Korban Perang Akan Selalu Menuntut Keadilan


Halo teman-teman. Kembali lagi dengan saya, Fariduddin Aththar di blog pribadi saya, The Other Human Project. Buat para pembaca baru, selamat datang. Selamat menikmati bacaan-bacaan kurang apik yang selama ini saya tulis untuk kesenangan pribadi. Hari ini, setelah lama tidak saya lakukan, saya akan mengulas salah satu majalah yang secara rutin saya beli setiap bulannya. Ya, apalagi kalau bukan National Geographic Edisi Agustus 2020. So, 

welcome to another Review Buku!!!

Pandemi belum berakhir. Perang terhadapnya sudah memasuki bulan kesekian, yang saking lamanya, membuat kita samar-samar mengingat: ini hari apa? tanggal berapa? Ini sudah Agustus, ya? Kok cepet banget? Sajian utama dari Natgeo edisi bulan ini adalah tentang sejarah pagebluk: wabah yang menyebar melewati batas teritorial negara, antar-pulau dan antar-benua, seiring terbukanya seluruh dunia dalam naungan globalisasi.

Richard Conniff dan Brendan Borrell berkolaborasi menampilkan sejarah pandemi umat manusia. Ia membaginya hingga tiga bab: penemuan obat wabah jauh sebelum vaksin oleh seorang pendeta, bagaimana wabah mengubah peradaban, dan teori kuman yang membantu pengungkapan wabah menjadi lebih mudah. Selain itu, kontribusi keduanya juga tersedia dalam bab-bab kecil berisi wabah yang pernah atau hingga saat ini masih terjadi, laporan pertama Covid-19 ditemukan di kapal pesiar, dan tokoh-tokoh yang berperan penting dalam situasi mengerikan.

Untuk itu, kita musti memanjatkan rasa syukur, sembari berterimakasih kepada mereka.

Sajian utama di bulan ini hanya dua. Selain pandemi, ada pula kisah-kisah tentang "ianfu" yang terus menuntut keadilan kepada penjajah, namun tidak didukung oleh negara. Eka Hindra mewawancarai beberapa di antara mereka yang masih hidup, dalam jeratan kemiskinan dan steriotip buruk akibat pernah dijadikan pemuas nafsu oleh tentara Jepang. Sayangnya, langkah advokasi mereka tidak didukung oleh negara. Meski mendapat kompensasi, uang penjajah itu tidak mengalir ke kantong mereka.

Masalah perang, saya selalu setuju dengan pendapat Yuval Harari. Dalam Sapiens, ia tidak hanya menolak ide kelangkaan sumber daya alam, tetapi juga keberlangsungan perang: masih adakah negara yang hendak berperang di masa damai seperti ini? Ketika ongkos persenjataan semakin tinggi, dan sumber daya manusia terus dibutuhkan. Namun, kekuasaan junta militer di berbagai dunia sedang bergejolak. Indonesia, sebagai salah satu negeri demokrasi dengan militer menguasai berbagai lini bidang, akan sampai pada waktu ketika semua dinamika itu akan terjadi.

Maka, jangan sampai ada perang. Karena korbannya akan selalu menuntut keadilan. 

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir