja dan merasakan kegelisahan seperti manusia lainnya. Selamat malam.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir