Haruki adalah Tuhan yang Menyebalkan


“Jangan pernah percaya pada penulis yang belum pernah mati.”
Haruki Murakami - Norwegian Wood

Entah kapan tepatnya, tapi saya mengira-ngira hal itu terjadi di tahun 2015. 


Seperti biasa, setiap ulang tahun, saya selalu meminta hadiah berupa buku. 21 Juli tahun itu, Abi mengajak saya pergi menuju Toko Buku Togamas di daerah Gubeng, Surabaya. Saya akan dibebaskan memilih buku apa saja, yang kemudian akan saya habiskan selama setahun di pesantren. Apakah ada batasnya? Tidak. Saya diperkenankan untuk mengambil buku apa saja sebanyak yang saya mau. Namun, saya sadar diri. Saya hanya mengambil novel-novel dari para penulis terkenal, sekitar lima sampai delapan buah saja. Kalau lebih, ada Umi di rumah yang siap marah-marah.


Setelah lama berkeliling di dalam Togamas, mata saya akhirnya terpaku pada bundelan buku berjudul 1Q84, ditulis oleh Haruki Murakami. Saya belum pernah mendengar namanya. Namun, dari judulnya, saya tahu bahwa buku ini mungkin memiliki relasi dengan 1984 karya George Orwell: entah terinspirasi, atau bahkan meniru. Namun buku itu sangat tebal, dan terdiri dari tiga jilid. Hari itu, saya membawa pulang dua jilid awal 1Q84, menyisakan buku ketiganya agar bisa dibeli di ulang tahun berikutnya.


Kisah-Kisah Haruki


Secara menyebalkan, 1Q84 berkisah tentang dua orang manusia, Tengo dan Aomame, sebagai dua orang kekasih yang terpisah oleh jarak dan takdir. Tengo adalah seorang guru les matematika, yang di setiap akhir pekannya selalu menghabiskan waktu sebagai selingkuhan wanita bersuami. Pada suatu waktu, ia direkrut sebagai editor buku untuk anak ajaib bernama Fuka-Eri yang berhasil lepas dari perbudakan seksual tokoh agama. 


Di sisi lain, ada perempuan pembunuh bayaran bernama Aomame yang ditugaskan untuk membunuh tokoh sekte agama itu, namun malah terjebak dalam dunia lain. Aomame meyakini dunia yang ia tinggali berbeda, seolah-olah ada orang yang “menggeser rel kereta” dan membawanya ke dunia 1Q84, bukan 1984. Selain itu, Haruki juga bercerita tentang bulan berwarna merah, Orang-Orang Kecil sebagai penguasa alam semesta, dan dunia magis lainnya. 


Pada akhirnya, ketika Tengo berhasil bertemu dengan Aomame, ia diseret kekasihnya menuju dunia asli: gerbangnya ada di tepi jalan tol, mereka melewati rumah demi rumah untuk sampai di sana.


Buku-Buku Lain


Namun, tidak hanya 1Q84 yang membuat saya ingin menulis seperti Haruki.


Setelah mengkhatamkan buku ketiganya (ya, saya juga membelinya), saya membeli Dunia Kafka, terjemahan dari Kafka on the Shore dan Norwegian Wood yang keduanya juga ditulis Haruki. Dunia Kafka berkisah tentang seorang anak bernama Kafka yang kabur dari ayahnya pada usia 15 tahun, lalu bertamu pada seorang janda dan terlibat dalam mimpi-mimpi seksualnya. Di sisi lain, ada pula seorang kakek tunagrahita yang tiba-tiba saja ingin pergi setelah membunuh ayah Kafka dan bertemu janda itu. 


Norwegian Wood (yang diambil dari judul lagu The Beatles), berkisah tentang tiga orang sahabat yang terpisah akibat kematian salah seorang sahabat lainnya. Namun, berbeda dengan 1Q84 atau Dunia Kafka yang surreal, Norwegian Wood lebih realistis, menampilkan kisah-kisah sederhana yang panjang namun tetap berkesan. Selain tiga itu, saya juga membaca karya Haruki lainnya, namun tidak berkesan. Tiga novel itu saja sudah membuat saya jatuh cinta dan mengagumi gaya Haruki dalam menulis dan bercerita.


Bagaimana Ia Menulis?


Saya tidak pernah membaca proses kreatif penulis-penulis hebat, karena saya yakin setiap orang memiliki jalannya sendiri. Bukannya sombong atau tidak mau belajar, saya hanya merasa tidak yakin setiap melihat atau mendengar proses kreatif yang diceritakan oleh penulis. Hingga kini, penulis mana pun masih akan kebingungan ketika berhadapan dengan pertanyaan para pemula, “Gimana sih cara menulis?”


Bagi saya, menulis adalah bercerita. Kita menulis seperti kita mengatakannya melalui lisan, berinteraksi dengan manusia lain secara verbal. Ketika kita ingin berteriak, kita menuliskan huruf-huruf besar, diikuti dengan beberapa huruf yang sama, seperti “AAAAHHHH!!!” atau “Haish…”. Ketika kita ingin berbisik, kita menuliskan kata-kata senyap, seperti “Eh, kamu tau gak?” atau “Sssttt…” Ketika kita ingin menggambarkan adegan secara lebih filmis, kita akan menambahkan detail-detail kecil, baik itu benda yang bergerak atau pun tidak.


Dan hal itulah yang dilakukan oleh Haruki: ia menggambarkan dunianya sebaik mungkin. Bahkan, ketika pembaca berhadapan dengan hal-hal musykil seperti ‘kepompong udara’ dari benang-benang yang diambil dari ruang kosong di hadapan kita. Atau kehadiran Tuhan dalam wujud Kolonel Bernie Sanders, pendiri KFC, yang kemudian menjadi germo di tempat pelacuran. Ide-ide gila Haruki tumpuk-menumpuk secara rapi. Ia menjadikan dunianya terlihat normal, seolah-olah pembaca tinggal di dalamnya.


Kalau Haruki hadir di depan wajah, saya yakin ia adalah pencerita bermuka datar: ia menuliskan kisah-kisahnya tanpa dosa, tanpa perasaan menyesal. Ia bercanda dengan keadaan para karakternya yang pahit, ia menyajikan kejadian-kejadian tak masuk akal. Kalau seorang penulis adalah Tuhan bagi alam semesta dan karakter-karakter di dalamnya, Haruki adalah Tuhan yang menyebalkan: ia membuat semuanya seolah-olah alami, lalu tertawa jauh di dalam lubuk hati.


Hal-Hal Penting Lain


Dari sekian banyak kisah Haruki yang saya baca, dia adalah penulis yang komikal. Setidaknya, dari membaca karya-karyanya saya jadi tahu apa yang menjadi karakteristik penulisannya: adegan seksual, musik Jazz beserta tokoh-tokohnya, dan perdebatan konyol tentang ide-ide modern. Anehnya, adegan-adegan itu (kecuali adegan seksual) bahkan tidak ada hubungannya dengan kisah, seolah-olah dibuat sebagai pelengkap atau pengisi ruang kosong yang tambal-sulam di sana-sini. Namun, ia adalah penulis yang bagus. Saya dan dunia mengakuinya.


Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir