Hanapepe


Photo by Fedor on Unsplash

Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?

"Pembacaku menurun." aku menjepit ponsel di pundak, lalu menaruhnya di atas meja. Panggilan itu datang tepat setelah aku keluar kamar mandi, dengan sebuah handuk melingkari pinggangku. Aku memilih kaus yang terlipat rapi, mengeluarkan celana dan pakaian dalam. Meski sudah kebesarkan volumnenya, aku hampir tak mendengar suara lawan bicaraku dengan jelas. "Tak ada lagi yang tertarik dengan kisah-kisah cinta yang kutulis."

Apa kau tahu penyebabnya?

"Tidak, aku benar-benar tidak tahu." Di meja yang lain, tepat di ujung kamar yang kutinggali ini, setumpuk majalah tergeletak berantakan. Hampir setiap awal minggu datang berbagai judul majalah yang kupesan dengan berlangganan. Seharian itu pula aku membaca semua cerita-cerita pendek di dalamnya, lalu bersorak keras ketika karyaku muncul. Kalau tidak, aku hanya bergumam "ah, belum waktunya." lalu meminum sebotol soda sebagai bentuk rasa syukurku. Panggilan itu membuatku teringat lagi.

Lalu, ke mana kau hendak pergi?

"Entah. Banyak hutan yang masih tersisa di Timur sana." Aku sudah memberitahukan rencana ini kepada teman-teman terdekatku. Wanita yang berada dalam paggilan ini salah satunya. Aku tidak yakin dia benar-benar mencemaskanku, karena memang selama ini tidak ada orang yang peduli. Termasuk dia. Lagipula, apa yang ia dapatkan dengan mencemaskanku? "Aku akan bertahan satu-dua bulan."

Kau tak ingin pulang?

"Tidak sekarang." Ia pasti menyebut kampung halamanku, tempat orang tua dan saudara-saudaraku yang lebih muda bertahan hidup dengan pertanian dan peternakan. Mereka hidup makmur dari sana, bekerja dengan sepenuh hati karena itulah yang mereka inginkan. Sedangkan aku hanya ingin melihat dunia, sebuah pekerjaan yang tidak jelas apa keuntungannya.

Lalu kapan?

"Kalau keadaan sudah tenang."

Kau ingin pergi sekarang?

"Ya, sampai jumpa."

*****

Aku pernah datang ke hutan-hutan ini. Yang sangat rindang hingga tak tersisa tempat untuk satu dua rumput tumbuh di antaranya. Pohon-pohon buah menjulang tinggi, menyisakan beberapa yang ranum di atas sana, jauh tidak dapat dicapai tanpa alat. Tempat yang kubicarakan saat ini mirip seperti latar film-film petualangan, namun di sini tidak ada cerita seperti itu. Orang-orang sekitar menjadikan hutan ini sebagai tempat kabur, tidak boleh dimasuki sembarang orang, kecuali memang benar-benar berniat pergi. Aku sendiri datang ke hutan ini untuk semedi. Masih lama rencanaku untuk kembali.

Seorang lelaki bertopi coklat menyambutku. Ia datang dengan sebuah motor trail dengan roda penuh lumpur. Aku tidak mengingat ada hujan akhir-akhir ini, namun lelaki itu membaca pikiranku. "Hujan turun jauh di pedalaman. Kami berpesta-pora sepanjang waktu. Kamu datang di waktu yang sangat tepat." Aku pernah mengikuti pesta mereka, tapi tetap penasaran semenyenangkan apa hingga ekspresi lelaki itu terlihat sangat puas. "Kamu akan tahu nanti ketika sampai."

Ia membawaku dengan motornya, yang menderu keras hingga burung-burung terbang menjauh. Aku merasakan kembali pengalaman lama yang muncul, mengingatkanku pada puasa yang panjang namun terhibur dengan air sungai yang segar. Ini kunjungan keduaku setelah tahun lalu. Pemerintah setempat pernah menutupnya beberapa hari setelah aku pergi, namun membukanya kembali dalam tiga bulan. Aku bertanya pada lelaki bertopi coklat yang mengantarku itu.

"Beberapa hewan buas muncul: macan, jaguar, singa, hingga hewan-hewan melata besar seperti ular. Sepertinya ada pendatang yang melanggar hukum, sehingga kawanan buas itu keluar dan menyerang warga." Aku ingin bertanya siapa pendatang itu, namun lelaki itu buru-buru menjawab. "Santai saja, itu bukan kamu. Dia seorang wanita." Aku menghela napas mendengar penjelasannya. 

"Ada korban jiwa?" Aku maju sedikit, mengisi ruang kosong yang tersisa di jok motornya. 

"Untungnya tidak ada. Kamu tahu sendiri kan, warga punya obat di setiap rumah."

"Ya. Aku ingat."

"Mengapa di luar sana orang-orang tidak punya obat di rumah? Apakah mereka tidak khawatir terjadi kecelakaan atau semacamnya?"

"Tidak. Mereka tidak punya cukup ruang untuk menyimpan obat." Aku menjawab rasa penasaran yang juga dirasakan oleh penduduk hutan. Mereka begitu kaget ketika aku kagum dengan sistem pengobatan mereka, lalu mengira bahwa semua orang di kota hidup dengan cara yang sangat sehat. Ketika itu, aku langsung tertawa. "Rumah kami menyimpan banyak sekali kekurangan, dan kecelakaan adalah hal yang mudah terjadi. Namun, kami tidak berpikir sejauh itu untuk memiliki obat di setiap rumah."

Butuh waktu sekitar lima belas menit hingga aku melihat lapangan luas terbentang di hadapan kami. Lelaki itu berbelok, membawa motornya pada jalanan penuh kerikil halus nan rapi. Pemandangan yang kulihat setahun lalu itu tidak berubah juga, seolah-olah aku datang di waktu yang berdekatan. Di tengah lapangan luas itu, berkumpul berbagai macam hewan ternak, mulai dari yang kecil seperti kelinci, ayam, bebek, hingga kambing, sapi, kerbau dan babi. Rerumputan hijau tipis menjadi pakan mereka. Tanpa pagar, mereka bisa berlarian dan berkeliling ke sana kemari.

Kami berhenti di sebuah rumah. Lelaki itu membantuku mengangkat tas, lalu menaiki tangga. Tidak jauh berbeda dengan dua puluh rumah lainnya, rumah itu bepondasi pada sebuah trembesi, mengelilinginya secara sederhana. Beberapa anak kecil yang kukenal menghampiriku dan mengulurkan tangan.

"Salim dulu, salim dulu." begitu kata mereka. Para penghuninya keluar, melemparkan senyum padaku.

"Mau tinggal berapa lama?" Seorang wanita setengah baya yang memimpin rumah itu bertanya padaku. Tahun lalu, ia baru saja kehilangan suami akibat sakit pernapasan yang cukup parah. Banyak rumor begitu aku bertamu ke rumahnya tak lama setelahnya, namun langsung hilang begitu penduduk hutan sadar aku masih muda. "Aku tidak ingin ada rumor lagi."

"Yah," aku menunjukkan raut wajah kecewa, lalu tertawa bersama mereka. "Aku baru dateng lho, Bu. Masa udah mau diusir aja." 

Lelaki yang mengantarku duduk di anak tangga paling atas, mengistirahatkan tubuhnya. "Kamu jangan cepet-cepet pulang, kita masih ada pesta." Mereka segera mencecarku dengan pertanyaan demi pertanyaan, dan aku menjawabnya dengan susah payah. Penghuni rumah itu adalah sebagian kecil dari penduduk hutan yang tinggal dalam 21 rumah pohon, melingkari sebuah lapangan besar yang tadi kuceritakan. 

"Biarkan ia masuk," wanita itu memerintah anak dan para keponakannya untuk pergi, memberiku waktu untuk melepas sepatu dan merapikan diri. "Kau mau kamar di atas? Oke. Kalau begitu kau bisa tidur bersama Rama. Dia yang memakai kamar atas."

Rumah-rumah di sini sangatlah unik. Ia dimulai dari sebuah bilik besar mengelilingi pohon, lalu berkembang dengan tambahan satu dua kamar. Sejak beberapa tahun terakhir, mereka mencoba menambah lantai: artinya, ruangan semakin bertambah tidak hanya di samping, tetapi juga ke atas, ke pucuku-pucuk daun. Kamar demi kamar baru dibangun di atas kamar lama, dengan beberapa tambahan berupa tangga dan dahan menurun. Mereka perlu waktu untuk naik, namun tinggal meluncur ketika turun.

Halaman depan mereka adalah lapangan luas itu, dengan ruang tamu di menghadap pohon. Di belakang rumah, sebuah sungai mengelilingi. Di sana lah mereka menangkap satu dua ikan untuk setiap malam, atau kodok dan berang-berang jika cukup beruntung. Mereka membangun kandang di bawah air, yang kemudian akan diisi kembali sesuai dengan jumlah penghuni rumah. Beberapa tetangga tuan rumahku datang, memberikan salam padaku dan membawakan bahan makanan. Bagi mereka, aku adalah tamu yang cukup sopan. Aku bangga mendengar itu.

"Kamu mau ke hutan?" seorang gadis mendatangiku yang duduk di tepi sungai, memerhatikan daun-daun dan pepohonan. Dalam pertemuan kami sebelumnya, ia menangis ketika aku hendak pergi. Ia memancarkan wajah bahagia sejak tadi. "Kudengar kau hendak bermeditasi. Benarkah?"

Aku mengangguk, menoleh padanya yang jongkok di sampingku. Aku tak membalasnya dengan kata-kata, sengaja diam untuk menunggu reaksinya. Aku menenggelamkan kedua kakiku, membiarkannya dibilas dengan air deras. Tiba-tiba gadis itu melompat, cipratannya menyiramku hingga basah kausku. Aku hendak berteriak sebelum akhirnya dia melempar air dengan sengaja. Aku tak bisa. Aku tak bisa menahan rasa bahagia. Maka aku tertawa, dan adik-adik gadis itu muncul dan semuanya bermain air bersamaku.

*****

"Sampai kapan kau mau menunggu?" Wanita paruh baya itu membaca pikiranku. Aku duduk di atas salah satu batu besar tempat para penduduk hutan bersemedi. Batu itu bentuknya bulat, namun cukup datar di bagian atas sehingga aku bisa duduk dengan nyaman. Tuan rumahku itu membawa gelas bambu berisi cairan hijau. "Dia tak akan mau membalas perasaanmu, lalu kenapa kau menunggu? Kau berharap Tuhan membantunya merubah keputusan atau menenggelamkannya dalam kolam kebingungan?"

"Aku tak berniat buruk, Bu." Ia membantu persiapan semediku, yang akan berjalan hingga dua hari saja. Aku belum cukup dianggap sebagai penduduk lokal, sehingga tak bisa menembus aturan bahwa hanya penduduk hutan yang diperbolehkan bersemedi lebih dari dua hari. Konsekuensi pelanggarannya cukup menyebalkan: menjadi gila dan tak bisa berkunjung lagi untuk selamanya. Padahal lingkungan ini adalah yang terbaik. Padahal masyarakat di sini adalah yang terbaik. "Aku berharap kita bisa menjaling hubungan yang baik seperti sebelumnya."

"Baik itu hanya di matamu, bukan dalam takdir kalian." Lagi-lagi ia berbicara tentang takdir, nasib, dan berbagai macam kekuatan adiluhung lainnya. Aku tak akan menahan wanita paruh baya ini berbicara, ia sudah dewasa. Namun aku memang laki-laki yang sulit dinasihati. "Bahkan aku mendukung gadis itu untuk memutus hubungan kalian."

"Meskipun dia belum pernah ke sini dan bersemedi?"

"Ya!" wanita itu menatapku tegas. Ia sudah selesai menyusun batu-batu kecil seukuran genggaman tangan untuk membatasiku agar tidak keluar, atau tergelincir. "Tidak semua orang yang bersemedi bisa mendapatkan kebijaksanaan, tidak semua orang yang keluar hutan ini menjadi bijaksana. Kau akan berbicara dengan setan-setan, belajar berteman sekaligus bermusuhan dengan mereka. Kebijaksanaan adalah ketika kau bisa melakukan keduanya dengan damai. Itulah yang tidak kau dapat, tapi gadis itu dapatkan."

Aku termenung. Wanita itu menggenggam kedua tanganku, lalu pergi. Aku melihat punggungnya yang lebar, sedikit demi sedikit tertutup dedaunan. Ia menjauh, berbelok, lalu menghilang ditelan bayangan. Aku melihat sekeliling, bertanya-tanya roh mana yang akan aku temui malam ini. Aku sudah menyiapkan banyak sekali cerita, menyiapkannya jauh-jauh hari sejak... sejak aku tidak bisa melanjutkan tulisanku. Aku berharap mereka mau mendengarkan, setidaknya untuk satu-dua tokoh yang aku karang sendiri.

*****

Pesta itu dihelat dalam tiga hari.

Hari pertama, adalah nyanyian. Setiap rumah dari seluruh penduduk hutan akan mengirim perwakilan untuk bernyanyi, baik itu solo atau pun grup. Aku berkeliling ditemani wanita itu, dari rumah ke rumah, menemui kepala rumah tangga. Setiap kali bertemu orang asing sepertiku, mereka musti bertanya tentang semedi, "Siapa yang kau temui? Laki-laki atau perempuan? Gadis atau wanita dewasa?" Aku menjawabnya dengan tawa. Tapi itu adalah topik yang lumrah. Mereka tak tahu siapa sebenarnya sosok yang kutemui.

Hari kedua adalah pertikaian. Setiap rumah akan menyumbangkan sepiring besar makanan yang kemudian akan diperebutkan oleh setiap orang. Wajarnya, penduduk akan berebut makanan yang disumbangkan oleh orang yang ia sukai. Namun, karena aku orang asing, aku tidak bisa ikut berebut. Akhirnya aku hanya bisa menunggu setumpuk makanan datang di hadapanku, dibawakan oleh gadis yang bermain air bersamaku tempo hari.

"Mas, silahkan." Ia melemparkan bebuahan segar dan beberapa daging yang dibungkus daun kelapa. Ia kemudian duduk di sampingku, ikut melihat ricuhnya perebutan di tengah lapangan. Aku mengambil sebuah tomat merah, memakannya dengan lahap. Gadis itu pergi ke dalam rumah untuk mengambil pisau, lalu kembali duduk di sampingku mengupas semangka. "Tahun ini hasil hutan berlimpah. Semakin banyak orang asing seperti Mas yang datang untuk semedi."

"Oh ya?" aku menoleh padanya yang sudah menggigit semangka. Air segarnya menurun dari ujung bibir, dan aku mengelapnya denga tisu. Ia terdiam ketika aku melakukannya, lalu menatap tajam tanda tak suka. "Jangan kaget. Aku hanya ingin melihat kau rapi." Ia menggerai rambut panjangnya, lalu memotong lagi semangka dan memberikannya padaku.

"Sering-sering ke sini, ya. Kalau bisa ajak temen." Ia mengelap pisau tajam itu dengan rerumputan, lalu pergi ke dalam. Ketika kembali, ia menanyakan hal yang tidak menyenangkan. "Mana pacar Mas yang dulu diceritain?"

Aku memalingkan wajah. Gadis itu tahu aku tak suka ditanya-tanya. Apalagi masalah pasangan.

*****

Hari terakhir adalah perpisahan. Tidak banyak penduduk hutan yang ingin mengantar kepulanganku. Ada beberapa tetangga dari satu atau dua rumah pohon, berkumpul di pohon yang sama tempat aku tinggal. Mereka membungkus banyak makanan, dari rempah-rempah hingga daging rusa dan memasukkannya dalam tas khusus. "Kapan kamu mau datang lagi?" beberapa penduduk bertanya. Mereka berencana akan membuka rumah baru di luar garis sungai untuk para tamu, tapi rencana itu masih agak jauh.

"Jangan bertanya hal itu. Ia kemari hanya ketika punya masalah. Kalau kehidupannya baik-baik saja, ia tidak akan datang kemari." Penduduk hutan tertawa. Suara itu muncul dari si wanita paruh baya yang datang dengan sebuah termos, mungkin berisi teh atau kopi, entah aku tak tahu. Ia berkewajiban mengantar kepulanganku dan termos itu adalah hadiah terakhir dari mereka. "Jangan menunggu setahun lagi untuk datang. Kamu adalah tamu yang langka untuk kami."

Aku membalasnya dengan senyum, memberinya jawaban berisi sedikit harapan, "Aku akan datang tanpa masalah. Tunggu saja." Aku naik motor bersama laki-laki yang sebelumnya menjemputku, lalu kami melaju di tengah jalur tanah yang padat. Penduduk hutan melambaikan tangan lalu membubarkan diri ketika jarakku semakin jauh. 

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir