Gembok Terbalik

"Matamu indah, bolehkah aku menatapnya?"

Aku selalu membayangkan akan mengatakan itu padanya. Kami pernah bertukar foto sebagai kenang-kenangan, dan miliknya adalah salah satu yang sangat cantik. Ia bersandar pada sebuah pagar besi di tepi sungai. Tubuhnya memunggungi fotografer, namun wajahnya tampak dari depan. Ketika itu kami menghabiskan waktu berdua saja menyusuri sungai panjang di pusat kota. Saking asiknya, kami sampai tak sadar sudah berada di stasiun lainnya. Kami akhirnya pulang naik kereta, dan aku mengantarnya sampai pintu rumah.

"Tapi kamu juga cukup tampan." Ia membalas perkataanku, seolah-olah tau bahwa aku memujinya dengan sangat tulus. Kalau kami bukan teman yang sangat akrab mungkin akan terdengar sebagai godaan. Namun, kami sudah lama saling memuji seperti itu. Ia akan berkata wajahku terlihat cukup pintar untuk membalas pujianku. Aku menggunakan prestasi-prestasinya, yang sering dibicarakan teman-teman kami. Dan pada sampai tahap tertentu, kami akan akan berhenti untuk saling memuji dan mulai menikmati pemandangan.

Hingga akhirnya penyesalan itu datang.

*****

"Aku mau menikah." Ia menatapku lagi dengan mata indahnya, tersenyum sedikit, tampak bahagia. Aku mendengar ia dijodohkan oleh ayahnya, karena sudah cukup terlambat untuk menikah. Usianya menjelang kepala tiga, dan selama ini dia hanya bergaul denganku. Setelah mendengar kabar itu di malam hari, aku langsung menelponnya. Ia meminta bertemu untuk membahas itu, sekaligus undangan resmi ke pernikahannya. "Datang, ya."

"Iya, dong." Aku menoleh padanya, memberikan senyum paling tulus. "Kamu udah cukup terlambat. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Akhirnya datang juga waktu di mana kau tidak selalu bermain denganku. Makanya, aku akan bermain sendiri. Atau mencari wanita lain untuk menggantikanmu."

"Untuk apa?" Ia memainkan dedaunan jatuh yang berada di sekitar kami. Daun-daun itu ia gulung, lalu ditusuknya dengan ranting-ranting kecil. Tangan terampilnya menghasilkan sebuah gelang hijau, namun tidak tampak menarik. "Kau masih ingin bermain-main? Menikmati masa muda?"

"Enggak lah. Aku juga ingin menikah." Kendaraan lalu-lalang yang melaju kencang memberikan kesan bahwa alam semesta tidak memperhatikan keberadaan kami. "Aku udah cukup tua juga."

"Kenapa keinginan itu baru muncul?" Ia menatapku, menampakkan raut sedihnya. "Kenapa tidak dari kemarin? Atau satu bulan lalu? Atau satu tahun lalu?"

"Hmmm," aku berhenti sebentar untuk menyusun kata-kata. "Aku menikmati waktuku bersamamu." Jawabanku terdengar tidak yakin. Tapi aku berusaha untuk tetap terlihat senang. Jujur saja, sedih rasanya kehilangan teman bermain, yang selama ini membantuku mengusir waktu luang dengan kesenangan-kesenangan kecil: berlatih alat musik baru, menonton drama dan film seru, serta mengunjungi taman-taman kota. Entah sampai kapan aku akan berhenti bersenang-senang, namun akhirnya aku menemukan jawabannya. Akhir waktu itu datang juga. Ia bernama saat ini.

Waktu tetap berlalu, meski kami tidak mengatakan apa pun. Pada suatu detik, ia berpamitan. "Akan kukirim undangannya. Jangan lupa datang." Ah, seandainya itu bukan dia, aku sudah menanyakan banyak hal: di mana resepsinya, hidangan apa yang akan disajikan, apa ia menyediakan kebab atau tidak (ukuran kecil saja tidak apa-apa), apakah ia akan memilih musik dangdut sebagai pengantar seperti orang tua atau menyetel lagu-lagu mellow berbahasa Inggris, apakah ia yang mengurus baju penganti atau kah calon suaminya, dan lain sebagainya. Namun, dialah yang menikah. Aku tak mampu memberinya pertanyaan, bahkan satu tanda tanya saja. Aku tahu dia merasa sedih, dan memang itulah yang akan aku rasakan juga.

Aku lagi-lagi kehilangan temanku, dan ia akan segera menggantiku dengan suaminya.

*****

Pertemuan pertama kami?

Ah, tentu saja. Kami pertama kali bertemu di kafe. Ketika itu aku baru mengenal Kafka, perkenalan yang terlambat sebenarnya, lalu membaca cerpen-cerpennya yang cukup panjang itu. Nah, ketika aku membaca itulah, dia muncul dengan warna jaket yang sangat mencolok. Kuning! Kagetlah aku dan berusaha memberikan dia tempat. Aku menggeser kursi dan kami sama-sama duduk di meja satu sisi di tepi jendela. Kalau tidak salah, pemandangan yang kami nikmati adalah atap-atap rumah. Ya, itu pertemuan pertama kami.

Bagaimana kalian berkenalan?

Kami tidak berkenalan. Ia tiba-tiba duduk dan berceletuk, "Pasti kamu orang yang kesepian." Hah? Aku kaget, dong. Dan ia mengulurkan tangan, mengajak bersalaman. "Rosie, salam kenal." Aku menjabat tangannya, dan menyebut namaku juga. Ia menyuruhku menutup buku lalu kami mulai mengobrol. Itu cara kami berkenalan. Tidak spesial sama sekali. Ia bahkan terkesan seperti tidak ingin berteman.

Seperti apa penampilan pertamanya? 

Hehehe, aku tidak terlalu memperhatikan penampilan, tapi sangat ingat ketika melihat sesuatu yang mencolok. Misalnya seseorang yang tidak dikenal lewat di depanku, aku akan mengidentifikasinya lewat salah satu hal yang paling mencolok dari penampilannya: rambut keriting, baju lusuh, warna tertentu, atau hal lain. Ketika satu ciri itu sudah ketemu, aku tidak memperhatikan yang lainnya. Makanya, aku cuma ingat bagaimana ia memakai jaket berwarna kuning terang. Sangat mencolok hingga akan terlihat bahkan dari kejauhan.

Apa ketika itu ia terlihat cantik atau semacamnya?

Hmm, tidak juga. Aku tidak bisa menilai orang secepat itu. Aku bukan orang seperti itu. Aku bahkan baru tahu kalau dia menarik setelah satu minggu: siapa yang tidak tertarik dengan karakter anehnya? Aku merasa ia cantik ketika teman-temanku berkenalan dengannya, "Itu siapa? Pacar? Kok cantik banget? ketemu di mana?" Bahkan kedua orang tua juga setuju. Mereka mengajukan pertanyaan yang serupa, tapi ditambah. "Wah, sudah berani bawa pacar ke rumah, nih."

Kamu bersikeras dia bukan pacarmu?

Bukanlah! Mana mau saya pacaran sama anak gila kayak gitu. Emang sih, dia cantik tapi menarik. Tapi karakternya lebih pantes jadi temen main, bukan pasangan. Kalau dia jadi tokoh utama di film atau drama, dia bakal cocok: perempuan yang diperebutkan oleh dua lelaki tapi dua-duanya ditolak. Hahahaha.

Tapi kenapa ia menyukaimu?

Hah? Benarkah? Ia menyukaiku?

Kenapa kau tak menyadarinya?

Bagaimana aku bisa menyadarinya?

Jadi kau benar-benar tak tahu? 

Bagaimana aku bisa tahu?

Mampuslah kau di Neraka.

*****

Aku sedang menikmati sepiring hidangan prasmanan (kau tahu, aku bisa mengambil apa saja yang kumau dan mencampur semuanya), ketika ia datang di hadapanku. Tamu-tamu lain dan beberapa orang yang kami kenal menatapku, seolah-olah aku membuat kesalahan di masa lampau dan tak bisa diampuni meskipun aku bersujud seribu kali. Ia memintaku untuk datang ke ruang make-up, tempat ia menyendiri sebelum bertemu dengan suami sahnya. Ia bahkan melarang orang lain masuk! Tentu saja ada pengecualian untuk penata rias. Wanita itu tidak bisa merias wajahnya sendiri.

"Hei, ini prasmanan terenak. Boleh aku minta nomornya?" Aku duduk di meja kecil, memindahkan tas-tas ke kursi. Ia sedang menghapus lapis demi lapis riasannya, sebelum akhirnya duduk di sebuah kursi. Ia menatapku, dan memesan segelas kopi lewat aplikasi. "Nanti kalau ada acara keluarga aku juga ingin menggunakan prasmanan ini. Memuaskan."

"Tentu saja. Soal makanan, aku jagonya." ia menyombongkan diri. Cih, sikap angkuhnya tidak hilang bahkan setelah ia resmi menikah. Apa suaminya tidak punya otak? "Oleh karena itulah, suamiku akn hidup bahagia."

"Hei, jangan kau simpan sifat sombong itu. Bagaimana kalau mertuamu tahu?" Aku menaruh piring di bawah meja, meraih sebotol air kemasan. Ruangan pribadi itu cukup cantik: beberapa barang yang tampak estetik terpajang. Zaman ini orang-orang akan sangat suka dengan furnitur imut, atau barang-barang yang kecil nan simpel. Ruangan ini tampak didekorasi khusus untuk pemesannya. "Kau mendekorasi sendiri ruangan ini?"

"Iya." Wanita itu mengangguk. Ah, pantas saja. Beberapa lukisan terpampang di samping cermin. Semuanya pemandangan alam: sepasang burung, ikan-ikan di bawah air, jalanan menuju gunung, atau kapal-kapal berlatar lautan. "Mereka menyediakan layanan ini agar calon pengantin tidak gugup ketika masuk ruangan utama. Lagipula, kalau aku bridezilla, EO-nya yang akan kesulitan. Ini semacam langkah pencegahan agar klien tidak banyak protes."

"Hahahaha...," kami tertawa bersama. Ini pertama kali aku melihat gigi-giginya setelah seharian ia hanya menutup mulut. Aku tahu ia merasa tidak tenang, maka aku tak berusaha untuk menenangkannya dan diam saja. "Kamu bahkan masih sinis terhadap orang-orang."

"Ya, bagaimana lagi. Aku membayar mereka." Dia ikut mengambil salah satu botol minuman, kemudian memintaku membukanya. 

"Jangan terlalu jahat sama orang. Kamu gak nemu orang yang pinter negosiasi kayak aku, lho." aku berhasil membukanya, namun tutup botol itu malah tergelincir di tanganku. Aku menunduk ke bawah meja, mencarinya di sela-sela piring kotor. 

"Ya karena itulah aku tidak mau pernikahan ini!"

Aku terdiam. Aku masih menunduk di bawah meja ketika mendengar itu.

"Aku tidak mau pernikahan ini, Gung." Isak tangis dan keheningan bercampur dalam ruangan ini. "Tidak bisakah kau lihat mataku? Bukankah aku tidak terlihat bahagia? Bagaimana aku bisa menerima pernikahan ini, ketika aku menyukaimu? Aku menyukai sahabatku, namun dia menolaknya! Ia menganggap hatiku pasti baik-baik saja, lalu melanjutkan persahabatan itu tanpa rasa sungkan. Bagaimana bisa ia sejahat itu padaku? Bagaimana ia melupakan rasa sukaku lalu hidup tenang tanpa rasa dosa? Apa yang sebenarnya ia mau, Gung?" 

"Ia tidak mau kau merana, Rosie." Aku menjawab dengan sudut pandang orang ketiga, meskipun aku tahu yang ia sebut sebagai "dia" adalah aku. Aku langsung berdiri, menatap dinding kosong, karena tidak kuat melihatnya menangis. "Seluruh kehidupannya sudah buruk, ia tidak mau kau bergabung di dalamnya. Oleh karena itulah ia memilih untuk melupakan kejadian itu, dan berusaha untuk meraih hal-hal menyenangkan saja, yaitu bersahabat denganmu. Bagaimana mungkin ia akan jahat padamu? Ia tidak mau kau terkena kutukan sebagaimana hidupnya."

"Aku mau, aku mau!" Aku mendengarnya berdiri, langkahnya mendekat tepat di belakangku. "Aku mau mendapatkan nasib buruk itu. Biarkan aku menerimanya juga. Aku berbagi kenangan baik dengannya, kenapa ia tak mau membagikan nasib buruknya?" 

"Tidak, aku tidak bisa." aku bersiap pergi, sebelum akhirnya dia menutup pintu dan menguncinya. "Biarkan aku pergi. Aku tak akan mengganggumu lagi. Untuk selamanya."

"Tidak, kau tidak boleh pergi." Ia terdengar marah. Ia buru-buru pergi ke mejanya, membuka laci, lalu mengambil gembok. Ia memasangnya pada engsel tambahan, memastikan aku tidak bisa pergi semauku. "Setidaknya, untuk malam ini saja, kau harus berbagi nasib buruk itu bersamaku."

"Jangan, Rosie. Jangan. Aku mohon padamu." Langkahku mundur, melihat matanya yang memerah karena tangis dan amarah. "Kita masih punya waktu bersama, meskipun akan sangat sedikit."

"Tidak. Aku tahu kau akan kabur." Ia melompat ke arahku, membawa sebuah pot bunga ke hadapanku. Rosie, yang sangat cantik bahkan sebelum menggunakan gaun putih pernikahan, memukul kepalaku. Aku hanya bisa tersungkur di atas meja, sebelum jatuh ke lantai. Penglihatanku kabur, kesadaranku berkurang. Aku mencoba untuk tidak melihat ke langit-langit dan menatap pintu. Sayang, aku hanya bisa melihat gembok yang terpasang di pintu. Gembok itu, terbalik. 

"Biarkan aku menikmati nasib burukmu."

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir