Mempelajari Durkheim dalam Seminggu Terakhir



Kapan terakhir kali saya menulis? Minggu lalu? Dua minggu yang lalu? Atau bulan Juli? Entah. Saya sebenarnya tidak terlalu sibuk. Saya juga tertarik untuk menulis berbagai hal yang saya alami dalam keseharian. Sayangnya, saya terlalu bosan. Saya adalah lelaki yang membosankan, begitu pendapat seorang teman perempuan yang dulu sempat dekat dengan saya kemudian kami putus kontak. Seminggu terakhir, saya menyibukkan di dalam kursus online yang disediakan Coursera. Seperti yang dulu saya ceritakan, saya sedang mempelajari dasar-dasar Sosiologi klasik.

Saya membaca banyak hal tentang Emile Durkheim: ide-ide sosiologisnya, kengototannya memisahkan masyarakat dari individu, klasifikasi bunuh diri, dan asal-usul agama. Apakah saya musti menuliskannya kembali di sini? Entahlah, saya tidak tertarik. Di akhir proses membaca, saya sempat tertawa begitu keras: Durkheim dianggap mengambil contoh yang tidak sesuai untuk teori asal-usul agamanya. Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana tokoh besar sepertinya melakukan kesalahan semacam itu.

Oleh karena itu, saya musti belajar lagi.

Tulisan ini adalah semacam keisengan, agar saya tidak kehilangan kemampuan menulis meskipun gairahnya belum cukup banyak. Keadaan pacaran saya naik-turun, saya keluar dari semua grup UKM dan meng-unfollow beberapa teman, dan tidak menjawab beberapa pesan. Kabar baiknya, mulai muncul beberapa pekerjaan yang pasti: ada yang mengundang saya menjadi moderator dalam podcast, ada yang mengundang saya moderator untuk ospek fakultas, bahkan tawaran lama untuk menyusun jurnal mahasiswa datang lagi. Yah, saya akan berusaha sebaik-baiknya, dan juga senyaman-nyamannya.

Kalau tidak nyaman, ya saya tinggal berhenti. Apa susahnya. 

Seperti menulis, semua kehidupan saya biasa saja. 

Oke. Selanjutnya saya ada jadwal untuk sarapan di jam makan siang dan membaca Max Weber. Bye!

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir