Lagu-Lagu BMTH dan Bagaimana Ia Membantu Saya Bertahan
![]() |
| Photo by Maelle Ramsay on Unsplash |
“Buka aja dulu.” Ia mengambilkan laptop yang saya simpan di lemari, lalu membantu saya beranjak dari kasur lantai yang empuk. Saya memasang flashdisk dan menyalakan laptop, lalu menemukan beberapa video musik yang belum pernah saya dengar sebelumnya. “Itu tadi download di kantor. Gak banyak sih, jadi seadanya aja.”
“Band apa nih?” Aku bertanya basa-basi, sekaligus memutarnya. Video yang saya tonton di tahun 2018 itu adalah sebuah lagu dari band bernama Bring Me The Horizon dengan judul True Friend. Saya menikmati nada dan musiknya, sekaligus membaca lirik yang tersedia dalam videonya. Selama ini, referensi band rock atau metal bagi anak pondok seperti kami tak banyak: Avenged Sevenfold, Evanescence, Asking Alexandria, Nile, One Ok Rock dan beberapa band lain. Bagi saya, itu adalah pengalaman pertama berkenalan dengan BMTH.
Saat ini, Azmi berkuliah di Malaysia. Ia mengejutkan banyak teman ketika mengumumkan akan naik kereta ke Jakarta lalu terbang ke negeri tetangga. Kami mendoakan keselamatan dan kesuksesannya, tentu saja. Sembari dengan rasa kesal dan penyesalan tetap menuntut ilmu di dalam negeri. Secara pribadi, saya berterima kasih banyak kepadanya telah mengenalkan saya dengan BMTH, karena dengan lagu-lagu itulah saya bertahan hidup dalam tekanan dunia perkuliahan.
Saya mungkin bukan mahasiswa yang rajin, tidak terlalu pintar dalam membaca, menulis atau berdiskusi. Saya tidak punya keinginan dalam hidup secara sosial seperti berorganisasi dan semacamnya. Kesulitan saya di masa kuliah begitu besar, namun mungkin terlihat ringan di mata orang lain: beradaptasi dalam kebebasan yang tidak terbatas.
Saya terbiasa mondok dari kecil. Saya memulai pendidikan pesantren dari kelas satu SD. Jauh dari orang tua mungkin terasa mudah: saya tidak kangen dengan rumah, saya tidak begitu dekat dengan kedua kakak perempuan. Namun, ketika berpisah dari teman-teman pondok, rasanya begitu sulit. Mereka adalah orang-orang yang menemani saya selama tujuh tahun, dari sejak menginjak bangku SMP hingga lulus SMA dan mengabdi menjadi guru.
Lagu True Friends yang saya dengarkan saat itu sangat sesuai dengan solidaritas dan persahabatan kami. Ia juga mengajarkan makna teman sejati: bahwa ia yang mengkritikmu secara terang-terangan lebih baik daripada yang menggosipkanmu secara diam-diam. Terlihat ideal mungkin, namun langsung hilang begitu saya masuk ke dunia perkuliahan: saya tidak memiliki teman dekat, setiap orang membentuk kelompoknya masing-masing. Saya kira saya melihat dunia nyata ketika mondok dahulu, karena persaingan politik kami yang begitu keras melawan adik kelas atau kakak kelas. Namun, dunia nyata lebih kejam: Ia dibungkus dengan berbagai macam selimut kebaikan. Di dalam hati, saya tidak yakin berhasil melewati masa-masa perkuliahan.
Namun saya telah sampai pada titik ini. Empat semester perkuliahan membawa saya pada keadaan setengah matang, serupa telur ceplok yang diangkat terlalu cepat dari wajan. Pandemi mungkin memerintahkan saya tetap di dalam ruangan, namun keadaan sosial masyarakat, terutama teman-teman sebaya saya, membuat saya sadar: bahwa saya tidak boleh berdiam diri. Untuk itulah saya terus belajar, terus membaca dan menulis, lalu mengerjakan tugas dengan sebaik-baiknya. Di luar, saya tampak seperti seorang mahasiswa yang acuh tak acuh, dengan sebuah earphone di kedua telinga. Namun, saya memilih berhati-hati. Setiap langkah yang saya pilih adalah sebuah pertimbangan, setiap pilihan adalah harapan. Apa yang saya harapkan?
Entah. Jawabannya mungkin ada dalam lirik-lirik lagu BMTH yang lain.


BalasHapus" Every scar will build my throne! "
- Throne, BMTH -
BalasHapus" Every scar will build my throne "
- Throne, BMTH -