Seluruhnya di Laut
Colin Symes memilih mengarungi laut tidak bersama kapal penumpang, melainkan kapal kontainer yang membawa komoditas perdagangan bernama Debuffet, pada bulan Juli 2010, dari Sydney-Australia ke Philladelphia di Amerika. Di sana, ia ditemani 7 petugas, 15 kru kapal, dan hidup bersama empat penumpang lain. Ia mencoba melihat kehidupan yang empat orang itu jalani: berkenalan dengan mereka, makan malam bersama, dan menghabiskan waktu luang dengan wawancara. Hanya saja, mereka bukan cuma penumpang biasa. Salah satu dari mereka adalah peneliti juga, yang mencoba menuliskan pengalaman perjalanannya dengan tujuan yang sama.
Ketika mereka berada di lautan, tidak di kapal penumpang melainkan di kapal barang, apa yang mereka lakukan?
Pertanyaan sederhana itu menghasilkan jawaban yang bermacam-macam: penumpang dapat melihat kapal dalam kondisi "mentah"nya, bukan secara matang dan bagus seperti kapal pesiar. Satu-satunya hal menarik dari menaiki kapal kontainer adalah tidak ada hal yang menarik: mereka hanya melihat kapal biasa, dan karena tanpa atraksi atau hiasan berlebihan, hal itu memberikan perspektif baru. Mereka menikmati waktu yang berlimpah karena tidak adanya jadwal khusus untuk para penumpang. Mereka tidak berada di kapal pesiar yang terburu-buru untuk mengikuti satu atraksi demi atraksi, yang kemudian membuat mereka kehilangan waktu yang berharga untuk istirahat atau diri sendiri. Untuk itu, mereka menjadwal kegiatan mereka sendiri, mencari kesibukan di tengah-tengah waktu luang yang berlimpah, karena sebagaimana yang dikatakan salah satu penumpang, "tidak bekerja dan tidak melakukan apa pun jauh lebih buruk daripada bekerja." Perspektif yang sama selalu muncul dari pekerja harian yang terbiasa memutar otak dalam kegiatan sehari-hari.
Selain waktu tak terbatas dan pencarian kegiatan yang bermacam-macam, kehidupan para penumpang diungkap melalui kerangka teori mobilisasi: perjalanan yang sebenarnya dimulai sejak mereka melakukan perncanaan, dan ketika mereka mengakhirinya, itu adalah bagian "tengah' dari perjalanan. Karena, ketika mereka memulai kembali suatu perjalanan yang baru, mereka sekaligus menutup perjalanan sebelumnya. Dalam artikel ini, perjalanan adalah suatu hal yang terus terhubung, tidak terpisahkan dari roda kehidupa manusia. Bahkan, menulis laporan dan mempresentasikan perjalanan yang dilakukan adalah bagian dari perjalanan itu sendiri: ia masih terikat dengan memori dan garis waktu yang sama.
Selain mobilisasi, penumpang kapal juga melakukan imobilisasi, di mana mereka secara sukarela berada di suatu tempat, berdiam diri untuk kebaikan mereka sendiri. Imobilisasi adalah suatu hal yang wajar dalam perjalanan jarak kauh, semacam mobil, kereta, atau pesawat. Penumpang selalu bergerak (mobile) tetapi dibatasi (immobile) dalam ruang gerak yang mereka lihat. Hal yang sama tidak terjadi pada penumpang kapal, terutama kapal kontainer di mana mereka bebas untuk pergi ke mana saja bagian kapal berada.
Colin Symes berusaha melihat kehidupan yang berbeda dalam kapal kontainer yang bergerak antar-benua, dan ia mendapati itu: sutau kehidupan yang berlimpah dengan waktu, namun minim sumber daya. Hal itu menjadikan manusia berimprovisasi untuk selamat dari kebosanan, dengan mengerjakan segala hal yang sekiranya dapat dilakukan. Waktu berputar dengan lebih berantakan membuat penumpang merasa kehidupannya tidak teratur, namun berhasil menyelamatkan diri. Kehidupan di kapal kontainer, meskipun hanya satu bulan, merupakan pengalaman laut yang fantastis untuk dicoba.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?