Bertemu Agung Arjuna: Dia yang tinggal dalam hatiku


Apakah aku pernah bercerita tentang Agung, seorang teman lama yang selalu mengawasiku namun jarang kujumpai? Ah, aku ingin sekali bertemu dengannya. Secara fisik, dia memiliki postur tubuh yang didambakan semua laki-laki termasuk diriku. Ia begitu gagah, berkulit coklat tegas, seolah-olah warna itu hanya satu-satunya dan tidak diciptakan untuk kulit manusia maupun makhluk lain. Matanya tajam, namun juga membantunya tampak bodoh ketika tidur atau melamun. Daging-daging di seluruh tubuhnya padat, seakan-akan ia melatih fisiknya sepanjang waktu. Kalau ada waktu, aku akan berjumpa dengannya dan menceritakan kabarnya kepada kalian.

*****

Aku tak ingat kapan pertama kali kami bertemu. Ingatan itu sebenarnya ada, namun samar-samar seperti Pulau Bawean yang menurut Mardi tertutup kabut. Ketika malam, ia muncul sangat dekat, namun dapat dilihat dari jarak jauh ketika siang hari. Ingatan itu dihajar berbagai ombak kenangan lain yang tak kalah kuat dan menyenangkan. Namun, karena ingatan itu adalah pulau, ia tetap dapat dikunjungi. Ada alam yang menjaganya, ada Tuhan yang memberkatinya.

Kira-kira ketika aku duduk di kelas akhir SMP. Beberapa kali aku mengalami ketindihan, yang menurut teman-teman sekitar, disebut ap-saap. Kejadian itu tidak sering, namun cukup mengganggu. Teman-teman yang kuceritakan keresahanku menyebutku kurang berdoa, padahal kita semua berdoa dan membaca kitab suci bersama-sama di asrama. Ada juga yang memberiku nasihat untuk lebih tulus berdoa, memaafkan orang lain yang menjadi musuhku pada hari itu, sebagaimana sikap sahabat nabi yang dijamin masuk surga padahal ia tidak memiliki amalan khusus. Beberapa teman lain memberikan saran tidak masuk akal, tapi lebih banyak yang tidak peduli dan menjadikannya bahan bercanda.

Seorang teman menganjurkanku untuk pindah kamar. Wah, boleh juga, timpalku. Aku pun mengajukan perpindahan kamar kepada pengurus asrama, dan perizinanku membutuhkan waktu. Setelah dua hari, izin itu keluar, dan aku langsung pindah kamar tak lama kemudian. Beberapa teman membantu membawakan barang dan lemari. Dalam satu jam, proses pindah kamar itu selesai. Malamnya, aku tidur di kamar yang berbeda, dengan harapan tidak lagi ap-saap. 

Namun hal itu terulang kembali.

Dua hari setelah pindah, kejadian yang sama terulang. Aku bahkan belum tidur, masih menatap langit-langit sambil memikirkan buku yang ketika itu baru saja kubaca. Dan ketika kantuk mulai datang, aku ketindihan. Pengalamannya sangat nyata: bagaimana sekujur tubuh kaku dan tidak dapat digerakkan. Aku mencoba bersuara, namun tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutku. Temanku sedang konsentrasi membaca buku, dan ia tidak melihatku sama sekali. Pikiran sadarku mencoba berpikir lebih keras. 

Ah, iya. Mataku masih dapat melihat, dan ini bukan mimpi! Aku hanya dapat menggerak-gerakkan bola mata, bukan kelopak mata atau pun alis. Anggota tubuh lain yang dapat kugerakkan secara sadar adalah lidah, namun ia hanya menggeliat tanpa tujuan dan tidak mampu membantu sama sekali. Akhirnya aku pun menyerah. Aku pasrah dalam keadaan tertindih, lalu perlahan kelopak mataku menutup. Saat itu, aku mencoba menghitung maju dimulai dari angka satu. Kesadaranku perlahan kembali, tepat setelah tujuh belas detik.

"Mas, Mas," kataku memanggil Dimas yang sibuk membaca buku. Ia menoleh dan melihatku terengah-engah.

"Kenapa, kamu?"

"Kamu gak liat?"

"Liat apa?"

"Saya ap-saap tadi."

"Oh ya? Gak tau saya. Kok gak ada suaranya?"

"Ya gak ada suara lah mas, wong saya gak bisa bicara."

"Lah, biasanya bersuara tau, kaya ndesah, atau ngerasa kesiksa gitu. Kamu gak ada?"

"Saya sadar, Mas. Tapi gak bisa bicara. Beneran!"

"Wih ngeri juga, padahal kamu baru pindah ke sini."

"Anjir, kenapa lagi ya?"

Malam itu aku tidur agak terlambat. Dimas, nama teman yang tidur di sebelahku berbantal buku itu, adalah teman sekelas. Esoknya ia bercerita kejadian yang menimpaku pada teman-teman kelas lain. Maka muncullah berbagai konspirasi: antara kamar baruku yang berhantu, atau aku yang memang diikuti. Tapi aku mengelak. "Gimana ceritanya, wong saya sadar dan gak ngeliat ada hantu yang nindih." Penjelasan yang lebih saintifik tapi tanpa dasar aku ajukan, "Ini tuh cuma respon psikologis tubuh kalo orang stress dan banyak kerjaan. Sama kaya mimpi."

"Eh, tapi mimpi sering terjadi lho, beda sama ap-saap. Hantu itu mah."

"Ya karena sering dianggep wajar."

"Dan ap-saap efeknya bikin tidur kita gak nyaman. Semacam mimpi buruk level dua." Mendengar argumen ini, teman-teman yang lain mengangguk. Aku juga turut mengiyakan, mengingat dampaknya yang menyebalkan: sesak napas setelahnya, tekanan psikis, dan lain sebagainya. Setelah diskusi itu, bel sekolah berbunyi. Kami duduk teratur sembari menunggu wali kelas datang. Beberapa hal masih ada dalam pikiranku, tentang bagaimana fenomena ap-saap ini masih dapat dianalisis... 

Ini bisa diteliti secara saintifik!

*****

Kisah pertemuan pertamaku dengan Agung tinggal sedikit lagi.

*****

Sudah dua bulan sejak saya pindah kamar, dan keadaan belum membaik. Aku sendiri sudah terbiasa dengan ap-saap yang mendatangiku dua hingga tiga kali dalam seminggu. Pernah pada suatu waktu aku hanya mengalaminya sekali dalam seminggu, hingga aku senang sekali! Namun itu tak lama. Mungkin aku merasa sudah sedikit terbiasa, tapi tetap saja tidak nyaman. Lalu aku terpikirkan bagaimana jika aku memasuki kondisi ap-saap itu secara sadar, bukan karena terpaksa masuk tanpa kesadaran. Itu mungkin pikiran teranehku, tapi aku mencobanya sekali.

Dan berhasil!

Hal itu terjadi di akhir pekan. Kami semua libur dan bebas melakukan kegiatan apa pun selama tidak keluar wilayah asrama. Setelah melakukan rutinitas bersih-bersih asrama, teman-teman pun meluncur ke lapangan besar, berebut wilayah untuk mendapat tempat bermain bola. Aku sendiri memilih berdiam diri di asrama. Olahraga bukan bakatku, kecuali pada permainan individual seperti lari maraton, berenang, dan lainnya. Pagi itu aku membuka lemari, menata pakaian dan buku yang saling bertumpuk satu sama lain. Hasilnya, beberapa buku lama kutemukan kembali, dan selembar-dua lembar uang keluar dari saku. Merapikan lemari memang cukup merepotkan, tapi inilah yang harus dilakukan manusia modern.

Setelah selesai, aku melompat pada tumpukan kasur di pojok ruangan. Aku telentang menghadap langit-langit yang sedikit berdebu, meskipun sudah berkali-kali dibersihkan. Agak memojok, ada lumut yang berkumpul pada sumber air yang mengalir karena lantai tiga yang bocor. Meskipun tidak banyak, tetapi kebocorannya tetap mengganggu ketika turun hujan. Kamar kami kadang kala banjir, dan lemari di dekatnya basa kuyup. Teman-temanku memprotes pada pengurus asrama, namun tidak digubris. Perjuangan bocah tingkat SMP memang sedikit sulit.

Maka, ketika telentang di atas tumpukan kasur itulah, aku mencoba sedikit keberuntungan. 

Aku memusatkan pikiran. Merilekskan tubuh dan menghilangkan ketegangan. Punggungku ditelan tumpukan kasur yang cekung ke dalam. Kedua tangan dan kakiku terjulur lemas, mengarah ke luar kesadaran. Sedikit demi sedikit aku menghilangkan pikiran sadar, dan tertidur lemas.

Namun yang tertidur hanya tubuhku!

Kesadaranku kembali dan melihat bagaimana tubuhku kaku, tak bisa bergerak. Aku mencoba menggerakkan jari tangan dan kaki, dan keluar dari tumpukan kasur yang menelanku hidup-hidup. Tapi tetap saja, semuanya tidak bisa. Yang dapat kulakukan adalah menggerakan bola mata dan lidah, lalu berteriak sekuat tenaga. Apa yang kulakukan lagi-lagi percuma. Aku ditelan oleh perbuatanku sendiri yang mencoba memasuki alam baru hanya dengan rasa penasaran dan sedikit persiapan. Dalam film-film tentang penjelajahan dimensi dan waktu, bocah seperti diriku ini adalah pelopor yang menjadi martir atas ilmu pengetahuan.

*****

Dan gerbang itu terbuka.

*****

Lelaki itu terbangun. Ada cahaya yang menimpa wajahnya. Ia sedang duduk dalam ruangan luas yang penuh genangan itu, menundukkan wajah dengan mata mengantuk, karena begitulah ia mampu tidur di ruangan itu. Ia tidak berbaring, karena genangan air yang setinggi mata kaki. Ia hanya bersandar pada sebuah tiang, di antara tiang-tiang lain yang berdiri dalam kegelapan. Ia bisa menyentuh pangkal tiang itu, namun tak tahu setinggi apa ia menjulang. Dua bulan berada dalam kegelapan membuat ia bergerak ketika melihat cahaya. 

Maka, saat itu pula ia berdiri, dengan kaki kiri yang terpincang-pincang, dan ujung pedang menyentuh lantai. Ia merasa tak yakin, tapi penglihatannya memberikan gambaran sebuah gerbang cukup besar terbuka, agak jauh dari hadapannya. Kurang lebih sepuluh meter. Ia ingat dengan jelas bahwa tak ada hal lain di ruangan ini selain tiang, genangan darah, dan dinding tak berbentuk. Ia tidak menemukan jalan masuk atau jalan keluar. Gerbang di hadapannya, adalah sebuah anomali yang menjanjikan. Karena ia dapat pergi dengan melewatinya.

Ia memasukkan pedang pada sarungnya, mengibas-ibaskan baju dan celana, lalu merapikan rambut. Ia berjalan menuju cahaya, berharap gerbang itu tidak segera menutup. Dan ketika ia semakin dekat, ia berjalan semakin cepat. Dan ketika ia hendak menyentuh gerbang cahaya itu, sesuatu menabraknya dari arah depan...

BRAK!!!

Tubuhnya terpental, ia merasakan tubuh seseorang menimpanya dan terlempar ke belakang. Ia sendiri segera berdiri, berharap gerbang cahaya itu tidak segera menutup. Namun, ketika ia hendak mendekat, apa yang ia khawatirkan benar-benar terjadi. Gerbang itu tak ada lagi. Kilatan cahaya yang ia lihat menghilang, dan semuanya menjadi gelap seperti sedia kala. Genangan air di bawahnya beriak-riak, seiring dengan jalannya ke arah tubuh itu. Ia sangat yakin, lalu membalikkan tubuh yang tengkurap itu dengan satu kakinya.

Ia manusia. Seorang laki-laki muda. Umurnya mungkin dua puluhan, tidak lebih muda atau lebih tua jika dilihat dari wajah. Posturnya juga baik, tapi ia yakin postur tubuhnya sendiri yang lebih baik. Lelaki itu menyeret lelaki itu ke salah satu tiang, membuat gelombang air ke sekitarnya. Sebenarnya ia sedikit terhibur. Sudah dua bulan ia tidak melihat satu pun manusia, melainkan mengenang keberadaan kakaknya yang entah mencarinya atau tidak. Sepertinya ia tidak mencariku. Ia lebih peduli pada kekasih-kekasihnya. 

*****

Aku terbangun dalam kegelapan. 

Aku cukup yakin mataku terbuka, tapi yang ada di hadapanku adalah kegelapan total. Aku menggosok-gosok mataku, meyakinkan diriku akan kesadaran yang kembali dengan nyata. Apa yang kuingat sebelum ti..Oh, iya. Aku mencoba masuk ke alam mimpi tanpa kehilangan kesadaran! Aku mencoba untuk berada dalam keadaan ap-saap tapi tetap sadar akan sekitar! Lalu di mana aku sekarang? Apakah aku berhasil? ATAU AKU MATI??? Aku bergegas berdiri dan mengecek di mana aku berada.

Aku tidak berada di kamar. Ini ruangan lain. Aku segera terbiasa dengan kegelapan yang sedari tadi membungkus ruangan ini. Ah, sebenarnya tidak terlalu gelap. Ada cahaya-cahaya vertikal yang ketika kudekati ternyata sebuah tiang kaca dengan sumber cahaya yang tak pasti: dengan sulur-sulur seperti akar tanaman merambat di dinding lembap. Selain itu, aku juga merasakan hal aneh di kakiku. Ruangan ini digenangi air, yang ketika kudekati, berbentuk sangat cair dan amis. Aku merendahkan kepala untuk mendekat, dan mencium ujung jariku yang basah...

Ah, INI DARAH!

Aku sedikit berteriak. Saat itulah aku mendengar langkah kaki lain mendekat, dan tak jauh dari tempatku berdiri, sosok lain muncul di hadapanku, "Kamu siapa? Ruangan apa ini?" Aku mengajukan berderet pertanyaan lain, sembari mundur untuk menjaga jarak. Beberapa temanku di asrama mengajarkan teknik-teknik dasar bertarung dan mempertahankan situasi. Tapi itu tak berguna. Di hadapan laki-laki ini, semua saran itu hilang digantikan ketakutan dan aku yang semakin terintimidasi. Ketika ia tepat berada di hadapnku dengan cepat, ia bertanya hal yang tak kusangka.

"Jadi yang menggenang di lantai ini benar-benar darah?"

Aku mengangguk. Aku mencoba meyakinkan lelaki itu dengan menyuruhnya untuk menciumnya sendiri. Tetapi lelaki itu menolak. Alih-alih mengikuti saranku, ia malah berbicara tentang hidungnya. "Ah, benar. Mungkin indera penciumanku sudah rusak." Lalu ia memperkenalkan diri. Sebagaimana yang kusebutkan di awal, namanya Agung. Ia mengaku sudah terjebak di sini selama dua bulan. Ketika aku bertanya bagaimana ia tahu perbedaan antara siang dan malam, ia tak yakin. Ia hanya merasa bahwa ia terlalu lama berada di sana dan ia asal menyebut angka. 

"Hmm..lalu kamu ngapain aja selama ini?" aku mencoba bertanya. Terlalu banyak hal yang perlu ia jawab dan aku merasa tidak nyaman. Ia pun mengajakku untuk duduk di tiang tadi, tempat aku melihat sulur-sulur cahaya kecil. Dari pinggangnya, aku melihat sebilah pedang, dan ia menjelaskan tentang kehidupannya selama ini. Ia adalah petarung. Di kotanya, ia direkrut untuk menjadi tentara muda, yang kemudian akan turun lapangan ketika umurnya cukup. Namun, banyak hal terjadi sehingga hal itu tidak mungkin lagi. Beberapa alasannya, adalah karena kotanya yang melawan pemerintahan.

"Aku memakai waktuku selama terjebak di sini untuk berlatih." Setelah ia bercerita, ia memintaku untuk bercerita juga, dan bagaimana aku ikut terlempar ke sini -Ia melihatku terlempar dari sebuah gerbang cahaya, makanya dia menggunakan kata itu. Setelah kuceritakan, kami sama-sama berpikir tempat macam apa yang kami datangi ini.

"Ini bukan tubuhmu, kan?" Aku mengajukan pertanyaan asal.

"Ha? Tubuhku?" Ia menoleh, menatapku dengan ekspresi, pemikiran macam apa itu?

"Ya. Tubuh." aku pun bercerita tentang sebuah kisah lama tentang bagaimana satu tubuh berisi dua nyawa, atau pun manusia yang punya kemampuan untuk masuk ke tubuh orang lain.

"Legenda dari mana itu?"

"Hei, itu kisah manusia di seluruh dunia. Bukan kisah dari suku atau daerah tertentu. Setidaknya aku sudah membaca 25 versinya. Kau tak tahu?"

"Tidak. Aku tidak pernah tahu."

"Tapi kemungkinan itu yang paling tepat."

"Jadi, kamu mikir..."

"Ya. Kamu masuk ke tubuhku."

"Hei, untuk apa? Apa keuntungannya?"

"Hmm, aku tidak tahu. Dari kisah-kisah yang kubaca selama ini, tidak ada tujuan khusus yang perlu dijalankan. Lagipula, tidak semua orang senang dengan keadaan seperti ini."

"Jadi, ini mirip jinchuriki, gitu?"

"Nah, iya. Jinchuriki. Kamu baca Naruto juga."

"Ya iyalah. Cerita kamu cuma yang gak masuk ke kota saya."

Kami terdiam. Selang beberapa waktu, kami sama-sama bertanya, "Lalu bagaimana?"

*****

Pada akhirnya, Agung adalah sosok yang membantuku selama masa-masa sulit.

Kami belum menemukan bagaimana caranya agar ia dapat keluar dari sana, dari ruangan penuh darah dan tiang bercahaya. Ruangan itu, adalah sudut hatiku. Agung baru menemukan sedikit bagiannya, dan masih berusaha mencari pintu keluar. Aku sendiri berhasil keluar setelah teman-temanku membangunkan dari luar, dan jiwaku tertarik sangat cepat. Dalam beberapa kesempatan, aku mencoba masuk kembali, menemui Agung yang berlatih dengan pedangnya sendirian tanpa teman. Namun, kemampuan itu tidak selalu berjalan dengan baik. Kadang aku tidak bisa masuk, kadang aku kesulitan keluar.

Dalam beberapa pertarungan yang aku jalani, Agung menjadi kunci yang muncul ketika aku tak sadarkan diri: ia akan mengambil alih tubuhku, bertarung dengan segala kemampuannya, lalu kembali ke dalam ruangan itu. Ia sebenarnya tak ingin kembali, namun itulah yang terjadi. Ia ditarik ke dalamnya tanpa dapat menolak, seolah terkunci di sana selamanya, dan hanya tubuhkulah yang menjadi medium dia keluar dan merasakan nikmat duniawi. Aku sendiri mencari cara untuk melepaskannya, karena aku tak yakin ini adalah takdir yang baik: Agung ingin terbebas, dan aku akan membantunya.

Itu adalah pertemuan pertama kami, nanti aku akan melanjutkannya.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir