Jangan Lupa Mengeluh

Photo by Tunafish on Unsplash

Saya akan menulis dalam keadaan mengantuk. Jadi jangan salahkan saya kalau sedikit melantur.

Hari Senin ini saya kembali berolahraga. Sekitar 45 menit saja, tapi pangkal lengan kanan terasa begitu capek. Ada sedikit kulit di telapak kaki yang terasa sakit. Dan benar, ketika saya memperhatikannya dengan teliti, ternyata sudah mau terkelupas. Semacam terkena besi panas, lalu mengeluarkan sedikit air. Saya tidak berkonsentrasi ketika murojaah sehabis maghrib, lalu ketiduran. Yah, ini cuma tulisan tentang keseharian. Labelnya "Kosong."

Dan hari ini adalah hari terakhir perkuliahan Teori Sosiologi Klasik yang saya tekuni beberapa bulan terakhir. Iya, saya mengambil kursus di Coursera. Setelah ini, saya akan membaca suplemen yang disediakan, lalu tes dengan menjawab banyak pertanyaan. Kalau masih ada waktu luang sebelum kuliah dimulai (sekitar dua minggu lagi), saya mau menyelesaikan kursus lainnya. Agar saya tidak hanya rebahan di kamar, tetapi juga belajar.

Kabar hubungan saya baik-baik saja, meskipun sesekali kami berbeda pendapat dan bertengkar. Dengan keahliannya, dia sudah mengambil banyak pekerjaan dan bisa saja mendapatkan pemasukan yang lancar. Di sisi lain, saya cuma mencoba untuk produktif: dalam kursus sosiologi saya berkenalan dengan nama-nama besar, melalui blog ini saya bercerita, dan dengan media sosial saya memposting hal-hal tak berguna. Hahaha, dan beberapa pengikut dengan tidak sengaja menyukainya. Hahahah.

Saya ingin banyak bercerita, tapi tidak ada. Sudah seperti percakapan kami akhir-akhir ini yang tanpa tema. 

*****

Ah, saya sudah mau mengakhiri tulisan ini sebelum mengeluh. Oleh karena itu, saya ingin mengeluh dulu, tentang bagaimana Max Weber begitu menjengkelkan.

Sebelumnya, saya menulis catatan kursus ini di buku tulis. Namun, sejak lupa membawanya ketika belajar di kampus, saya akhirnya menulis poin-poin penting di Google Docs. Pertama, saya akan membuka linknya, lalu muncul ensiklopedia berisi ringkasan dari setiap sub-bab atau bab dari buku aslinya. Kalau dalam tradisi islam, hal ini seperti kitab syarah. Setelah itu, saya kan mengkopi satu sampai tiga paragraf untuk diterjemahkan di Google Translate. Semua itu berjalan lancar, hingga saya sampai pada ide-ide Weber.

Ia terlalu banyak menggunakan koma. Dan meskipun masih bisa dipahami, ia menghancurkan terjemahan Google. Akhirnya, saya tidak bisa menulis banyak poin, hanya beberapa saja. Untungnya, saya sudah mendengarkan perkuliahan Prof. van Heerikuizen dulu sebelum membacanya. Kalau tidak saya akan benar-benar tidak paham. Makasih, Prof!

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir