Pembunuhan di Atap

<span>Photo by <a href="https://unsplash.com/@borisview?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">boris misevic</a> on <a href="https://unsplash.com/s/photos/roof?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></span>
Photo by boris misevic on Unsplash
"Pembunuhan di Atap? Kamu terbiasa bikin judul sederhana kaya gini ya?"

Aku mengangguk. Laki-laki itu memegang draf novel terbaruku yang kucetak untuk dikoreksi. Kami duduk berdua menghadap pantai tempat kami bersemedi, berusaha mendapatkan ide-ide baru yang liar dan gila, lalu menuliskannya menjadi naskah drama. Villa tempat kami menginap adalah milik seorang teman, tapi kami tidak tinggal dengan gratis. Kami membayarnya setengah harga, lalu meminta padanya untuk mengizinkan kami tinggal lebih lama. Setelah dua minggu proses semedi itu, aku menyerahkan hasilnya kepada temanku.

"Ini udah bagus, Rid." Ia membolak-balik draf cetak itu, lalu membukanya dalam lembaran-lembaran tebal. Ia berusaha menyisir halaman demi halaman untuk menunjukkan apa yang membuatnya tertarik. "Kamu detail seperti biasa, membuat tokoh penuh warna dan alur yang rapi. Sejak tahun lalu, kamu memang sudah mulai konsisten: satu naskah drama setiap dua minggu, satu novel setiap bulan, dan satu naskah film setiap tahun. Tapi inget, jangan sampe konsistensi itu masuk juga ke karyamu."

Aku heran. Apa maksud lelaki ini? Aku mendekat padanya, mengangkat sedikit kursi yang aku tempati. Sepertinya ia melihatku memasang wajah penasaran, lalu menghela napas panjang.

"Hmm, sulit jelasinnya, tapi bakal aku coba." Ia bersandar, lalu mengangkat draf cetakku lebih tinggi agara wajahnya terhindar dari cahaya matahari sore. Meski saat ini sudah pukul lima, negeri ini tidak memberikan malam lebih cepat. Ia terasa seperti pukul dua siang di negeri asal kami. "Kamu keliatan gak pernah nyoba gaya menulis baru, jadinya tulisan kamu terasa hambar. Buat orang baru, orang yang pertama kali baca karyamu, mereka bakal merasa biasa saja. Namun aku sudah membaca tulisan-tulisanmu sejak masih di buku tulis matematika. Jaman SMP dulu. Aku tidak bisa berpaling begitu saja, melihat kawanku yang hebat ini stagnan di level tertentu."

"Jadi aku harus bagaimana?"

"Tunggu dulu, belum selesai."

"Oke."

"Kenapa hambar? Karena kamu, secara sadar atau tidak aku tidak benar-benar tahu, konsisten dengan ending yang menggantung. Dalam beberapa film atau novel, hal itu banyak terjadi. Terutama dalam naskah drama ketika cerita harus diputuskan di tengah-tengah agar penonton tetap mengikuti alurnya. Siapa pembunuh sebenarnya? Kenapa wanita itu mengungkapkan perasaannya? dan lain sebagainya adalah contoh ekspresi yang diharapkan sang penulis dari para pengikut setianya."

"Terus?"

"Namun, hal itu tidak boleh kamu lakukan terus-menerus dalam novel atau film." Ia kini tidak lagi bersandar, tapi sedikit maju dan mengembalikan draf cetakku. "Kamu tidak boleh membiarkan pembaca atau penonton berkeliaran sesuka hati dalam imajinasi mereka. Sekali-kali kau harus tegas. Kamu bisa menulis akhir yang buruk atau bahagia. Kamu bisa menulis nasib apa yang menimpa tokoh utama setelah menyelesaikan rangkaian cobaan yang telah kamu buat. Intinya kamu harus menulis ending yang pasti, tidak ragu-ragu atau mengambang."

"Tapi Mar," aku membuka drafku lembar demi lembar untuk melihat lagi apa yang kurang di mataku. "Bukankah gaya seperti itu sangat laku? Banyak lho orang yang suka cerita kaya gini."

"Iya sih," ia beranjak dari kursi, menuju meja dengan dispenser di atasnya, lalu membuat segelas kopi dan segelas teh. Aku melihatnya berkeliling lalu kembali bersamaku. "Tapi ini bukan tentang pembacamu, Rid. Atau tentang industri kita yang buruk karena artis dadakan, bukan. Novel itu udah bagus, tapi karena kamu menulis ending yang menggantung lagi, aku malah khawatir kepadamu."

"Kepadaku. Oh, jadi ini tentang gaya nulisku?"

"Ini tentang kamu." Ia mengajakku tos, dengan menabrakkan kedua gelas kami sejajar bahu. "Kalau kamu terus-menerus menulis dengan gaya itu, kamu enggak berkembang, Rid. Kamu setidaknya harus nulis hal-hal kecil dengan gaya baru, gak semuanya harus gitu. Ya seperti yang kubilang tadi, kamu bisa memulainya dengan menulis akhir yang pasti."

Aku terdiam. Dia adalah teman masa kecilku. Kami pernah terpisah selama belasan tahun, sebelum akhirnya dipertemukan kembali setelah aku sukses dengan sebuah novel horor yang mengisahkan masa lalu kampungku. Ketika menulis itu, aku menikmati proses risetnya sekaligus melepas kangen dengan keluarga dan kerabat yang belum pindah. Ketika novel itu laris, aku kembali pulang untuk melaksanakan syukuran. Tak disangka, aku bertemu dengannya lagi.

"Sini, saya edit." Ia mengambil drafku, lalu kembali ke dalam, meninggalkanku yang sendirian di balkon bersama langit yang mulai gelap. "Gak perlu kirim softfile-nya. Kamu tahu saya ga suka ngedit di komputer. Besok saya kembaliin. Oh iya, jangan lupa pesen makan."

"Kamu mau apa?"

"Ikan aja, mumpung kita deket laut."

"Oke." Aku merapikan kursi dan membersihkan meja. Besok lusa kami akan segera pulang ke kota, dan aku berharap ia memberiku izin untuk menerbitkan satu lagi drafku yang menurutnya membosankan itu. Aku masuk dan menutup pintu, bersamaan dengan lampu yang menyala secara otomatis. Selama proses pengeditan, aku tidak bisa mengganggunya karena dia akan sangat fokus. Ia bahkan menyingkirkan draf novelnya sendiri. Aku mengambil ponsel di atas meja, lalu mulai memesan makanan di resto favorit kami di kawasan villa ini.

*****

Sejak Pembunuhan di Atap laku keras, pemerintah menjadikan novel itu sebagai sastra resmi yang masuk ke dalam kurikulum pendidikan tingkat lanjut. Aku adalah pengajar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia untuk sebuah sekolah di pinggir kota. Murid-muridku semuanya datang dari keluarga miskin, yang tinggal di rumah seluas 5 x 10 m saja, namun masih bisa bertahan hidup. Uang jajan mereka tidak banyak, kecuali untuk anak polisi atau pejabat. Tapi tetap saja, sekolah di pinggir kota ini menjadi replika komunitas miskin di sekitarnya.

Dan buku itu. Ya, aku ingin bicara tentang novel itu. 

Pembunuhan di Atap berkisah tentang seorang mantan tentara yang hidup bersama seorang putri, lalu menerima pekerjaan sebagai pembunuh bayaran. Ia selalu melakukan aksinya pembunuhannya di atap, setelah membuat korban tidak berkutik dan membawanya ke tempat yang pas. Ia tidak bisa membunuh targetnya tanpa melihat langit, khawatir rohnya tidak kembali ke sisi Tuhan lalu mengejar-ngejarnya di sisa hidup. Putrinya tidak tahu-menahu, hingga suatu saat ia mengalami kejadian yang membuatnya memiliki kemampuan untuk berbicara dengan roh. Sisa ceritanya adalah tentang perdebatan antara keduanya dan perpisahan mereka selamanya.

Tahun lalu, buku itu laris hingga terjual jutaan eksemplar. Tahun ini, anak-anak sekolah diwajibkan membacanya selagi mempelajari tata bahasa. Pembunuhan di Atap menjadi sastra modern yang paling populer, setelah selama beberapa dekade, penulis di dalam negeri tidak ada yang mampu membuat gebrakan dan karyanya terjual hingga jutaan. 30 tahun lalu, seorang penulis internasional melakukan hal yang sama. Ia berasal dari negeri kami dan cukup dihormati.

Aku berjalan di koridor, memperhatikan anak-anak yang berlarian. Beberapa dari mereka memegang jajanan di tangan, berkejaran antara satu dengan yang lainnya. Beberapa anak diam duduk di tangga, lalu setelah melihatku, mulai pergi ke kelas masing-masing. Waktu istirahat memang belum berakhir, namun aku memang tidak suka melihat orang duduk di tangga. Tangga bukan tempat duduk. Tangga tempat orang jalan naik turun. Jangan nongkrong seenaknya.

Pagi ini masih pukul 10, namun panas terik matahari mulai terasa. Bel berbunyi tepat ketika aku masuk ruangan, dan murid-muridku duduk rapi menatap padaku. "Selamat pagi, Pak!" Mereka memberi salam padaku setelah dikomando ketua kelas, lalu duduk lagi dengan tertib. Seorang anak bertanya apa yang akan mereka pelajari kali, "Apa sudah waktunya kita membaca Pembunuhan?"

Aku tersenyum melihat antusiasme mereka, lalu meletakkan buku presensi di atas meja. "Ada yang sudah coba baca sendiri?"

Murid yang bertanya tadi mengacungkan tangan, Rupanya hanya dia sendiri yang tertarik dengan novel itu. Aku memerintahkan mereka mengeluarkannya, lalu memulai kelas.

"Pembunuhan di Atap bukan novel yang bagus untuk dipelajari. Bapak sendiri tidak terlalu merekomendasikannya untuk anak sesusia kalian." Aku sadar beberapa anak terheran-heran, tidak sabar untuk bertanya mengapa ia diwajibkan. "Tentu saja kalian wajib membacanya karena itulah program pemerintah. Negara tidak ingin kalian melangkah di jalan yang sama, yang dilakukan tokoh utama hingga ia menyia-nyiakan putrinya, satu-satunya keluarga yang ia miliki."

"Kalian pasti sudah mendengar beberapa cerita dari kakak atau orang tua kalian, jadi Bapak tidak perlu banyak bercerita." Aku menyuruh mereka mulai membaca, satu per satu dari depan dan menanyakan apa maksudnya, mengapa tokoh-tokoh dalam novel itu mengambil keputusan dan semacamnya. Aku menulis pendapat mereka dalam buku catatan, untuk melihat tingkat sensivitas mereka terhadap isu sosial. Setelah itu, dengan modal novel laris di tingkat nasional, aku mengajarkan mereka tata bahasa; bagaimana cara menggunakan titik dua, tanda petik, dan imbuhan. Aku melihat Pembunuhan di Atap ditulis dengan rapi. Penulisnya cukup terkenal di kalangan novelis masa kini. 

Novel itu terasa cukup dekat denganku, karena aku berteman dengan editornya. Ia bernama Ahmar, seorang kawan lama yang sama-sama lulus dari Jurusan Sastra universitas negeri di Ibukota. Ia berjanji akan datang ke tempatku untuk memberi kuliah singkat. Anak-anak ini memang masih sekolah, belum berkuliah. Tapi tak ada salahnya aku meminta dia datang untuk bercerita. "Kisah apa yang kamu mau? Proses pencarian ide atau penulisan?"

Aku tertawa mendengarnya. Saat itu aku menelponnya untuk kesekian kali, setelah ia menerima tawaranku untuk memberikan kuliah singkat. "Lewati saja bagian itu." Aku duduk di ruang guru setelah mengisi kelas dan mengambil sebotol air dingin dari kulkas. "Aku ingin kau bercerita apakah kisah itu nyata atau tidak."

Lelaki itu terdiam. Sebelumnya ia memberi kabar bahwa ia sedang berada dalam perjalanan, oleh karena itu aku mendengar suara lalu-lintas ketika ia diam. "Kepada para murid?"

"Tidak," aku menghabiskan air gelasan itu, lalu melempar kemasannya ke tempat sampah. "Kepadaku saja. Kau boleh bercerita apapun tentang novel itu kepada anak-anak. Namun kau harus memberitahuku apakah itu kisah nyata."

"Kenapa kau harus menunggu?" Ia menjawabku kali ini. "Aku bisa memberitahumu saat ini."

Jawaban yang kuinginkan bukan hanya iya atau tidak, Sayang. "Jangan sekarang Mar, nanti aja kalo kamu udah dateng." Aku beranjak dari kursi, merapikan buku-buku yang kubawa untuk mengajar. "Oh iya. Saya juga udah nyiapin kamar buat kamu nginep. Kalo kamu ada yang dibutuhin, bilang aja sekarang. Biar saya bisa cari."

"Gak ada kok. Santai aja." Ia terdengar masih mengemudi. Di masa lalu, kami sering bepergian bersama dengan teman-teman satu angkatan. "Kamu tahu kan saya bisa nginep di mana aja tanpa ngeluh?"

Kami tertawa. Ia anak yang menyebalkan sejak masuk kuliah. Ah, sudahlah. Aku tidak mau menangis lagi karena mengingat masa lalu. Rasa rinduku pada teman-teman dahulu masih belum terobati, belum lagi melihat kesuksesan mereka merilis buku dan mengerjakan proyek masing-masing. Selepas kuliah, aku pontang-panting mencari sekolah, yang bisa menerima lulusan baru sepertiku. Kalau tabunganku cukup atau keajaiban datang tiba-tiba, aku mungkin akan melanjutkan studi pascasarjana.

Ahmar menutup telepon, memberiku kesempatan untuk mengusap muka dengan air wudhu dan handuk kecil. Aku menutup kamarku dan menuju kasur. Sembari menunggu adzan duhur, aku mau tidur. 

*****

Orang-orang terlalu mengagungkan Pembunuhan di Atap. Pemerintah gagap sastra karena mereka baru memulai sistem baru, oleh karena itulah mereka menjadikan novel ini sebagai pembelajaran resmi anak-anak sekolah. Di umur-umur kalian yang...kalian umur berapa sih? 13? 14? Ok. Di umur-umur kalian ini, memilih bacaan yang tepat dan sesuai selera adalah hal yang penting. Mungkin kalian masih suka bacaan-bacaan penuh gambar, tapi mulai belajar membaca, mulai belajar untuk menyukainya, bisa dimulai dari mana saja.

Apakah saya merekomendasikan novel ini? Tidak. Saya tidak merekomendasikannya. Salah satu sumber rezeki saya memang dari novel ini: saya mengenal penulisnya, memberikan kesempatan kepada si penulis untuk memperbaiki karyanya. Namun, Pembunuhan di Atap bukan bacaan yang sangat sastrawi: ia menyajikan kalimat-kalimat biasa namun penuh detail sehingga membantu kalian menggambarkan peristiwa demi peristiwa, adegan demi adegan. Ceritanya biasa dan kadang tidak masuk akal. Namun, itulah karya sastra: kalian bisa mempelajari apa saja dari sana.

Sekian, Wassalam. 

Tepuk tangan bergemuruh. Di depanku, adalah lautan anak kecil yang sejak tadi menyimak kata-kataku lalu memberikan banyak sekali pertanyaan. Terutama, di bagian ketika sang Ayah atau si Pembunuh Bayaran dalam Pembunuhan di Atap berdebat tentang makna kebaikan dan keburukan. Di belakang anak-anak itu, berdiri seorang guru yang aku kenal. Ia yang mengundangku ke sini. Setelah tepuk tangan itu reda, ia maju menghampiriku dan memberikan kata penutup.

Selagi aula itu dibereskan oleh petugas sekolah, aku bersama guru itu sama-sama bergegas keluar. Sebelumnya ia berjanji untuk mengajakku makan di sebuah restoran yang menyediakan kepiting mahal. "Kamu yakin?" kataku bertanya kembali, takut-taku ia akan kehabisan uang setelah menraktirku makan lalu berpuasa selama beberapa hari. "Kita makan biasa aja, ga usah mahal-mahal."

"Ndak. Aku sudah janji, jangan maksa aku buat ngelanggar." Ia menggeleng tidak setuju, lalu membawaku ke mobilnya yang terlihat lusuh. Meskipun hidup sederhana, ia rela membeli mobil untuk keberlangsungan prestasi murid-muridnya. Ia mengantar mereka ke kota untuk berlomba, karena sekolah yang tidak punya biaya untuk barang yang serupa. "Yang penting kamu juga nepatin janji kamu."

"Hmm, yang itu?" Ia sangat penasaran dengan kisah di balik keaslian kisah dalam Pembunuhan di Atap. Seolah-olah itu sangat berpengaruh pada hidupnya atau hidupnya berubah karena kisah itu. "Emang ada masalah apa, sih? Aku bisa memberitahumu saat ini."

"Okelah kalau gitu." Ia mengajakku masuk ke mobil, lalu diam tanpa ada tanda-tanda ingin menjalankannya. "Kisah itu asli atau enggak?"

"Asli."

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir