Sri Lanka dalam Pusaran Aksi Amal dan Isu Pembangunan


Agama, sebagai produk pemikiran manusia paling awal, menjadi motif dan alasan manusia dalam aktivitas apa pun. Baik atau buruk, manusia mendasarkan perilaku dan tindakannya pada agama, sesuai dengan interpretasinya masing-masing. Sedekah, atau perbuatan amal lainnya, yang mengharuskan manusia menyisihkan sebagian dari hartanya untuk sesama menjadi salah satu faktor penting yang dapat dipertanyakan: ia mengalirkan modal ke arus bawah, namun apakah pemberian itu diperlakukan sebagai modal? Atau hanya akan menjadi konsumsi kasar orang-orang miskin kelas bawah? Tim peneliti mencoba untuk melihat bagaimana aksi amal bertransformasi, melalui pemberi dan penerimanya, dan relasinya dengan pembangunan di Colombo, Sri Lanka.

Garis besar aksi amal, dalam suatu negeri di selatan Asia yang diwarnai bermacam-macam semangat spiritual, adalah agama. Ia memberikan motivasi yang sangat besar untuk manusia menyisihkan sebagain hartanya untuk kepentingan umat secara umum. Islam mengenal zakat dan sedekah, dua bentuk amal yang wajib dan sunah (disarankan), pemeluk Budha mengenal daane yang diberikan kepada biksu, dan penganut Kristiani melakukan derma. Pada dasarnya, semua itu adalah pemberian dalam arti yang paling sederhana, disalurkan melaui pusat-pusat keagamaan yang kemudian digunakan untuk kesejateraan umat. Namun, modernisasi membawa manusia tidak lagi berderma melalui rumah ibadah, ia juga disalurkan melalui lembaga-lembaga donor, dengan tujuan-tujuan tertentu, menyasar pada semangat atau tujuan yang sifatnya personal atau individual. Modernisasi menyediakan tempat bagi masyarakat untuk berderma di berbagai tempat. Transformasi aksi amal, tidak hanya institusionalisasi, tetapi pengelompokan yang lebih lanjut.

Aksi amal secara tidak langsung juga menciptakan relasi sosial: antara borjuis kaya yang menyumbang banyak uang, dan penerima bantuan berkelanjutan. Di sisi penerima, ia tidak akan terlepas dari relasi itu kecuali menyamakan kedudukan sosialnya. Ia terjebak dalam patron-klien, yang memaksanya untuk terus-menerus menerima bantuan, meskipun hal itu cukup baginya. Dalam konsep pembangunan, bantuan yang sifatnya berkelanjutan adalah pilihan terbaik, di mana masyarakat benar-benar berusaha untuk dirinya pribadi, tanpa harus bergantung terus-menerus. Nyatanya, tidak semua pendonor memperhatikan konteks sosial dalam beramal. Bantuan langsung tunai adalah plihan sederhana, dan mudah, namun berbahaya secara sosial: ia memaksa masyarakat untuk berperilaku konsumtif, bukannya produktif.

Komparasi studi yang dilakukan dalam kesimpulan oleh tim peneliti cukup membawa perbedaan dalam literatur antropologi yang saya baca selama ini. Ia memberikan gambaran besar di akhir, untuk kemudian mengkomparasikannya dengan literatur studi serupa. Namun, gambaran pembangunan yang abstrak tidak cukup dijelaskan. Apa yang hendak disampaikan dalam artikel ini sebatas transformasi aksi amal, lalu memperlihatkan berbagai bentuknya yang didasari berbagai motif. Pertanyaan saya cukup sederhana: apakah pembangunan benar-benar berjalan dengan amal pribadi? Ataukah hanya akan merubah sedikit demi sedikit?

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir