Warrior Nun: Premis Bagus tapi Plin-Plan
Seonggok jenazah tersungkur di tengah ruangan. Dia perempuan, sedangkan dua orang lain berdiri di dekatnya. Jenzah itu baru saja ditinggalkan nyawanya, namun tak lama kemudian takdir membuatnya kembali hidup, dengan kekuatan khusus melingkupi tubuhnya. Selama hidup, ia lumpuh, tidak dapat keluar dari panti asuhan yang mengurungnya. Namun, ketika hidup kembali, ia harus belajar melangkahkan kaki sekaligus berperang. Takdir mungkin jahat, namun ia memiliki tujuannya sendiri.
Itu adalah prolog singkat yang baru saja terpikirkan, ketika saya hendak menuliskan nama sang tokoh utama, Ava Silva (Alba Baptista) namun tak mampu karena openingnya terlalu panjang. Ava mampu hidup kembali, namun ia bertemu dengan kenyataan bahwa ia hidup akibat halo malaikat yang tidak direncanakan terpasang di punggungnya. Sejauh apa pun ia berlari, ia tak bisa lari dari takdirnya. Ia akhirnya harus berlatih, di bawah naungan Ordo Pedang Salib
Saya tidak ingin banyak bercerita. Sepanjang 10 episode, saya menikmati bagaimana ide ini berjalan dan dihidupkan, namun malah menemukan banyak kekurangan. Kritik saya dalam tulisan ini berusaha mengungkap apa saja kekurangan dari Warrior Nun
- Penokohan yang tidak konsisten. Ketika menonton sebuah karya visual dalam bentuk cerita, penonton selalu bertanya-tanya siapa tokoh utama dan pinggiran. Distingsi itu berjalan terus menerus, baik sengaja maupun tidak. Begitu pula dengan kebaikan dan kejahatan, meskipun banyak cerita berusaha mengungkap dinamika kehidupan manusia, yang keduanya saling menyatu, saling melapisi, dan tak dapat dikenali. Sayangnya, Warrior Nun kehilangan sisi misteriusnya manakala Vatikan tak lagi jahat, dan Bapa Vincent yang membimbing mereka berganti posisi tanpa penjelasan. Beberapa orang mungkin akan menganggap itu sebuah plot twist, tapi kegagalan membuat saya menyatakan itu plin-plan.
- Ide lama yang tidak diperbaharui. Pertarungan agama dan sains adalah kisah lama, di mana semua orang konservatif akan selalu menyukainya. Yang sangat relate dengan bacaan-bacaan saya, tentu saja Angel and Demons karya Dan Brown yang berusaha keras mempertemukan keduanya namun malah menimbulkan kontroversi lebih lanjut (Untuk apa seorang Paus memiliki anak?) Dan di Warrior Nun, ide itu tidak berkembang sama sekali. Kita cuma melihat seorang ilmuwan mengundang Kardinal tanpa alasan, dan klaim Kardinal bahwa Arq-tech mencoba melihat surga juga dipertanyakan. Mana buktinya? Tak ada. Warrior Nun membawa-bawa konflik lama yang tidak perlu.
- Budget minimum. Oke, mungkin ini problem internal yang seharusnya tidak perlu saya sebut. Namun, dengan ide yang ciamik, Warrior Nun masih bisa dikembangkan lebih: tokoh yang lebih kompleks, tokoh yang lebih banyak dan latar tempat yang lebih berwarna. Dari awal hingga pertengahan penonton merasa tidak yakin di mana serial ini dibuat, Spanyol atau Inggris? Kenapa tidak sekalian berbahasa Spanyol? Dan kenapa sebuah ordo rahasia hanya memiliki sedikit pengikut?
Yah, mungkin tiga poin itu cukup menjelaskan bagaimana Warrior Nun musti diperbaiki, apalagi di musim berikutnya. Lagipula, kenapa Bapa Vincent harus jadi pengikut Adriel? Bukannya Adriel sendiri sudah cukup kuat? Kenapa dia masih butuh antek manusia? Itu pun kalau Vincent adalah manusia? Kalau bukan? Untuk apa mengungkap masa lalunya sebagai mafia?
Lalu Sister Lilith berubah jadi sosok apa? Apakah dia monster yang dilawan Adriel di masa lalu atau benar-benar Iblis? Bukannya film ini malah akan memporak-porandakan iman kristus yang berdiri di atas kuburan Adriel dan berbagai mitos lainnya? Ini kan film tentang agama yang melawan sains, kenapa malah menghancurkan salah satunya?
Berbagai pertanyaan masih banyak berkeliaran di kepala, namun saya tidak mengungkap semua, karna bisa diterka-terka sendiri. Penulisan judul menggunakan ayat Alkitab juga memberikan efek bahwa serial ini menggunakan agama sebagai salah satu unsur utamanya, tak hanya menampilkan sisi simbolis katolik dan gereja. Pemilihan aktor muda sebagai pasukan cukup bagus, tapi terlalu dominan membuat sisi profesionalitas sebuah ordo pasukan jadi tidak meyakinkan.
Koreografi pertarungan mungkin bisa diperbanyak, mengingat ini adalah sebuah ordo pasukan, yang bisa bartarung atau membunuh atas iman. Yang paling saya suka, tentu saja keimutan para aktrisnya terutama Suster Beatrice (Kristina Tonteri-Young) dan Suster Camilla (Olivia Delcan) waktu pake kerudung 😍😍😍😍😍😍. Favorit!


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?