Cermin
![]() |
Photo by Phinehas Adams on Unsplash |
Selamat malam.
Hari ini saya keluar rumah, menemani Abi saya ke Dalwa untuk menjadi penguji dalam sidang disertasi atau tesis online. Bangun tidur, saya sudah bertanya kepadanya, apakah akan ada agenda di luar rumah. Beliau menjawab akan ada ujian itu yang akan dimulai sekitar duhur. Kami berangkat pukul sepuluh. Saya tidak ada agenda untuk melanjutkan kursus online di Coursera atau mengerjakan pesanan tulisan. Saya ingin membaca buku. Maka, agar saya tidak terlalu terganggu, saya memutuskan untuk membaca di luar rumah.
Godaan di rumah sangatlah besar: ada kasur ranjang, internet yang cepat, dan makanan. Saya ingin membaca dengan fokus, apalagi bacaan saya kali ini adalah Lands End karya Tania Li. Ya, kamu bisa menebaknya: saya belum selesai membaca buku itu hingga kini. Saya membelinya bulan lalu, dan berambisi untuk mengkhatamkannya sebelum September selesai. Saat ini sudah akhir Oktober, dan saya masih berjuang. Mohon doanya.
Ketika di mobil, saya memikirkan sesuatu.
*****
Saya duduk di depan, tepat di sebelah Abi yang menyupir. Cermin di atas dasbor memantulkan kaki saya yang berbulu, lalu saya arahkan ke wajah. Di situlah saya menemukan wajah saya kini: mata lesu tak bersemangat, dengan tatapan yang tidak memiliki bayangan akan masa depan. Saya melihat lagi sosok lama diri saya, yang lebih saya kenal dan merasa dekat dengannya. Dialah sosok yang selama ini berjalan dengan saya di jalanan sempit Kerto, berbagi ruang dengan sepeda motor, gerobak makanan, dan anak-anak kecil yang berlarian. Mata saya tersembunyi di balik kaca mata, yang sebenarnya mengganggu dan tak nyaman, namun lebih terasa tidak nyaman jika saya melepasnya. Saya tidak suka hal yang tidak jelas. Termasuk dengan tujuan yang terbentang di ujung jalan.
Maka saya tetap memakai kacamata, dan hal itu membuat mata saya lebih lesu. Kalau masker yang saya pakai dilepas, maka tersibaklah rahasia umum itu: betapa buruk rupanya saya, betapa tak rupawannya tampang yang saya miliki. Saya memutuskan untuk memakai masker. Selain agar terhindar dari virus, saya juga akan menghindari tatapan tak menyenangkan yang mungkin akan datang dari orang-orang sekitar. Wajah saya memancarkan aura negatif, seperti game-game online yang kemudian diharamkan.
Seolah-olah, hanya dengan berpapasan dengan saya di suatu jalan, orang akan memiliki niat membunuh begitu dia sampai di tujuan.
*****
Awal bulan ini saya menulis cerita pendek berjudul Cermin Opabinia, berkisah tentang seorang laki-laki yang bertemu lagi dengan arwah kekasihnya melalui cermin. Wanita itu ia temui dalam sebuah kafe, dan ia mati dalam suatu kecelakaan ekspedisi. Wanita itu kembali untuk mengucapkan selamat tinggal, namun ia malah melihat lelakinya bunuh diri. Kata 'cermin' yang menjadi judul kisah itu merujuk pada pertemuan mereka setelah mati, sedangkan 'opabinia' adalah sebuah makhluk di masa lampau yang saya lihat di Google Arts. Ia tidak merujuk pada apa pun. Saya hanya senang menjadikannya judul.
Tulisan ini berjudul cermin. Mengingatkan saya pada sosok lama diri pribadi yang lebih saya sukai. Apakah orang-orang menyukainya atau tidak, saya tidak terlalu ambil pusing. Kalau sosok lama saya hidup dan nyata, saya akan memeluknya, lalu memintanya untuk menemani saya tidur. Saya tidak terlalu suka guling karena mudah jatuh di ranjang saya yang kecil. Saya lebih suka memeluk diri saya sendiri. Kami mungkin akan saling memahami, lalu jatuh cinta.
Saya tidak membenci diri saya yang buruk rupa. Saya hanya membencinya jika ia bodoh.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?