Dian
![]() |
| Photo by Jorge Fernández on Unsplash |
"Hei, kamu masih ingat wajah siapa ini?"
Aku menoleh. Iwan menunjukkan foto seorang perempuan dengan rambut pirang. Wajahnya panjang, dengan senyum kecil dan sedikit guratan di pipinya. Aku mencoba untuk mengingatnya, namun nihil. "Itu komputer dari sepuluh tahun yang lalu, kan?" Kawanku mengangguk. Aku melipat buku catatan di tanganku, lalu mejepitnya di ketiak. "Ini masa-masa kuliah. Masa ketika hidup kita masih damai dan penuh kritik terhadap pemerintah."
"Ya." Iwan menarik sebuah kursi agar aku bisa duduk di dekatnya. Aku mendekati layar dan ia memberikan deskripsi pada sosok yang penampilannya sedikit kukenali. "Kau berkata bahwa kalian bertemu pertama kali dalam aksi demonstrasi itu. Tapi dia tidak setuju: sudah lama wanita itu mengidolakanmu sebagai sosok yang baik. Kekuranganmu ketika itu hanya satu. Kau kurang rupawan." Aku mengangguk, menyetujui semua kata-kata Iwan bahkan hingga detail terakhirnya.
"Lalu, mengapa dia menggunakan jaket kuning? Bukannya warna kelompok kita saat itu merah?"
"Dia menyusup."
"Hmm. Ok ok." Aku beranjak, meninggalkan Iwan kembali dengan kesibukannya. Selagi ia mencari jejak digital yang mungkin tertinggal dari komputer itu, aku juga mencari catatan-catatan penting yang sebagian besar wanita itu di rumah ini. Beberapa hari yang lalu, sebuah sinyal muncul dan informan lapangan juga memperkuat kesaksian itu: ada dugaan bahwa sosok penting di masa revolusi ini masih bersembunyi dan belum berani muncul. Ia seorang wanita tangguh, yang pada masa pra-revolusi sangat bernyali hingga berani mengambil langkah penuh risiko.
Dan kini kami di rumahnya, berusaha mencarinya.
*****
Nama wanita itu, adalah Dian.
Yah, bukan nama yang feminin, tapi siapa sih yang peduli? Lelaki itu bahkan langsung bergegas kemari, ke lokasi sinyal ini muncul, tanpa diskusi atau rencana satu pun. Aku masih mempersiapkan makan malam ketika ia memanggilku. Dan sebagai ahli komputer terbaik, aku harus membantunya menggeledah satu unit komputer yang sudah lama tidak terpakai. "Bang, ini bener-bener udah lama ga dipake, lho. Beneran dari sini?"
"Iya. Buka aja dulu. Barangkali kita nemu komputer lainnya abis ini." Kata-katanya selalu optimis dan positif. Aku menderngarnya membuka tumpukan buku, menggeledah lemari demi lemari, hingga mengetuk dinding satu per satu. Sepatunya menghentak lantai kayu, dengan suara-suara bergemuruh. Aku melihatnya, mencoba mengira-ngira pikiran apa yang selama ini terlintas dan mendekam di kepalanya. Dan karena aku terlallu terpaku, ia menoleh padaku.
"Wan, ini gak ganggu kan?"
"Oh, engga kok, Bang."
"Nemu sesuatu?"
"Abang masih inget wajah ini?" Aku mengarahkan layar komputer padanya, berharap ia bisa bersantai sejenak dan mengingat seorang yang ia cari selama ini. "Itu komputer lawas, kan?" Ia sedikit tertawa, namun aku tahu dia menyembunyikan rasa sedih dan sakit dalam hati. Wajahnya tak bisa menunjukkan itu. Namun sorot matanya sangat yakin dan kuat: ia menatap wanita itu solah-olah harta karun yang selama ini disembunyikan leluhur, atau senjata rahasia yang dibuat Koalisi.
"Iya, Bang. Lawas banget. Terakhir dibuka sepuluh tahun lalu. Abang bilang kalo kalian pertama kali ketemu waktu demo, pas kejadian itu. Tapi dia malah gak setuju terus malah ngaku kalo ngidolain Abang sejak lama." Aku berhenti mengenang masa-masa itu hanya untuk tertawa, lalu menatap wajahnya. "Kekurangan Abang waktu itu cuma satu, kalah ganteng sama ketua kelompok demo lain." Aku melihatnya tertawa, seolah-olah berdamai dengan takdirnya yang tidak memihak penampilan.
"Hmm, selain pake jaket kuning, dia juga ga pake kacamata. Emang gitu ya orang-orang Koalisi?"
"Enggak sih, Bang. Wajahnya yang pake kacamata udah terkenal, jadi dia lepas biar bisa nyamar. Kaya Superman, gitu. Tapi bedanya ini kebalik."
"Lumayan ya, wajahnya kalo ga pake kacamata?"
"Kenapa? Cantik, kan?" Lelaki itu terdiam. Aku tahu ia tersenyum di balik topengnya.
*****
"Rus, bukannya Abang kalo sama Iwan udah pasti aman, ya?"
Cih, lagi-lagi bocah ini memanggilku dengan nama depan. "Kamu gak bisa ngehormatin senior, ya?"
"Dih, santai aja napa." Ia mendekatiku dengan senapannya. Dewan Besar mengirim kami untuk mengikuti Abang yang tiba-tiba pergi ketika seorang informan masuk ke Ruang Besar. Jangan sampai lelaki itu terluka. Kalau ia diserang musuh dan tidak kembali, kalian juga tidak boleh kembali. Padahal Abang sudah memanggil Iwan yang terkenal akan kewaspadaannya, dan pasti bocah tukang masak itu tau kami mengikuti mereka. "Kita ga mungkin gerak kecuali si Iwan juga gerak, ya kan?"
"Iya sih," aku menurunkan senapan, mengisinya dengan beberapa peluru lama agar kami bisa berhemat. Kontur dunia saat ini bergelombang, terdiri dari gunung dan perbukitan yang meletus. Ditambah dengan gedung-gedung pencakar langit yang runtuh satu per satu. Aku menginjak selembar kain tebal berwarna cerah, kira-kira dari baju bayi di masa damai. "Kalau ngikutin dia, jadinya kaya santai-santai. DB aja yang sok panik."
"Ya gimana ga panik sih Rus. Abang kan orang penting. Dia udah turun jalan sejak masuk kuliah dan sebelum revolusi diincer banyak orang. Emang dia yang punya karakter pemimpin di antara orang-orang DB."
"Gak cuma itu," Aku membalikkan badan, menyandarkan lengan pada batu abu-abu yang basah karena hujan. Di hadapan kami, ada bangunan dua lantai penuh dengan interior kayu. Tanpa atap, karena di atas bangunan itulah ditanam banyak sekali pohon-pohon kecil bebuahan. Sebagian bangunan itu tampak hilang, namun struktur utamanya masih bertahan. Dahulu sekali aku pernah memasukinya, namun momen revolusi membuatku melupakan kenangan itu. "Kamu gak tahu rumah ini, kan?"
"Emang ini rumahnya siapa?"
"Dian."
"Dian?"
"Ya. Pacarnya Abang waktu kuliah."
"Pacar? Sumpah?"
"Iya. Mereka ketemu sejak demonstrasi kecil-kecil sebelum akhirnya Demo Besar itu."
"Kalau pacarnya juga ikut demo, berarti orang penting?"
"Iya. Pacarnya orang Baju Kuning."
"Sumpah?"
Aku mengangguk. Meskipun jabatanku tidak terlalu tinggi, pengalamanku bertemu dan berjuang bersama Abang tidaklah main-main. Aku masuk kuliah ketika dia semester lima, ketika dia tidak lagi sering turun ke jalan tapi berkumpul dengan masyarakat pinggiran dan pekerja kasar di Ibukota. Aku beberapa kali menemaninya, melihatnya secara langsung bagaimana ia hanya bisa beristirahat dalam perjalanan, itu pun harus benar-benar capek dan dipaksa oleh teman-temannya. Kalau ia bangun sepanjang perjalanan, ia selalu meminta kami untuk berhenti lalu mampir di markas perjuangan setempat. Ia selalu menyempatkan diri untuk bertemu dengan kawan-kawannya, atau pun orang asing yang bisa ia jadikan kawan perjuangan.
"Aku gak terlalu inget kapan Abang ketemu Dian, tapi pastinya di demo-demo kecil," Bocah yang membawa senapan bersamaku itu mendekat, mencoba mendengarkan apa yang mungkin akan menjadi legenda nantinya. "Waktu itu Abang berusaha nyari dukungan dari orang-orang Baju Kuning di kota-kota besar. Dan itu sulit banget. Mereka udah banyak yang mapan jadinya ga bisa diajak berjuang. Beda sama kita orang-orang Merah yang ada di pinggiran."
"Nah, ketika itu MB lagi rame..."
"MB?"
"Markas Besar."
"Orang Kuning?"
"Iya."
"Nah, MB waktu itu lagi rame soalnya Abang dituduh berkhianat ketahuan pacaran sama Mbak Dian."
"Loh, jadi ceritanya waktu udah ketahuan? Bukan waktu ketemu pertama kali?"
"Tunggu dulu!"
"Okedeh."
"Waktu itu si Abang udah ketahuan pacaran sama Mbak Dian yang orang Kuning. Tapi, Abang pinter drama. Jadi ia pura-pura sedih dan bilang kalo itu pertemuan terakhirnya: dia putus karena tahu kalo Mbak Dian adalah orang Kuning, sebelumnya ga tahu. Dan Mbak Dian juga ga nyangka kalo si Abang orang terkenal di golongan Merah. Ya akhirnya mereka setuju buat putus. Yah, meskipun nyari pacar di kalangan aktivis macam kita agak sulit."
"Terus terus?"
"Mbak Dian ini kan anak Biologi. Dia tahu niat pemerintah buat bikin senjata biologis dan ga setuju. Sejak saat itu, dia ngilang dan ga ketemu sampe sekarang."
"Entar entar. Senjata Biologis yang katanya ga sengaja meledak itu?"
"Iya. Itu ESBE. Kita nyebutnya ESBE karena itu artinya Senjata Biologis."
"Dih, kok gitu banget ngasih nama. Ga ada bahasa inggrisnya."
"Ya gimana, Cil. Wong waktu itu semua orang berlomba-lomba biar keliatan nasionalis. Jadinya ya kaya gitu. Tapi di kalangan kita aja, nulisnya ESBE pake huruf E di depan sama di belakang."
"Lumayan sih. Terus sekarang si Abang nyari pacarnya yang ilang itu?"
"Iya. Mbak Dian, katanya, ngasih tahu informasi ESBE ke Abang pas sebelum meledak, dan akhirnya kaya gini: kota-kota berantakan dan banyak orang mati."
"Mas Rusli sendiri banyak ga keluarga yang meninggal?" Aku terdiam, bocah ini bertanya tanpa sopan-santun begitu saja, seolah-olah pertanyaannya tampak normal. Kenanganku di masa damai seharusnya tidak banyak. Namun, kisah keluarga memaksaku mengingat semua itu: apa yang baik dan apa yang buruk. Apa yang cerah dan apa yang kelam. "Soalnya aku udah tinggal di panti asuhan sejak kecil, dan kami punya bungker bawah tanah."
"Hmm," aku berbalik ke rumah itu, mengintip sedikit barangkali ada pergerakan dari dalam. Dua orang itu masih sibuk dengan pekerjaannya masing-masing: Iwan dengan sebuah komputer, dan Abang yang berkeliling rumah. Aku mengambil teropong dan berusaha melihat, apa saja yang mungkin mengancam keselamatan mereka berdua. Ketika merasa aman, aku berbalik dan menceritakannya pada si bocah. "Aku tinggal sama Ibuk tok. Kakakku kan orang Kuning."
"Lah, sumpah?" Ia menatap tak percaya. Ia mendekat padaku. Sepatunya menyeret lumpur dan kerikil, membuat suara sedikit berisik. "Gimana ceritanya?"
"Ya gitulah, Cil." Aku mengajaknya berdiri dan mendekat ke arah Pasukan Keamanan lain yang berjaga di sekitar. "Politik emang bikin manusia terpecah-belah. Padahal, biaya hidup Ibu dan biaya kuliahku dari Kakak, dan dia juga sempet protes waktu tau aku ikut kelompok pergerakan. Tapi akhirnya dia ga bisa ngelarang, karena aku juga keras kepala. Dia juga cuma orang biasa di sana, bukan orang penting kaya Mbak Dian."
"Tapi kan bahaya kalo ketahuan."
"Nah itu kuncinya," Kami bertemu dengan pasukan lain dan duduk bersama. Kuperintahkan dua orang mendekat dan menjaga kami untuk beberapa menit, selagi kami bicara dan memeriksa kotak senjata. "Selama kami ga ketahuan kalo bersaudara, Kakak ga bakal kena masalah. Ibu juga harus nahan diri buat ga pernah ketemu."
"Orang-orang Kuning jahat, ya."
"Ga bisa gitu sih," Aku menyuruh beberapa pasukan mengganti fokus, dari Abang dan Iwan, menuju tanah lapang dan hutan yang kemungkinan akan menjadi tempat musuh, khawatir informasi yang datang ke Ruang Besar adalah jebakan. "Manusia kaya kita yang salah. Sistem politik kita rumit banget sampai-sampai kita harus terpecah-belah. Kalau pun makhluk lain punya tingkatan kecerdasan yang sama, mungkin bakal seperti kita juga."
"Cak Rus," salah seorang pasukan memanggilku. "Abang sama Iwan keluar. Kita lanjut kejar atau gimana?"
"Berapa orang yang ikut tadi?"
"Enam belas." Si Bocil menyebutkan nama-nama. Aku kenal mereka semua. "Ada juga yang masih nyusul di jalan."
"Oh, ya udah kalo gitu." Aku menunjuk beberapa orang, lalu membaginya dalam beberapa kelompok. "Dua belas orang ikut sama aku ngikutin Abang. Sisanya nunggu pasukan yang nyusul, terus bikin kelompok, satu kelompok dua belas orang. Gitu terus sampe habis. Oke?"
"SIAP!" Aku melihat rumah itu, yang mulai diselimuti dedaunan dan akar-akar menjuntai. Dua orang lelaki, dengan salah satu nya lebih tinggi keluar dari pintu. Keduanya berbaju hitam, jas hujan, dan sepatu berat ala tentara. Ketika dua lelaki itu berjalan, aku melihat langit dan memeriksa di mana matahari. Ledakan Besar tiga tahun lalu membuat bumi menjadi lebih berawan, hampir-hampir tanpa sinar matahari di setiap sisi.
"Lelaki itu sudah mengganti topengnya lagi?"
*****
Pertanyaan itu muncul dari Iwan, yang selama ini selalu aku percayai untuk menemaniku dan menyelesaikan problematika dunia modern yang tidak aku ketahui. Dia adalah lelaki yang terampil: sebelum Ledakan, dia adalah seorang seniman independen yang tidak bergabung dengan komunitas mana pun. Sebelum menjadi seniman, ia mendapat banyak tawaran untuk kemampuan meretasnya yang luar biasa. Namun ia menentukan nasibnya sendiri, lalu membuat banyak karya dalam jalan pertapaan.
Aku memesan lima topeng lagi bulan ini. Semuanya aku pakai dalam keadaan tertentu: hujan, perang, menggali sumber daya, makan, dan upacara kematian. Semuanya terdiri dari motif dan warna yang berbeda dan karya-karya Iwan selalu menakjubkan. Ketika topeng-topeng itu kupakai dan membantuku lebih percaya diri untuk tampil di ruang publik, aku selalu berterimakasih. Dan Iwan, sebagaimana orang-orang yang selamat dari Ledakan, mereka akan selalu menolak ucapanku seolah-olah itu bukan bantuan besar.
"Sudah kewajibanku membantumu melalui masa-masa sulit ini." Ia memakai sepatunya yang penuh lumpur dan mengikat talinya lebih keras. "Abang berperan banyak di masa sebelum revolusi. Juga membantuku menemukan kepercayaan pada sesama." Aku melihat wajahnya yang mulai tampak dewasa, padahal dahulu dia adalah seorang remaja dengan kepribadian bocah. Sinar matahari sore menerpa wajah kami, memberitahunya untuk memasang kacamata hitam.
"Lensanya bagaimana? Bisa dipakai?" Aku mengangguk. Iwan membuat topeng ini lengkap dengan berbagai aksesorinya. Ia menambahkan dua lensa, bibir karet, dan beberapa rambut di bagian alis. Aku mengeluarkan cermin dari kantong celana sebelah kiri, memerhatikan topeng buatannya dengan seksama. Topeng ini tidak mirip dengan wajahku di masa damai, namun cukup untuk membantuku beradaptasi dengan dunia baru pasca Ledakan Besar. Dan Iwan bukan satu-satunya. Aku hidup kembali berkat bantuan banyak orang baik yang mengelilingiku selama ini. "Jangan anggap itu gratis. Aku membuatnya agar kau terus berjuang dan memimpin kami melalui semua ini. Kami setuju untuk menghidupkanmu kembali bukannya tanpa tujuan."
"Ya, aku tau, Wan." Kataku menoleh padanya. Beberapa temannya juga memberiku tangan prostetik, sepatu besi, dan cincin emas tertanam di dalam jantung. "Aku pasti ganti semua biayanya."
"Berjuang saja. Jangan pikirkan yang lain." Dia berhenti melangkahkan kaki, berniat untuk mengajakku kembali. Beberapa anggota Dewan Besar tidak setuju aku keluar markas tanpa rencana, dan sikapku untuk langsung bergegas keuar ketika mendengar nama Dian musti membuat banyak orang bertanya-tanya. "Kau tidak perlu kan menemukan wanita ini?"
Aku menggeleng. "Aku musti menemukannya. Dia pasti masih hidup."
"Tidak ada yang selamat dari ledakan itu, Bang!" Ia berteriak, namun wajahnya menunduk, tak berani menatapku. "Terima saja kalau dia sudah mati."
Aku mendekat padanya, mengangkat wajahnya. "Kalau kau enggan ikut bersamaku, aku akan pergi sendiri." Aku berbalik melihat langit yang terus mengirimkan gerimis tanpa henti. "Kembalilah bersama pasukan di belakang. Mereka juga tidak harus mengikutiku."
Iwan mulai mengangkat wajahnya, namun tetap tak berani menatapku. Matanya memerah, seolah mau menangis dan melontarkan semua amarah. Aku selalu merasa berutang padanya, namun aku memang harus menemukan wanita itu untuk menyelesaikan semua ini. "Bang, sinyal itu palsu. Bisa jadi itu jebakan musuh agar kau datang pada mereka. Sadarlah! Mbak Dian sudah mati! Dia gak bisa kembali!"
*****
Aku berhenti melangkah. Benarkah yang kudengar itu? Dian sudah mati? Aku bisa melihat mereka berdebat, namun tidak ada yang berani menatap mata lawan bicara. Kalau Dian mati, lalu Abang bagaimana? Hilang dan tak pernah muncul kembali adalah hal yang biasa bagi dua manusia yang bertemu lalu berkenalan dan berinteraksi. Namun, ketika salah satunya mati, tidak ada lagi yang mampu dilakukan. Bahkan bagi lelaki sepintar Iwan sekalipun. Bahkan bagi lelaki sebaik dan sehebat Abang sekalipun.
*****
"Aku akan kembali, percayalah." Dia memalingkan wajah, tak mau menatapku yang berteriak begitu kencang tanpa sadar ada beberapa orang pasukan di belakang. Aku, lagi-lagi, harus melihat punggungnya menjauh, dengan langkah kaki tegap dan pasti, meskipun ia lebih pendek dariku. Kenapa lelaki ini begitu hebat? Apa yang menjadi hidangan ibunya ketika hamil? "Kau kembali bersama pasukan. Sampaikan salamku, dan katakan pada mereka untuk tidak mengikutiku. Tutup gerbang hingga besok pagi."
"Besok pagi?" Aku berteriak lagi, tak percaya dengan kenekatan lelaki ini. "Kau sudah gila? Sore hari sudah begitu dingin, bagaimana caranya kau akan bertahan?"
"Aku mengambil obormu." Ia mengeluarkan tongkat kecil berisi gas api, lalu tersenyum padaku seolah-olah aku membentaknya tanpa amarah. "Dah."
Lelaki itu berlari. Aku tak bisa mengejarnya.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?