Panduan yang Buruk untuk Saya Pribadi ketika Hilang Ingatan

<span>Photo by <a href="https://unsplash.com/@photoshobby?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Photos Hobby</a> on <a href="https://unsplash.com/s/photos/memory?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></span>
Photo by Photos Hobby on Unsplash
Hai, selamat malam.

Hari ini tanggal tujuh belas bulan September pukul sembilan malam kurang sedikit. Entah kenapa, badan saya masih tidak enak: antara panas dingin, dan sedikit pusing. Tidak di tingkat yang sangat menyakitkan, tapi cukup membuat mood saya berkurang banyak, bahkan untuk ngaji atau belajar. Hari kemarin, saya diundang untuk ikut sarapan di soto ayam, sekaligus mendapat baju pengajian yang warna dan bentuknya sangat khas. Sorenya, saya menyelesaikan tes akhir untuk kursus online. Keduanya saya lakukan dengan keadaan yang tidak nyaman, namun bisa saya lewati.

Kenapa saya berbicara tentang hari kemarin? kenapa saya tidak membicarakan hari ini?

Karena hari ini tidak terlalu menarik. Tidak ada yang perlu diceritakan. Malang masih ramai seperti biasa, saya malas keluar dan sebagainya. Entah mengapa, saya tiba-tiba khawatir dengan suatu hal tanpa alasan: bagaimana jika nanti kepala saya terbentur cukup keras, hingga membuat saya kehilangan ingatan dan semacamnya. Dalam film atau drama, hal itu cukup sering menjadi plot cerita, meskipun tidak saya jumpai akhir-akhir ini. Saya sendiri pengingat yang cukup baik: saya ingat banyak hal luar biasa terjadi dalam hidup saya.

Meskipun, tampak luar, saya menjalani hidup dengan cara yang biasa saja.

Kembali ke topik, bagaimana jika hal itu benar-benar terjadi? Bagaimana jika saya kehilangan ingatan? 

(Ini bukan pedoman resmi. Tapi mungkin bisa membantu saya dalam banyak hal)

Pertama, tunjukkan blog ini kepada saya. Ingatkan saya bahwa saya suka menulis dan membaca. Buku pertama yang saya baca adalah karya Goenawan Muhamad berjudul Potret Penyair Muda sebagai si Malin Kundang yang saya temukan di pondok dulu, di masa SD, lalu berhasil membacanya hingga selesai. Tulisan-tulisan pertama saya adalah puisi-puisi buruk di kelas empat SD, lalu mencoba menulis novel fantasi dengan tema empat elemen di buku tulis ketika kelas enam.

Novel pertama saya adalah Laskar Pelangi Andrea Hirata yang dibelikan abi saya di kelas tiga SD, tapi bukunya bajakan. Di kelas lima, saya mulai membaca Negeri 5 Menara yang dimiliki oleh seorang kakak kelas, lalu membaca buku keduanya Ranah 3 Warna menjelang UASBN di kelas enam SD. Di masa SMP, saya membaca dan menulis banyak hal. Saya bisa menyebutkan beberapa di antaranya, namun tidak semuanya. 

Kedua, perkenalkan saya kembali dengan teman-teman atau orang-orang yang kenal dengan begitu dekat. Di masa SD, saya berteman dengan banyak teman yang kemudian hilang kontak ketika pindah pondok. Kami sempat berkomunikasi hingga kini, namun tidak banyak. Di masa SMP, saya bergabung dengan teman-teman REIZGAVIOZA, angkatan 21 Ma'had Tahfidz Al-Qur'an Al-Amien Prenduan yang lulus di tahun 2017. Di masa kuliah, saya bertemu dengan teman-teman Antropologi UB yang sama-sama masuk tahun 2018. Begitu pula dengan teman-teman UKM Seni Religi, yang meskipun sejak sebelum kuliah sudah saya dengar namanya, baru bisa bergabung secara resmi di tahun 2019.

Ketiga, ajari saya banyak hal. Katanya, orang yang hilang ingatan bisa jadi kehilangan kemampuan yang dimilikinya sebelum masa itu. Namun, tubuhnya masih mengingat dengan kuat dan mudah untuk beradaptasi. Untuk itu, perkenalkan saya kembali dengan menulis. Atau public speaking, (yah, meskipun tidak bagus-bagus amat). Atau bermain bulu tangkis. Itu satu-satunya olahraga fisik yang saya kuasai selain berlari. Oh, iya. Ajari juga saya untuk memasak. Itu penting sekali.

Hahaha. Cukup banyak juga permintaan saya. Intinya, temani saya saja. Saya termasuk orang yang mudah panik. Entah bagaimana nanti kalau saya benar-benar kehilangan ingatan. Tapi bukan berarti saya berharap untuk itu. Tentu saja tidak. Tulisan ini dimaksudkan untuk berjaga-jaga. Sebagaimana manusia lainnya, saya juga berharap tidak ada kejadian buruk yang menimpa saya hingga membuat fisik saya lumpuh dan semacamnya. 

Untuk orang tua, saudara, pacar, dan teman-teman. Tulisan ini penting. Sebagaimana kalian. 

Komentar

  1. Jauh banget weh .___.
    Tapi kayanya bakal seru kalo farid sampe hilang ingatan. Sksksk.

    BalasHapus

Posting Komentar

Apa pendapatmu?

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir