Berbagi Kisah dan Kekhawatiran: National Geographic September 2020
![]() |
| Photo by Manic Quirk on Unsplash |
Kisah pertama menyajikan kekhawatiran kelompok transpuan, yang di masa normal sudah didiskriminasi sedemikian rupa, dan semakin terpuruk ketika pandemi datang. Mereka tidak memiliki mata pencaharian yang formal, ditolak oleh masyarakat dan tidak memiliki KTP sebagai bukti kewarganegaraan. Sehari-hari, mereka hanya bisa bekerja di bidang informal yang kadang juga gelap: pekerja salon, pekerja seks, dan lahan bisnis umum lainnya. Keluarga, sebagai institusi sosial utama sudah tak lagi berpihak pada mereka, apalagi institusi yang lebih besar. Mereka pun bersatu dan bersolidaritas, saling membantu dan menguatkan.
Kisah kedua datang dari Danau Poso di Sulawesi Tengah, yang masyarakatnya akrab dengan kisah-kisah bencana. Maklum, tanah tempat mereka tinggal dan berdiri merupakan titik pertemuan pecahan kerak dunia yang datang dari Australia, disebut pecahan Gondwana. Namun, bagi masyarakat lokal, kisah yang muncul adalah naga: mereka melihat sekilas penampakannya sebelum gempa terjadi. Selain itu, ekosistem juga membawa masyarakat lokal untuk bertahan hidup sesuai budayanya. Dengan danau itu sebagai pusatnya, mereka hidup bersama spesies endemik lainnya.
Kisah ketiga muncul sebagai kekhawatiran yang sesungguhnya. Pemanasan global yang hadir sebagai fakta sains namun ditolak oleh kalangan politisi membuka gas rumah kaca besar dari permafrost di Alaska. Tanah itu membeku di musim dingin, dan tebalnya membuat karbon sisa endapan masa lalu terkubur dalam-dalam. Namun, musim dingin tak lagi dingin. Aliran air yang hangat membentuk sungai, merasuk melewati celah-celah kecil yang tak lama kemudian membesar. Karbon di bawahnya menguap, mendukung pemanasan global semakin cepat.
*****
Kisah-kisah itu mungkin tidak terjadi pada kita, namun globalisasi membawanya ke hadapan kita untuk sadar dan belajar, bahwa kisah mereka adalah kisah kita juga. Kelompok rentan seperti transpuan sudah lama belajar bahwa mereka berada di kasta bawah masyarakat. Kita diharapkan membuka mata dan peduli, paling tidak dengan cara yang paling mudah yaitu tidak mendiskriminasi. Orang-orang Poso yang tinggal di sekitar danau menjadi jendela lain yang terbentang, membuat kita sadar bahwa kita sudah lama terpisah dari alam. Dari Alaska, kita tahu bahwa kiamat itu bukan hanya data, tetapi juga kisah yang dikhawatirkan seluruh umat manusia.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?