perjuangan saya selalu berakhir berantakan


Photo by NeONBRAND on Unsplash
Namun saya masih yakin punya kesempatan untuk memperbaikinya. Sebagai seorang manusia, yang punya mimpi akan masa depan dan orang-orang yang perlu diperjuangkan, saya tidak mau berhenti. Kegagalan ini adalah bagian dari pengalaman, yang menghancurkan fisik dan mental saya, namun masih mampu saya rajut kembali dalam bongkahan kaca. Pada akhirnya, saya berharap ada seikat bunga di depan wajah, bersama akar dan jemarinya yang lembut menyentuh jernih air sungai. 

Tapi ini terjadi berkali-kali. Tidak pernah berhenti sekali-kali untuk memberikan ucapan selamat. "Kamu hebat, Rid. Kamu hebat." Saya mengatakan itu kepada diri sendiri seolah tak yakin. Kalimat baik hanya akan memperburuk suasana. Kalimat buruk memang menyakitkan hati, namun membuat saya berjuang lebih atas nama benci. Konon, matahari tercipta dari kumpulan gas-gas angkasa yang tak tahu hendak pergi ke mana. Saya tak mau menjadi matahari. Ia terlalu panas dan menghangatkan orang-orang yang jaraknya cukup jauh. Saya tidak mau menghangatkan orang lain. Saya ingin menjadi dingin dan tak terlihat. 

Ah, seharusnya aku mendengar diri sendiri. Tidak berbicara pada orang lain dan menanyakan segala hal. Interaksi yang semakin banyak hanya akan melukai. Hubungan yang terlalu serius bahkan menyimpan dendam-dendam terdalam. Kalau ingin ditanyakan, atau diucapkan lantang, ia merusak suasana. Merobohkan kaca-kaca dan runtuhannya menyakitkan juga. Itulah alasan saya menjadi sendiri. Saya terlalu takut. Orang-orang akan menatap mata saya seolah-olah penyihir dari abad ke-16. Nyamuk-nyamuk berdering di telinga, rambut saya berantakan dengan leher tergantung di tali.

Adakah alasan lain. Kau temukan sendiri. Kau yang terluka.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir