Mengeluh di Hari Sabtu 2: Praktikum, Magang, dan Berhenti dari Kegiatan Tidak Menyenangkan


Photo by Muhd Asyraaf on Unsplash: Peter Parker magang di Stark Industries
Tiba-tiba saja, saya merasa bersalah pada hari ini.

Saya tidak melakukan apapun. Saya hanya tertidur dari pagi, lalu bangun dan menonton Running Man sambil tetap rebahan. Saya tidak berniat memasak, karena masih bisa menahan lapar setidaknya sampai sore. Saya tidak belajar, sebagaimana yang saya lakukan pada akhir pekan. Membuka buku pun tidak. Jadwal wawancara saya kosong karena surat pengantar dari kampus belum turun sedangkan saya musti bertanya pada kepala-kepala RT di daerah Kerto. Saya tidak melakukan apapun hal yang produktif dan merasa bersalah pada diri sendiri.

Maka dari itulah saya menulis ini.

Akhir-akhir ini saya berusaha untuk melakukan banyak hal, sekaligus mengurangi hal lain yang mengganggu kesenangan. Saya memutuskan untuk tidak lagi aktif di UKM, dan tetap berada di grupnya saja. Biasanya pada hari Sabtu saya akan menulis MONIQ (yang saya share juga di tautan pribadi), namun tidak tertarik. Peristiwa seminggu yang lalu, pembakaran beberapa rumah dan pembunuhan satu keluarga di Sigi, sempat ingin saya bahas, namun niat itu saya urungkan begitu merasa malas. Semoga mereka tenang di alam sana, dan keluarga yang ditinggalkan mendapatkan ketabahan. Amin. 

Ayah saya ingin memulai kanal YouTube pribadi. Rencananya, ia akan mengobrol dengan teman-teman atau kenalannya untuk membicarakan banyak hal terkait pendidikan tinggi Islam atau seluk-beluk kehidupan PNS. Ketika masih di rumah, ia sering berbincang dengan saya, menanyakan apa yang harus ia lakukan kalau memiliki rencana seperti itu. Saya -tentu saja- tidak bisa memberikan banyak nasihat, namun memberikan beberapa tips sebagai sesama konten kreator. Hei, ingat ya. Saya menulis sendiri tulisan di blog ini. Meskipun ada beberapa naskah teman yang saya minta. 

Jum'at kemarin saya memberanikan diri pergi ke Kerto, mencari Ketua RT dan berhasil bertemu. saya meminta waktu untuk wawancara, namun ia malah menasihati saya untuk meminta surat pengantar dari kampus. Sisanya Anda tahu sendiri. Saya berjalan kaki jauh ke sana kemari hanya untuk mendapat kesia-siaan. Untungnya, PAk RT itu masih mau menerima tawaran wawancara dan memberikan waktunya setelah maghrib. Saya pun pergi kediaman beliau dan melakukan wawancara. Tidak banyak info yang saya dapat, namun akan menjadi cukup manakala saya tambahkan dengan data yang lain. Pak RT itu tipe orang yang memberi balasan dengan jawaban, "Yah, kan bisa dilihat sendiri." Ga membantu banget.

Orang-orang juga mulai membicarakan magang, seolah-olah itulah yang pasti akan mengantar mahasiswa menuju surga. Ketika saya sesekali melihat WA (karena semua grup saya bisukan), ada lebih dari 50 percakapan, dan semua orang membicarakan hal itu di berbagai grup. Saya tidak tertarik membahasnya, karena belum ada info resmi dari fakultas. Kalau pun ada, saya akan mendiskusikannya dengan Pak Hatib selaku dosen PA saya. Namun, sudah ada beberapa teman yang mengaku daftar di semester depan. Yah, semoga mereka sukses. Kalau emang ingin sekali lulus cepat, itulah langkahnya.

Entah ya, saya merasa seperti semakin hopeless dengan keadaan. Kadangkala, saya merasa begitu senang ketika mewawancarai informan, dan membayangkan masa depan (buram) sebagai ilmuan sosial. Saya ingin mendirikan lembaga riset, memiliki gedung sendiri, dan dari sanalah sumber penghidupa saya. Entah teman-teman saya akan menjadi antropolog atau tidak, saya ingin mengajak mereka. Saya juga ingin mengajak teman-teman lama dan kembali merasa akrab. Saya tidak yakin akan punya banyak kenalan di masa depan. Oleh karena itu, saya akan memanfaatkan yang sudah ada dan mengolahnya kembali.

Kalau begitu, kita beri judul tulisan ini "Mengeluh di Hari Sabtu" lagi.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir