Memilih Lagu Favorit di Album Terbaru Asking Alexandria


Sudah enam hari sejak dirilisnya album terbaru Asking Alexandria, Like a House on Fire, pada 15 Mei lalu, namun saya sudah memantapkan hati memilih satu lagu favorit dalam album ini. Biasanya, saya butuh satu minggu untuk mereiview albumnya, baru satu bulan kemudian memilih lagu favorit di dalamnya. Namun, untuk kali ini, saya tidak membutuhkan waktu yang lama. Akun instagram resmi AA mempublish foto seorang perempuan asal Inggris bernama Grace Grundy yang berduet dengan Danny Worsnop, menyanyikan sebuah lagu berjudul I Don't Need You. 

(maafkan saya yang luput mereview album terbaru The Federal Empire. Rencana itu sudah ada, namun malah terhalang dengan adaptasi perkuliahan online dan tugasnya yang menumpuk.) 

Buat teman-teman yang belum tahu, saya baru saja patah hati (lagi). Seorang perempuan yang saya kenal dan dekat dengannya sejak liburan semester lalu hilang begitu saja setelah kami bertengkar hebat tanpa pertemuan. Nyatanya, ketiadaan pertemuan itulah yang dianggap sebagai faktor utama perdebatan kami, yang kemudian kisahnya saya tuliskan dalam "Saya Mengatakan Banyak Hal ketika Tidak Ingin Mengatakan Apapun." Silahkan membacanya, dan dari sana, Anda akan tahu bahwa lagu ini sangat relatable.

Tentu saja bagi saya pribadi.

Lagu itu sendiri berkisah tentang putusnya hubungan emosi yang sangat mendalam, diwakilkan masing-masing oleh Danny dan Grace, 

You can't say I didn't try
if I'm honest, I probably gave a little too much
been on the edge for a while
'cause I  promised that I would be

Saya dicap sebagai orang yang membosankan. Entah apa alasannya, mungkin karena saya tidak tertarik berbicara tentang hal-hal yang biasanya dianggap menarik: drama sosial media, pertengkaran artis, dan perdebatan populis. Alih-alih membicarakan hal-hal yang viral, saya lebih suka belajar. Ini bukan kesombongan: saya orang yang payah dalam akademis. Ketika kuliah atau membaca jurnal, saya cepat memahami apa yang menjadi substansi, namun kadangkala masih saja ada yang luput. Dan alih-alih membicarakan hal yang menarik bagi perempuan, saya sering kehabisan bahan obrolan di tengah jalan. 

You can say I wasn't good enough
but you know that doesn't change what really happened here
that i have grown
into someone you never thought I could

Di bagian ini, entahlah, saya juga tidak yakin: apakah saya berubah? Tampaknya tidak. Saya tetap menjadi orang menyebalkan yang lebih suka mandi satu kali sehari untuk mengurangi permintaan minyak sawit yang menghancurkan hutan Kalimantan. Saya tetaplah lelaki yang tidak mau membeli produk es krim Aice karena skandal buruh yang tidak tuntas-tuntas. Saya tetap menjadi pemuda yang melawan kebijakan pemerintah karena kurangnya riset dan transparansi. Intinya, saya tidak berubah.

Tapi yang pasti, dengan putusnya hubungan ini, dengan hilangnya ia dari keseharian, kecuali kenangan-kenangannya, saya tetap menjadi seseorang, yang, could walk away from it all, someone who could stand alone and be alright. 

(Saya melanjutkan tulisan satu bulan kemudian, setelah akhirnya saya menembak seseorang dan secara mengejutkan diterima dengan tangan terbuka, hahaha)

Secara pribadi, saya tertarik dengan komposisi lagu ini yang membawa penyanyi perempuan di dalamnya. Grace Grundy, penyanyi asal Inggris yang beberapa kali melakukan cover di kanal YouTube pribadinya diajak untuk berkolaborasi, ikut menyanyikan keputusasaan sebuah relasi cinta dari sisi perempuan. Tapi ia tidak benar-benar oposisi. Ide-idenya tetap sama, dan ia hanya menyumbang suara:

Hate to hear you doing fine/if i'm honest, i think about you all the time/but we left us behind/to find out what we could be/

Saya sendiri bertanya-tanya: apakah dia akan membenci saya? Saya tidak tahu. Kisah-kisah yang akhir-akhir ini saya tulis juga selalu tentangnya. Apakah...

Yeah, you brought out the worst of me/so I know: if I stay, then we would both drown/but now I've grown/into someone you never thought I could

Bagian ini mungkin tidak terlalu relate, tapi saya tetap setuju untuk kalimat kedua. Ah, saya terlalu banyak berpikir tentang masa lalu. Saya tahu itu baik, agar saya tidak mengulanginya di masa depan: saya setuju untuk mengurangi jumlah matkul yang saya ambil agar tidak terlalu capek dan fokus di melancarkan hafalan Qur'an, atau merutinkan diri untuk menulis di web UKM. Dalam urusan hubungan seperti ini, saya masih pemula: tidak banyak perempuan yang secara khusus pernah dekat. Hanya beberapa. Dan di bulan ini, saya memulai yang kesekian kalinya. 

Kembali ke Asking: album baru ini menawarkan lagu-lagu yang bagus. Komposisinya cukup berimbang, antara scream, pop, rock, dan metal. Selain I Don't Need You, saya juga cukup menyukai Down to Hell, dengan animasi standar 2D dan gothic-enough. Bagi teman-teman sesama AA Family, album ini tidak terlalu menghadirkan banyak perubahan, apalagi setelah Danny kembali dan Denis Stoff hengkang sebagai lead-vocalist. Saran saya, pilih lah satu lagu terbaik, dan masukkan ia dalam daily playlist-mu.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir