Tarung Kubur: Maghrib


Sore ini Malang hujan. 

Awan mendungnya sudah hadir sejak tadi pagi, ketika aku dan temanku menyadari bahwa matahari tak tampak, cahaya redup-redup datar, mengenai kami yang sedang bermain bulu tangkis. Langit semakin gelap di siang hari, lalu tumpahlah isi langit ke wajah bumi: derasnya terdengar hingga ke dalam kamar, tempat aku bermimpi tentang masa-masa dahulu. Masihkah kau ingat?

Ya. Dahulu kau memarahiku: aku pulang dari pesta seorang teman. Ia mendapatkan nilai yang bagus dalam salah satu materi perkuliahan yang dibawakan oleh dosen killer eksentrik. Lelaki itu kemudian mengundang kami untuk minum-minum sedikit, dan hanya akulah yang benar-benar minum sedikit. Kau tahu, aku tidak banyak minum. Pencernaanku sudah buruk sejak lahir, dan aku tidak mau membuatnya semakin parah. Aku memesan yang ringan-ringan saja, dan itu adalah jus lemon bersoda.

Tapi aku pulang dalam keadaan tak sadar. Bukan, bukan karena seorang teman lain memaksaku minum segelas-dua gelas, tapi kepalaku yang begitu pusing saat itu. Musik yang keras dan permainan yang ramai memperburuk keadaan. Kepalaku bergoyang, maju mundur dengan mata yang berusaha terbuka. Aku tidak berkonsentrasi pada obrolan-obrolan santai atau pembicaraan serius antara sepasang kekasih yang berdebat tentang hubungan mereka. Dalam suatu percakapan, aku terjatuh ke belakang dengan kepala membentur lantai.

Langit-langit bar itu, adalah pemandangan terakhirku.

Selanjutnya kau menemukan diriku tidur dengan pulas di depan pintu. Ternyata seorang teman mengantarku pulang dengan taksi, lalu membiarkan aku tergeletak begitu saja di lorong apartemen. Aku ingat ceritamu -tentang kau yang kaget, lalu panik akan keadaanku. Kau kira aku mati, tapi aku hanya pingsan, hahahah (kau pasti tidak akan tertawa). Lalu kau membuka apartemen, mengangkat tubuhku ke sofa, dan memanaskan air untuk membuat coklat hangat.

Ketika sadar, aku melihatmu sedang memarahi teman-temanku di telepon, "Jangan ajak dia lagi! Dia sedang tidak enak badan, apalagi untuk bepergian jauh ke rumahmu." Aku yakin temanku di seberang membela diri, bahwa ia tak tahu sama sekali tentang keadaanku. "Dia memang tidak suka banyak bicara, apalagi tentang kesehatannya. Lain kali kau harus menelfonku dahulu sebelum mengajaknya." Pembicaraan panjang itu selesai, dengan matamu yang kaget melihatku sadar. Kau buru-buru mematikan kompor, menuangkan air panas ke cangkir kecil, lalu mendatangiku, "Bagaimana kabarmu?"

Aku menerima cangkir itu, duduk dengan sedikit tegak, namun tetap bersandar di sofa. "Tenggorokanku sedikit panas. Bolehkah aku meminta air putih dahulu?" Kau menggeleng, lalu memintaku meminum itu dahulu. Aku menghisapnya sedikit, dan akhirnya merasakan panas yang amat sangat di tenggorokan. Kau memegang dadaku untuk meyakinkanku, bertanya-tanya apabila aku secara tak sadar meminum satu atau dua gelas alkohol, "Tidak. Teman-temanku tidak sejahat itu." Aku berjuang keras mengatakannya, hanya untuk menyelamatkan mereka.

Lalu kau mengangkat kedua pundakku, dan membawaku pada wastafel di dekat pintu kamar mandi. Aku selalu senang melihat desain kamar mandi, kau tahu. Ia terlalu modern dengan warna putih di seluruh keramiknya dan deadunan di sekitar cermin setengah badan. Kau yang meminta, setelah aku memaksa desain sederhana pada seluruh ruangan apartemen. Di wastafel, kau memaksaku muntah, dan menepuk pundak. Aku hanya bisa batuk-batuk dan sedikit meludah.

Pagi itu, kau juga baru pulang dari rumah seorang teman. Setelah sama-sama di atas kasur, kau bercerita banyak tentang temanmu yang hidup bahagia dengan suaminya, sembari membandingkannya dengan kehidupan kita. Ah, kau memang putri ibumu. Kau tidak bisa lepas dari perangainya yang menyebalkan itu setiap kali aku bertamu. Lalu kau bertanya, dengan pertanyaan yang sama -setidaknya dua atau tiga kali dalam sebulan- tentang, "Kapan kita menikah? Secara resmi, dengan orang tuamu dan orang tuaku bertemu tanpa menyebut musuh?" Aku lagi-lagi mengangkat pundak, dan kau membuka kacang selanjutnya, yang sejak tadi kau makan di atas kasur.

*****

Setidaknya kini kita berpisah. 

Kau tidak perlu bertanya, dan aku tidak perlu menjawab dengan gelengan kepala. Kita tidak mungkin menikah, dan bukan hujan sore ini penyebabnya. Dua bulan yang lalu, hari ini, kau menabrakkan diri pada kereta, seolah kisah lama yang tidak lagi didengar anak-anak kecil di masa ini. Keluargamu bangkrut, dengan utang yang meninggi dan kau mau tidak mau harus berpisah dariku. Di hari itu, kau tak mengirim kata-kata sebagai pesan, melainkan sebuah emoji kecil yang tertawa bahagia sampai menangis di kedua ujung mata. Kukira kau menertawakan takdir. Namun ternyata kau menemuinya dengan tragis.

Kalau kau ingin kabar gembira, aku akan memberimu satu saja: aku sudah mendapat kekasih. Ia seorang wanita baik yang menjaga akhlak dan penampilannya, namun tetap sedikit keras ketika dia tahu aku melakukan perbuatan dosa. Aku akan mengenalkannya padamu lain kali, dalam keadaan yang lebih baik dan kekuatan yang lebih cukup untuk melupakanmu. Apakah ia lebih baik darimu? Aku tak tahu. Kalian sama-sama baik, tapi kau suka makan di kasur, yang mana sangat tak kusukai.

Maaf, teleponku berdering. Aku harus mengangkatnya.

"Ya, ayah." Ini ayahku, kau dan keluargamu mengenalnya. "Aku masih di makam besar. APA? IBU MENINGGAL? Kapan? KENAPA?" 

*****

Lelaki itu menangis sejadi-jadinya. Seorang arwah di depannya hanya bisa memandang, dengan duduk di kursi yang sama namun tampak lebih basah. Sosoknya adalah wanita, dengan nama yang sama: yang disebut lelaki itu dalam cerita-ceritanya, dan juga di nisan putih yang tertulis jelas. Arwah itu hendak bergerak, namun tak bisa. Ia tahu semuanya akan menjadi percuma, manakala ia menyentuh kembali lelaki itu: ia tak bisa pergi dengan tenang ke surga, dan kekasih hidupnya tak mampu melupakannya. Dan keduanya akan berakhir dalam neraka kenangan. 

Oleh karena itu ia mundur, memantapkan posisi duduk di kursi tadi. Sejak awal, ia tahu lelaki ini akan datang, oleh karena itu ia bangun dari tidurnya di taman surga, lalu mendengarkan ceritanya di alam dunia. Lelaki itu tetap sama sejak terakhir kali bertemu, dengan kacamata tergantun di dada dan pundak yang menunduk turun. Lelaki itu membawa kursi sendiri, sebuah kursi lipat berwarna coklat dengan bantalan hitam di atasnya. Mungkin ia datang dengan motor atau salah satu mobil yang diparkirkan di sekitar makam. Meskipun sudah mati, perempuan itu tak tau. Sebagai arwah pengetahuannya juga terbatas.

Dan akhirnya, lelaki yang baru saja tersungkur mendengar kematian ibunya itu bergerak. Ia tetap menangis, namun tangannya cepat-cepat menyeka air mata. Tangan kirinya memasukkan ponsel ke saku kiri, lalu mengambil payung yang jatuh. Pakaiannya kini basah semua, secara paripurna luar dan dalam. Lelaki itu menggigil sambil berdiri. Hidungnya mencoba bernapas, lalu dengan wajah dan mata yang tegas, berbicara, "Ratna, apakah kau bertemu dengan ibunda?"

Arwah wanita itu berdiri. Ia tak tahu maksud sang lelaki, dan berusaha merespon meskipun pada akhirnya lelaki itu hanya memandang kuburan-kuburan lain yang terbentang menjadi makam, tak bisa melihat maupun mendengarnya sedikitpun. "Apakah kau bahagia, Ratna? Apa kau bahagia?" Lelaki itu lagi-lagi berbicara, seolah-olah ia dapat melihat pujaan hatinya itu. "Ibunda kini tiada, dan kau dapat bercerita sepuasnya dengannya!" Wajah arwah itu terlihat bersedih, ia mengingat kembali sosok yang mendukung hubungannya dengan lelaki itu. 

"Kau pasti mau menemaninya, bukan?" Deras hujan berkurang. Tuhan di atas sana dan malaikat-malaikat yang mengelilinginya mungkin akan sangat mengingat momen ini: seorang lelaki yang berziarah menjelang maghrib, kuburan yang basah, dan penghuninya yang keluar hanya dengan nyawa. Ketiganya tidak dapat berinteraksi nyata, namun mereka bersikap seolah-olah nyata. Lelaki itu berbicara pada kekosongan, kuburan itu hanya diam menyimpan jasad, dan wanita yang menunggu waktu untuk pergi ke surga. Dan lelaki itu, kini, dari saku kanan celananya, mengeluarkan sebilah pisau tajam.

"Kalau kau memang bahagia bertemu dengan Ibunda, Ratna, maka aku juga akan menemui kalian berdua." 

Dan tepat ketika lelaki itu mengarahkan pisau ke perutnya, arwah wanita itu maju, tangan kanannya memegang erat sang lelaki, dan hukum metafisika bereaksi di sekitarnya. Angin membawa awan mendung menjauh, membiarkan langit memperlihatkan langit merah di Barat. Sang lelaki itu kini dapat melihat kekasihnya, begitu pula sang arwah yang mampu merasakan sentuhan fisik kehidupan. Keduanya begitu dimabuk cinta, hingga tak sadar sang kubur yang memisahkan tempat mereka berdiri, kini membuka diri, lalu menelan keduanya dalam kebersamaan.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir