Rencana-Rencana Semester Lima
Photo by Andrew Neel on Unsplash
Halo SeninSaat ini sudah malam hari. Tadi siang, saya baru saja menyelesaikan sebuah proyek di UKM Seni Religi: Buletin Spesial Kemerdekaan. Proyek-proyek tulisan seperti ini selalu atas inisiatif pribadi, bukan sebuah kewajiban yang musti saya lakukan untuk departemen yang saya masuki. Sejauh ini, program yang saya jalankan hanya membuat kapsi untuk postingan di media sosial, dan karenanya saya merasa bosan. Saya merasa, saya musti melakukan sesuatu. Dan ketika saya mengingat, bahwa proposal buletin saya di Ramdhan lalu disetujui, maka saya mencobanya lagi.
Untuk ke depannya, saya mungkin tidak akan sungkan-sungkan.
Dan dengan terbitnya buletin spesial kemerdekaan tadi, saya berpikir untuk mencoba lagi sistem yang sama di hari ulang tahun SR nanti. Ah, seharusnya saya tidak perlu banyak berbicara tentang UKM di sini. Tapi saya belum punya ide cerita, dan karena saya suka kerja, saya lebih suka tulisan saya berada di tempat yang lebih banyak pembacanya. Yah, meskipun tidak menjamin buletin itu lebih laku, sih. Tapi saya tetap berusaha. Agar tulisan saya semakin baik, dan kemampuan saya dalam manajemen waktu semakin teratur.
Kehidupan romansa saya berjalan cukup lancar. Bedanya, kami sekarang mulai gampang capek ketika jalan bareng. Hari kemarin, saya coba mengajaknya nonton film dan membeli Natgeo di Gramedia Matos. Pulangnya, mata kanan saya sakit. Dan benar, saya bintitan. Dia juga bilang kalau dia capek sekali setelah jalan-jalan kemarin. Untungnya, dia masih bisa menemani saya mengerjakan kerjaan itu hingga tengah malam. Saya sempat bercanda, sepertinya kalau nanti kami satu kantor pun rasanya tidak akan ada masalah.
Oh, iya, pagi ini saya mengisi KRS. Hanya denga rebahan di kasur teman, saya sudah mengisi semua mata kuliah dan memilih kelas yang tepat untuk semester lima nanti. Sayangnya, ternyata saya hanya mengambil tujuh matkul di semester ini, 20 SKS. Berbeda dengan teman-teman saya yang mengambil hingga delapan mata kuliah atau 23 SKS. Padahal, saya sudah melakukannya sesuai standar. Dan ketika saya menanyakannya di grup angkatan, setidaknya ada tiga orang teman yang juga mengambil tujuh mata kuliah. Syukur alhamdulillah, saya tidak sendirian.
Tapi eman dong, kalau enam juta UKT saya per semester hanya untuk tujuh mata kuliah. Untuk itu, saya mengirimkan pesan melalui e-mail kepada dosen PA kesayangan kami semua, Bapak Hatib abdul Kadir untuk mengajukan permohonan menambah mata kuliah. Tapi dari semester tujuh, bukan dari semester lima karena saya tidak tertarik dengan mata kuliah pariwisata. Kalau dibolehkan, saya akan mengambil maya kuliah masyarakat marjinal. Jadwalnya sudah saya cek, dan ternyata tidak berbenturan dengan kelas lain karena kelas pagi. Wkwkw
Kalau ga dibolehin, ya udah ga papa.
Saya juga berencana untuk menyelesaikan kelas Coursera yang saya ambil namun saya hentikan di tengah perjalanan. Entah ya, saya ingin mengambil kursus-kursus bahasa Inggris (bukan berbahasa inggris, karena memang semua kursus yang saya ambil seperti itu), sehingga ketika akan ujian TOEFL untuk prasyarat kelulusan saya tidak terlalu kesusahan. Tapi, sebelum mengambil kursus baru, alangkah baiknya jika saya menyelesaikan apa yang telah saya mulai. Begitu, kan?
Okelah. Cukup sampai sini saja hari ini. Saya akan bercerita lagi ketika saya punya cukup ide dan kemauan, dan saya tidak didikte siapa pun kecuali oleh sebuah kewajiban.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?