Cermin Opabinia
![]() |
| Photo by Laura Chouette on Unsplash |
Batuk darah selalu mengingatkanku pada Dev Patel, ketika ia memerankan ahli matematika asli India yang tidak punya pendidikan formal, namun berhasil diakui sebagai guru besar Cambridge, Srinivasan Ramanujan dalam film The Man Who Knew Infinity (2015). Dalam salah satu adegan, Ramanujan jatuh sakit dan mengeluarkan batuk darah. Ia pingsan dan hampir saja jatuh ke rel kereta. Untungnya ia cepat dibawa ke rumah sakit terdekat. Dokter memberitahunya dan teman-teman sesama profesor, bahwa ia terkena TBC. Ia wafat dalam perjalanan pulang ke India, meninggalkan jejak yang besar bagi matematika.
Tapi itu bukan kisahku. Aku belum pergi berobat dan sejauh ini hanya berdiam diri di kamar. Kota ini ramai namun aku tidak merasakan keramaiannya. Apartemenku terletak di lantai yang cukup tinggi. Aku tidak bisa mendengar suara lalu lintas atau mobil-mobil yang saat ini kulihat sedang berlalu lalang. Beberapa kali aku mendengar deru pesawat, yang rasanya menggetarkan. Atau helikopter ketika mendarat di rooftop. Dari apartemen ini, aku mendengar banyak hal. Salah satunya, adalah cerita wanita itu ketika menghilang beberapa bulan yang lalu.
"Ya, tapi aku kembali."
"Kau tidak kembali." Aku melihat bayang-bayangnya di cermin, alih-alih pantulan diriku sendiri. "kau sudah menjadi hal lain ketika datang. Aku tak merasakan kulit halusmu, daging empukmu, atau bau harummu. Kau tidak berbadan lagi. Kau tidak punya tubuh."
"Tapi, apakah itu penting?" Ia mendekat padaku, seolah-olah bisa menembus sekat itu lalu memasuki duniaku. "Yang penting adalah aku kembali. Aku di sini."
Aku menggeleng. "Padahal kau baru ke sini satu kali."
Malam itu menjadi lebih panjang dengan perdebatan-perdebatan. Di atas meja, sebuah surat tergeletak bersama gelas, piring, dan plastik-plastik yang membungkus makanan cepat saji. Ditujukan untuk orang yang telah tiada, membuatku mengingat lagi orang itu. "Bagaimana kau bisa menghilang? Apakah kau berniat pergi? Kenapa kau tidak pamit dengan cara yang lebih baik?" Tak ada jawaban. Yang ada hanyalah sesosok arwah wanita menangis di sisi lain cermin.
"Aku tak berniat pergi." Matanya terus menitikkan tangis, membuatku semakin merasa bersalah. "Aku benar-benar tak berniat pergi."
"Tapi kau harus mengikhlaskan diriku." Aku membalasnya. "Kau bisa saja terus menangis, tapi tidak di hadapanku."
"Aku tergelincir." Ia mulai bercerita. "Sore itu hujan memang tidak deras namun cukup membuat jalanan menjadi lebih licin. Pada saat itulah aku melihat batu besar jatuh dari bukit. Aku tidak sempat menghindarinya. Ketika sadar, sudah ada dua malaikat di sisiku."
Aku tertarik pada kisah kematian. Namun karena dia yang pergi, aku tak berani bertanya, atau pun memasang wajah penasaran. Aku hanya bisa mendatangi nya, duduk tepat di depan cermin itu, lalu menunduk. "Lanjutkan. Aku akan menemanimu hingga pagi." Aku sempat menyalakan pemanas air, lalu sengaja melupakannya. Di hadapanku, arwah wanita itu meneruskan tangis.
*****
Jangan cari aku kalau menghilang
aku dibunuh seseorang dan ia mengenalku
Tinggallah bersama putri kita dan bertahan hidup
aku tak mungkin lahir kembali, dan jangan repot-repot mencari
*****
Tanganku kasar sekali
pembuluh darah di bawahnya pecah-pecah, butuh waktu lama untuk menyembuhkan diri
kalau kau sentuh sekarang, ia akan meledak dan wajahmu penuh darah
kalau kau sentuh nanti, ia akan mendingin dan patah tak terganti
*****
Lelaki itu menggebrak pintu kamarku. Aku hanya menoleh, menatap matanya yang lebar, membalas tatapanku dengan wajah heran. Ada apa?
"Ada bacaan yang perlu dipelajari buat kelas besok." Ia mengingatkanku akan kelas yang sama di minggu lalu, di mana sang dosen memberikan kami banyak sumber bacaan. "Kamu mau ikut ga? Kita bakal diskusi di kafe."
"Duluan aja." Aku menghadapkan wajahku kembali ke laptop, ada sebuah tulisan yang perlu diselesaikan sebelum beralih untuk belajar. "Aku gak mau keluar."
"Anak-anak dari grup cewek pada ikut, lho."
"Anak-anak kaya itu?"
"Iya."
"Skip."
"Kamu benci mereka ya?"
"Enggak." Aku mendorongnya keluar kamar, membiarkannya berdiri tegak di depan pintu. "Cuma ga suka."
"Apa bedanya?" Ia berteriak ke dalam. Ketika naskah baru itu rampung, aku segera menyetel lagu dari YouTube dalam volume yang tinggi. Kasur di belakangku menyambut tubuh, lalu aku tenggelam di dalamnya. Kurasakan napasku begitu ringan, dan kupandang taman penuh bunga di samping jendela. Apa tidak ada kupu-kupu di malam hari? Lampu-lampunya bulat dan menerangi sebagian ruang. Kalau benar-benar mengantuk, aku tidak tahu mana yang bulan atau mana yang lampu.
Erik belum pulang. Ia mungkin asik mengobrol dengan gadis-gadis muda dari keluarga mapan ibukota. Ia pernah mengajakku untuk sekali, dan itu menjadi kesempatan terakhirku melakukan hal yang sama. Obrolan mereka tidak dapat kujangkau. Wajah-wajah mereka juga tidak tolerir dengan penampilanku yang seadanya. Dan ketika mereka mendengar aku berbicara, mereka segera mengalihkan topik tanda tak tertarik. Erik juga menegurku karena hal itu. Sejak itu, kuputuskan untuk tak lagi bergaul dengan mereka.
Tapi aku masih pergi ke kafe. Favoritku, adalah sebuah kafe berdinding kayu di kiri jalan raya, kalau kita datang dari arah utara. Di sana, aku pergi sendiri dan membaca buku, memesan segelas cokelat tanpa gula. Kalau sudah terlalu malam dan hendak tutup, seorang pelayan cantik (ya, dia cantik) akan menegurku. "Masih mau baca buku, Mas?" Aku mengangguk dan merapikan tas selempang, lalu berterimakasih padanya. Ia akan membalasnya dengan menunduk, lalu melambaikan tangan. Dalam hidupku yang datar, mendapatkan lambaian tangan seorang wanita adalah hal yang menyenangkan.
Hingga datang malam itu. Sebuah malam tanpa sore karena aku diam di kamar sejak pagi, tanpa keluar atau bahkan terlihat oleh matahari. Dalam waktu sehari itu aku menekuni sebuah pekerjaan rumit yang disediakan oleh seorang klien kaya. Ketika selesai, aku keluar. Kafe itu menjadi tujuanku. Aku memesan susu yang sama dan mengambil buku langgananku. Aku terlalu khusuk, hingga tertidur dan baru terbangun ketika semua telah gelap.
Kecuali dua buah lampu, dan senyuman itu.
*****
Kenapa hari ini turun hujan? Aku memiliki janji dengan wanita itu, pelayan cantik dengan kaki jenjang yang membangunkanku ketika kafe tutup. Malam itu, ia membiarkanku membaca buku, melanjutkan bab yang belum selesai. "Lanjutkan saja." katanya dengan suara manis. Telingaku merasa kenyang, seolah-olah sebelumnya penuh dahaga. "Aku akan mengambil kopi. Kau mau?" aku mengangguk, menyerahkan segelas cokelatku yang habis sejak tadi. Aku membuka kembali halaman yang tertutup, lalu membacanya dalam khusuk.
Wanita itu kembali tak lama. Ia membawa dua buah gelas di tangannya. Meskipun masih panas, ia masih bisa menahannya. "Mau sampai kapan kau di sini." aku bertanya kembali padanya, sampai kapan ia akan mengizinkanku tetap tinggal. "Tak tahu. Sepertinya teman sekamarku sudah tertidur pulas sehingga aku tak bisa masuk. Kamu mau membacanya sampai habis?" wajahnya heran, sembari melihat tebalnya halaman demi halaman yang belum kubaca. Aku tertawa melihat kekhawatirannya.
"Tidak. Aku akan menghabiskan bab ini saja." aku mencoba menenangkannya. "Kau tertarik dengan buku?" Ia menggeleng. Ia tak mau menjawabku, agar kami tak mengobrol dan aku menyelesaikan bacaanku lebih cepat. Dan ketika kopi itu tinggal setengah gelas, bab itu selesai. Wanita itu juga hampir menghabiskan rokoknya. Kami beranjak, ia mematikan lampu. Ia mengeluarkan kunci lalu menutup pintu dari luar.
"Sampai jumpa."
"Tunggu." Aku menghampirinya, hampir saja menarik lengannya, namun tak jadi. Aku menekan jari-jariku ke dalam. "Kau akan tidur di mana malam ini? Kau bilang temanmu sudah tidur. Apakah perlu akau carikan tempat untuk malam ini?" Aku menggigit bibirku. Aku malu sekali. Wanita itu sudah kurepoti dengan tingkahku yang seenaknya. Setidaknya aku harusbertanggung jawab. Namun, ia tak menjawab. Ia menghabiskan isapan terakhirnya, lalu membuang rokoknya ke jalan.
"Tak perlu. Aku masih punya teman yang lain." Kami berpisah malam itu, namun lebih banyak berbicara esok harinya. Seperti biasa, aku datang menjelang malam, memesan secangkir coklat panas, lalu duduk di dekat jendela yang menghadap jalanan. Buku yang belum selesai kubaca kemarin aku ambil lagi, dan wanita itu mengantarkan cokelatku. Ia tersenyum melihatku. "Bolehkah kita mengobrol?" Aku kaget dengan kata-katanya, namun tersenyum bangga. Akhirnya.
Namun hari ini turun hujan. Ini pertemuan kesekian yang kami rencanakan semalam. Apakah langit tak merestui kami? Apakah ia sudah memiliki laki-laki lain sehingga langit mengurku untuk tidak datang? Apakah hujan akan selesai di sore hari? Setidaknya aku harus menyusul kalau wanita itu benar-benar datang ke tempat kami akan bertemu. Namun melihat hujan yang deras dan langit yang gelap, aku jadi pesimis. Apakah aku harus pergi saja ke kafe dan berharap ia hadir di sana?
Aku menurunkan sebuket bunga dari tanganku, menjatuhkannya ke lantai. Kamarku begitu sepi. Ia hanya menyimpan tubuhku dengan jiwa yang lengah, dan kembali pada kesendirian. Bentuk itu tercetak di lantai. Aku menyandarkan tangan kananku pada dinding, memegang leherku dengan tangan kiri. Aku merasakan bunga-bunga itu masuk ke hidungku, tersumbat di tenggorokan. Aku mencoba bernapas namun tak bisa. Dalam beberapa detik, aku merasakan tubuhku yang menggelepar ke sana kemari.
Wanita itu hanya bisa melihatku sembari menangis. Ia duduk di sisi lain cermin.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?