Malaikat Miskin


Photo by Štefan Štefančík on Unsplash
"Menurutku, kita tidak akan pernah menjadi teman yang seakrab itu."

Lelaki itu mengungkapkan pendapatnya. Selangkah di depannya, seorang wanita berjalan dengan ransel coklat dan langkah tegap. Keduanya berjalan kaki menuju tempat pertemuan, di mana mereka akan makan malam bersama teman-teman lain setelah lelah melakukan penelitian. Kota tanpa trotoar ini juga tidak memberikan keduanya kesempatan untuk berjalan bersama. Seolah-olah mereka harus berbaris, agar tidak terserempet oleh motor atau mobil. Lalu lalang kendaraan sangat kencang. Asap kendaraan beradu dengan aroma makanan yang dijual di pinggir jalan. Kota ini terlalu menarik. Malaikat pun kalau miskin akan tinggal di sini.

"Apa alasannya?" Wanita itu membalas tanpa berbalik. Perkenalan mereka belum mencapai setahun, lelaki itu agak canggung. "Apa karena aku tak menarik?"

"Tidak, tidak. Kau sangat menarik." Kalau diberi kesempatan memotong kalimat lelaki itu akan melakukannya. Kontur aspal yang tidak rata memaksanya naik turun, mengikuti akar-akar pohon besar. "Kau cantik, pintar, dan bergaul dengan orang banyak. Sosok sepertimu terlihat sempurna. Kau akan sangat diterima dalam masyarakat kita. Sedangkan aku sebaliknya. Aku bukan orang yang akan dicari. Aku bahkan tidak dibutuhkan dalam agenda penelitian ini. Kalian harus bekerja sama denganku karena tim lain sudah penuh."

Wanita itu berhenti, menarik lengan lelaki itu untuk menepi. Keduanya pun berakhir di depan sebuah ruko yang tutup. Sliding door-nya penuh dengan coretan dan gambar. Lelaki itu sedikit menunduk karena teman seperjalanannya itu menatapnya dengan tajam. Ia tidak mampu melihat wanita marah. Ia membencinya. "Untuk apa? Untuk apa pemikiran seperti itu? Apakah kau ingin hilang? Kau tidak ingin dikenal?"

Sayangnya, si lelaki mengangguk. Muntablah kemarahan si wanita.

"Yah! Terima sajalah kepengecutanmu! Hilanglah dari dunia! Mintalah pada seorang penjahat untuk membunuhmu dan membakar mayatmu hingga tersisa tulang-belulang! Pergilah ke Selatan dan lomptalah menuju laut terdalam! Toh, masyarakat kita memang tidak menerimamu. Kau tidak pernah melakukan sesuatu dengan niat sepenuh hati. Kau tidak pernah mampu menyelesaikan tugas dengan sempurna. Kau dipenuhi pesimisme dan nyatanya hanya itu yang tersisa. Kau tidak berusaha untuk memperbaiki keadaan dan melanjutkan hidup. Matilah dengan rasa penasaran akan masa depan! Pergilah!"

Untuk sesaat, alam semesta terdiam. Pikiran lelaki itu menghilang dalam kegelapan. Matanya menjadi buram. Ia menunduk terlalu dalam hingga tak sadar memimpikan galaksi dan awan-awan. Ketika seorang pengendara motor melju kencang dan menggeber knalpot dengan suara keras, lelaki itu terhentak. Ia sadar dari lamunannya dan meneteskan air mata. Wanita di hadapannya merasa bersalah, membuka tas menawarkan tisu. Wanita itu bahkan hendak menghapus air mata dari pipi si lelaki sebelum dihentikan oleh kesadaran.

"Apakah kita jadi makan?" Lelaki itu mengalihkan topik, menatap arah lain untuk menghapus sisa-sisa air mata. Ia mencoba berganti arah, dari gedung-gedung tinggi, ruko yang ditinggal penyewa, tumpukan sampah, pertigaan jalan, atau restoran Amerika dengan cahaya gemerlap di mata. Ketika tangisnya habis, ia menoleh pada wanita itu dengan senyum. "Apakah sudah ada pesan dari teman-teman kita? Jangan-jangan mereka tidak jadi datang."

"Kenapa kau bilang begitu?" Wanita itu merasa bersalah, apalagi menghadapi orang yang berpura-pura bahagia. Dalam hidupnya, ia sudah banyak belajar dari kekecawaan. Ia tak lagi mengharapkan orang-orang di sekitarnya akan tersenyum dengan kehadirannya. Ia hanya tak ingin orang lain menjalani hidup dengan kepalsuan. Kedua orang tua dan kakaknya sudah melakukan itu, orang lain tak perlu. "Kau tak mau ikut?"

"Bukan begitu." Si Lelaki menunjuk langit. "Sebentar lagi hujan."

*****

Hujan benar-benar datang sepuluh menit kemudian. Wanita itu bertanya-tanya bagaimana si lelaki bisa menebak cuaca. "Apakah kau belajar sesuatu?" Ia bertanya untuk memuaskan rasa penasaran. Teman perjalanannya itu menggeleng. Ini bakat, katanya. Tapi, bagaimana? Bagaimana mungkin seseorang punya bakat memprediksi cuaca? Mereka masih berada di ruko yang sama, sebarisan paving yang serupa. Hanya langit dan waktu yang berbeda. Kedua zat itu berubah, menampakkan kesedihan masing-masing yang bersandar pada takdir.

"Ya, sama seperti yang dilakukan BMKG. Mereka juga memprediksi cuaca. Hanya saja, Tuhan memberiku bakat itu dengan cuma-cuma. Mungkin Tuhan juga memberikan sesuatu padamu. Kenapa kau tak menghitung kecantikan?"

"Ini usaha. Aku dulu tidak cantik sama sekali." Ia bersandar pada sliding door dan menjulurkan kaki. Sebagian rintik hujan mencapai betisnya. Ia kemudian menarik kaki dan menutupnya dengan atasan hitam yang panjang. "Hanya kehidupan, dan aku harus memperjuangkan sisanya sendiri."

"Ah," Lelaki itu perlahan mengerti. Sebenarnya, Lelaki itu juga bisa memprediksi waktu. Ia tahu masa depan wanita yang duduk di sebelahnya, ketika ia punya kesempatan untuk menatap matanya selama sepuluh detik. Setelah itu, ia akan berkeliaran dalam mimpi masa lalu dan masa depan tak berujung. Ia menyaksikan berbagai kemungkinan dari beragam pilihan. Lelaki itu sudah mencobanya beberapa kali pada kucing jalanan. Ingatannya kini dipenuhi dengan nasib buruk kucing-kucing itu. "Bolehkah aku jujur?"

Wanita itu menoleh, mengangguk dengan ekspresi mengiyakan. "Ya. Lakukan saja."

"Aku akan menerima tawaranmu."

Wanita itu kaget. "BENARKAH? KAU MAU?" Ia berdiri ketika angin menjadi semakin kencang. Si lelaki masih duduk untuk memberikan kesan santai, namun wanita itu tidak mampu menahan diri. Ia duduk lagi untuk kemudian bersalaman. "Makasih ya. Kalau begitu aku akan menelponmu nanti. Tunggu ya." Keadaan menjadi normal. Tak ada lagi kemarahan dan kesedihan. Hanya ada rasa senang yang meletup-letup kecil dalam hati. Jantung keduanya berdetak kencang, namun tersembunyikan dalam ekspresi sederhana. Senyum keduanya dipancarkan oleh suasana, bukan wajah.

Namun, yang tentunya tidak diketahui si wanita, lelaki itu bisa merubah masa depan. Ketika malam semakin larut, dan lelaki itu menerima panggilan darinya, ia akan tersihir. Si lelaki merubah suaranya menjadi suara malaikat, menghipnotisnya agar tidak lagi bangun di esok hari. Untuk sesaat, tubuhnya akan terguncang, berguling-guling di atas kasur dan merasakan detakan kencang hingga kejang. Setelah tiga puluh detik, wanita itu akan mati. 

Yah, mau bagaimana lagi kehidupan ini? Wanita itu yang memintanya. 

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir