Karena Saya Sudah Menulis
![]() |
| Photo by Joanna Kosinska on Unsplash |
Saya menulis sejak kelas empat SD. Penyebabnya, adalah sebuah buku karya Goenawan Mohammad berjudul Potret Penyair Muda sebagai Si Malin Kundang, sebuah kumpulan esai yang pada saat itu pun tidak terlalu saya mengerti. Tapi saya menyenanginya. Saya senang membaca kata-katanya, senang berpikir keras untuk memahami apa yang ia katakan. Karena berbentuk esai, terkadang ada kata atau kalimat yang masih bisa saya tangkap, lalu mendongak untuk memikirkannya, "Oh, begitu ya." Kalau saya kembali ke masa lalu dan melihat diri saya sendiri ketika itu, mungkin saya akan menertawakan ekspresinya. Saya adalah bocah sok pintar, kata orang-orang.
Apakah membaca di usia begitu adalah hal istimewa? Sepertinya tidak. Banyak kemudian muncul penulis cilik, jenius cilik, atau anak-anak kecil seusia saya yang sudah begitu pandai. Mereka punya modal yang cukup untuk terkenal, sedangkan saya masih bergulat dengan ilmu agama dan hafalan al-qur'an di pesantren. Maka, karena dengan menulis saya sudah terpuaskan, saya menjadikannya kesenangan, hobi yang bisa ditekuni. Hal itu terus berlanjut hingga saya pindah pesantren di SMP dan SMA, dan sampai kini.
Saya mulai menulis blog di tahun 2016. Saat itu, tulisan saya -utamanya cerita-cerita pendek- begitu banyak tersimpan di laptop. Sebagai kelas akhir, saya diperbolehkan untuk membawa laptop untuk membantu kami mengerjakan karya ilmiah. Maka, di kesempatan itulah yang memulai blog. Saya mempublikasi satu demi satu cerita yang saya miliki. Beberapa teman, kakak atau adik kelas memberikan pujian pada karya saya, namun saya tidak berniat untuk mengirimnya di media massa. Cukuplah bagi saya menikmatinya sendiri, menghibur saya ketika waktu luang dan sepi.
Dalam menulis blog, saya mencari topik-topik di sekitar yang saya sukai: film, sinetron, musik, buku, dan lain sebagainya. Saya juga menulis kejadian-kejadian penting yang saya alami: pengalaman pertama berjalan-jalan dengan seorang perempuan berdua saja, makan di tempat baru, atau berdiskusi dengan teman yang pandai. Saya selalu menulis momen-momen bahagia, meskipun perasaan itu tidak sampai kepada pembaca. Toh, blog itu untuk saya pribadi. Ketika saya membagikannya di media sosial, saya punya harapan agar dibaca. Namun, andaikan tak ada yang membaca pun, saya sudah cukup senang.
Karena saya sudah menulis.
Menulis hal seperti ini mengingatkan saya pada karakter Kawana Tengo dalam novel 1Q84 karya Haruki Murakami. Ia adalah seorang guru les matematika -definisi ini sesuai dengan ingatan saya- yang pada akhir pekan akan menemani istri bersuami sebagai selingkuhan. Seleranya adalah wanita yang lebih tua, dan seorang istri bersuami masuk dalam kualifikasi itu. Pada suatu waktu, ia diminta menjadi editor untuk sebuah novel karya Fuka-Eri, seorang anak yang selamat dari perbudakan seksual tokoh agama.
Tengo mengaku bahwa matematika memberinya kepastian. Ia tidak mudah terombang-ambing dalam kehidupan dan mudah berpikir rasional. Namun, menulis -ya, ia menulis ulang novel itu alih-alih mengeditnya- membuatnya seolah lepas dari cengkeraman duniwai. Ia membayangkan kehidupan sebagai hutan lebat yang tak berujung, dan menulis membuatnya terbang keluar dari hutan itu. Menulis membuatnya begitu hidup, penuh dengan ketenangan, dan lebih rasional daripada ia berkutat pada angka-angka. Seolah-olah ia puas dengan kehidupan dan siap melangkah ke kehidupan selanjutnya.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?