Sabtu, 14 November 2020

Mungkin begini rasanya hidup sebatang kara.

Tidak ada teman dekat, tidak ada yang bisa saya ajak bercerita. Kakak-kakak perempuan saya galak, sibuk mengerjakan pekerjaan rumah sedangkan saya dilarang untuk melakukan apa pun karena tidak becus. Orang tua saya terlalu sibuk: abi saya lebih suka pergi keluar dan umi di depan laptop mengerjakan tugas kantor. Saat ini dia sibuk merampungkan disertasi, untuk kuliah strata tiganya yang berantakan. 

Saya berharap punya perempuan yang bisa saya ajak mengobrol. Namun saya merusak hubungan itu dengan memintanya menjadi pacar, dan akhirnya kami putus setelah empat bulan. Lagi-lagi saya merasa kesepian, dan hampir meneteskan air mata ketika menulis kalimat ini. Saya menjauh dari orang-orang, dengan membenci banyak hal dan menyatakan gagasan dengan lugas. Dengan sifat seperti itu, tidak banyak hal yang bisa disukai orang-orang. Mungkin mereka akan bahagia ketika mendengar saya gagal.

Menjadi cengeng di usia begini akan sangat menjengkelkan. Saya dulu orang yang sangat sulit menangis, dan air mata saya hanya turun ketika melihat orang lain menangis, baik di dunia nyata maupun dalam film atau drama. Akhir-akhir ini, menangis menjadi hobi baru saya selain menulis, dan itu sangat menganggu manakala saya seharusnya terlihat baik-baik saja di depan keluarga. Toh, apa gunanya menjadi lemah di hadapan mereka. Hanya akan ada nasihat bernada tinggi dan saran-saran sok bijak seperti biasa.

Tidak ada yang membantu sama sekali. Kesepian yang saya alami saat ini adalah kumulasi dari perbuatan saya sendiri, merespon hal-hal menjengkelkan di sekitar saya. Mungkin saya bersikap lebih baik di hadapan takdir, tapi saya benci pura-pura baik. Saya akan bersikap jujur dan apa adanya, seolah-olah dunia akan berakhir hari ini dan saya akan dihisab seribu tahun lagi. Rumah saya hanya berisi orang-orang yang satu darah dan berbagi sifat-sifat kekerabatan. Tidak ada kenyamanan kecuali ketika makan, istirahat dan buang air besar.

Saya akan merampungkannya di sini. Saya akan tetap mem-publish-nya, tapi tidak akan saya bagikan di sosial media. Jangan memberi simpati setelah kalian membaca ini. Saya akan sangat bersyukur sudah ada orang yang membacanya, dan berbuat baik ketika bertemu saya. 

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir